Tingkat Keganasan Kanker Prostat pada Pria Berusia di Atas 50 tahun

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi kanker prostat. (Sumber: https://www.emc.id/)

Kanker adalah suatu kondisi dimana sel-sel dalam tubuh tumbuh secara tidak normal dan tidak terkendali serta menekan sel-sel normal. Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat prevalensi kanker pada semua umur sebesar 0,14% pada tahun 2013. Kanker prostat merupakan jenis kanker yang terjadi di kelenjar prostat dari sistem reproduksi pria, dan dapat menyebabkan kematian. Kanker ini muncul ketika sel prostat mulai bermutasi dan berkembang biak secara tidak terkendali. Manifestasi klinis dari kanker prostat meliputi masalah buang air kecil dan saat berhubungan seks (ejakulasi), disfungsi ereksi, disuria, nyeri tulang akut dan juga gejala lainnya. Namun, tanda-tanda ini hanya terdeteksi pada kanker prostat stadium lanjut.

Tidak ada gejala klinis yang muncul pada tahap awal kanker prostat. Kanker prostat hanya ditemukan pada pria karena wanita tidak memiliki kelenjar prostat. Secara global, diperkirakan kanker prostat menempati urutan ke-4 kanker paling umum pada manusia setelah paru-paru, payudara, dan kanker kolorektal dengan total 1,3 juta penderita. Angka kejadian kanker pada pria, kanker prostat menempati urutan ke-2 yaitu sekitar 13,5% setelah kanker paru-paru 14,5%. Pada tahun 2030 diperkirakan kejadian kanker prostat akan meningkat dengan bertambahnya jumlah penduduk dan perubahan struktur umur sedangkan angka kematian akan menurun yang disebabkan oleh beberapa faktor.

Diagnosis kanker prostat ditentukan dengan pemeriksaan colok dubur (Digital Rectal Examination, DRE), tes darah Prostate-specific Antigen (PSA) dilanjutkan dengan Transrectal Ultrasound (TRUS) dalam biopsi terpandu. Faktor prediktif untuk prostat positif dalam biopsi diamati dengan PSA dan DRE. Pada kebanyakan kanker prostat, peningkatan PSA dan kelainan pada pemeriksaan DRE akan menunjukkan hasil positif kanker prostat. DRE yang mencurigakan dicatat sebagai indurasi, nodul dan asimetri. Kadar PSA dapat diukur dengan Enzyme-Linked Immunoassay (ELISA), dan metode Chemiluminescent Microparticle Immunoassay (CMIA) atau pengukuran imunokromatografi dari sampel serum.

Analisa data kasus kanker prostat tahun 2018-2019 dari salah satu rumah sakit di Surabaya menunjukkan bahwa sebagian besar pasien yang menderita kanker tersebut berusia antara 61-70 tahun sebanyak 92 pasien (54.4%), 39 pasien (23.1%) berusia > 70 tahun, dan 38 pasien (22.5%) berusia 50-60 tahun. Dari kasus tersebut ditemukan sebanyak 17 kasus (10.1%) bersifat ganas (tipe maligna) yang sebagian besar terjadi pasa pasien berusia 61-70 tahun sedangkan yang bersifat jinak (tipe benigna) sebanyak 152 kasus (89.9%). Dari 17 kasus kanker prostat tipe benigna, mayoritas terjadi pada usia 61-70 tahun (7.1%), diikuti oleh pasien berusia di atas 70 tahun (2.4%) dan 50-60 tahun (0.6%). Beberapa literatur lain melaporkan bahwa kejadian kanker prostat umumnya dimulai pada umur 50 tahun. Menurut Siregar (2012), kejadian kanker prostat banyak terjadi pada kelompok usia 60-70 tahun (25.3%) dari 194 total sampel yang diperiksa. Selain itu, Solang (2016) juga melaporkan bahwa terjadi peningkatan jumlah kasus kanker prostat setiap tahun dari tahun 2013 hingga 2015 masing-masing sebesar 25.9%, 35.2%, dan 38.9% yang mana lansia merupakan faktor risiko yang signifikan dalam kejadian kanker prostat.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menyatakan kanker prostat jarang terjadi di bawah usia 40 tahun, tetapi kejadiannya meningkat pesat pada usia di atas usia tersebut. Sedangkan menurut data Surveillance Epidemiology and End Result (SEER), kanker prostat paling banyak ditemukan pada usia rata-rata 67.2 tahun. Peningkatan kejadian kanker prostat di usia tua berkaitan dengan degenerasi prostat sehingga sel prostat lebih rentan terhadap mutasi dan berkembang menjadi keganasan. Dari data tersebut juga diperoleh bahwa mayoritas pada tipe ganas ditemukan adenokarsinoma prostat, diikuti oleh karsinoma urothelial. Lima jenis kanker prostat yang berbeda adalah neoplasma granular, karsinoma urothelial, neoplasma skuamosa, karsinoma sel basal dan tumor neuroendokrin. Kanker prostat yang paling dominan diamati adalah adenokarsinoma (sebagai subtipe dari neoplasma granular, 95%) sedangkan jenis sisanya adalah karsinoma sel interstitial, karsinoma neuroendokrin atau sarkoma. Oleh karena itu, istilah kanker prostat mengacu pada adenokarsinoma prostat. Hasil analisa data di atas juga mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Solang et al, yang menunjukkan pada 23 pasien (100%) penderita kanker prostat ditemukan gambaran adenokarsinoma pada pemeriksaan histopatologi.

Penulis: Diyantoro

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini:

https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2020123012550409_2020_0820.pdf

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu