Tim Mahagana UNAIR Bantu Korban Gempa Sulbar Bangun Pondok Belajar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
TIM Mahagana UNAIR melakukan pembangunan rumah belajar darurat bersama relawan lain di Sulawesi Barat. (Foto: Tim Mahagana UNAIR)
TIM Mahagana UNAIR melakukan pembangunan rumah belajar darurat bersama relawan lain di Sulawesi Barat. (Foto: Tim Mahagana UNAIR)

UNAIR NEWS – Setelah Kapal Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) bertolak ke Mamuju-Majene, Sulawesi Barat untuk menolong korban bencana gempa Bumi, selanjutnya tim Mahagana (Mahasiswa Tanggap Bencana) Universitas Airlangga menyusul untuk menyalurkan tenaga mereka sebagai bentuk kepedulian sesama manusia.

Tim Mahagana terdiri atas tiga mahasiswa. Yakni, Muhammad Arief Permana, mahasiswa Akuakultur 2018 Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), sebagai Penanggung Jawab; Nadya Noor, Fahira mahasiswa Manajemen 2019 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB); dan Hanna Illi Yani, mahasiswa Sastra Inggris 2019 Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Tim tersebut merupakan shift pertama yang berangkat pada (25/1/2021).

Arief menyebutkan, shift pertama akan menjadi relawan bencana selama 3 minggu. Ketika dihubungi UNAIR NEWS, ia bercerita di minggu pertama, tim bergabung ke posko NU (Nadhatul Ulama) Peduli di Mamuju bersama relawan dari Surabaya dan melakukan assesment data. Pada minggu kedua, tim merapat ke teman-teman RSTKA di Majene untuk bekerja sama dan membantu melakukan asessment di Majene.

“Kebanyakan pengungsi di Majene merupakan masyarakat yang terdampak di pegunungan. Karena epicentrum gempa berada di pegunungan bukan di laut,” kata Arief.

Selama melakukan assesment di Majene, tim melihat beberapa pengungsi di jalan. Diketahui mereka berasal masyarakat pesisir.

“Padahal mereka bukan yang terdampak, tapi mereka takut akan terjadinya tsunami akibat gempa bumi. Kami (Mahagana, Red) melakukan pendataan apa yang mereka butuhkan dan bagaimana kondisi mereka,” ungkapnya.

Kemudian, pada Minggu ketiga, relawan Mahagana kembali berangkat ke Mamuju untuk membangun Pondok Belajar Sekolah Darurat berukuran 14 x 7 m. Selain itu, akan dilakukan terapi kerja dalam bentuk pemberdayaan masyarakat.

“Berdasar assessment pertama kami di Mamuju, kondisi sekolah disana roboh hampir 90 persen. Atap sekolah hancur, hanya tersisa perpustakaan dan ruang guru,” katanya.

Bermula kondisi di sana, Arief bersinergi dengan RSTKA berkoordinasi dengan kepala desa, kepala sekolah, kepala dusun, dan dinas pendidikan mengusulkan untuk mengaktifkan kembali kegiatan belajar mengajar yang sempat terputus. Pembangunan Sekolah Darurat yang diresmikan pada Jumat (19/2/2021) merupakan hasil kolaborasi Mahagana dengan RSTKA dan hasil uang donasi.

”Bagaimana kalau misalkan kita bangun lagi untuk pondok belajar biar teman-teman bisa belajar kembali,” katanya.

Tim Mahagana sudah kolaborasi bersama dengan NU Peduli IKKMAPUS, Desk Relawan Sulbar, Celebes Bergerak, Walhi, DAU, SRPB Jatim, HIPGABI Jatim, serta Dinas Pendidikan Kota Mamuju. Ke depan, tim Mahagana akan berfokus ke pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

“Pendidikan bagi anak-anak sangat penting, karena masa tanggap darurat ini mereka terputus sekolah, tidak ada kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan ditujukan untuk para masyarakat yang sebelumnya bekerja dan trauma, serta saya berharap perlahan ekonomi masyarakat mulai bangkit,” pungkasnya. (*)

Penulis: Dimar Herfano

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

Feri Fenoria Rifai

Feri Fenoria Rifai

Leave Reply

Close Menu