Uji Sitotoksisitas Biomaterial prekondisi Hipoksia pada Sel Punca Mesenkimal Gingiva dari Kelinci

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: liputan6com

Cobalt (II) chloride hexahydrate (CoCl2) merupakan bahan yang sering digunakan sebagai stimulator prekondisi hipoksia pada kultur sel atau dikenal sebagai Hypoxia mimicking agent (HMA). CoCl2 dapat merangsang keadaan adaptif dan menjaga stemness sel punca mesenkima (MSCs). MSCs adalah sel belum terspesialisasi yang dapat berdiferensiasi menjadi berbagai sel garis keturunan mesenkimal seperti osteoblas, adiposit, khondroblas. Selain itu, MSCs dapat meningkatkan proses penyembuhan luka melalui sekresi faktor pertumbuhan. MSCs dapat diisolasi dari berbagai jaringan seperti jaringan adiposa, tali pusat, dan folikel rambut. MSCs diisolasi dari daerah rongga mulut seperti sel induk pulpa gigi dari gigi sulung atau permanen dan sel punca mesenkim gingiva (GMSCs).

GMSCs adalah MSCs yang unik dan menawarkan banyak manfaat seperti prosedur isolasi invasif minimal, memiliki tingkat proliferasi yang baik dan berdiferensiasi menjadi garis keturunan osteogenik yang sesuai untuk rekayasa jaringan tulang karena mengekspresikan penanda molekuler tulang seperti core-binding factor subunit-α1, Bone alkaline phosphatase, osteopontin, osteonektin dan osteocalcin. GMSCs dapat bermanfaat sebagai terapi periodontitis kronis atau agresif, mencegah relaps ortodonti, osteomielitis rahang, osteoporosis, cedera saraf tepi. Meskipun CoCl2 telah lazim diberikan untuk kultur sel, biokompabilitas bahan ini harus diperiksa sebelum digunakan pada GMSCs. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji biokompabilitas CoCl2 sebagai HMA pada GMSCs Kelinci (Oryctolagus cuniculus) melalui uji sitotoksisitas.

Dalam penelitian ini, CoCl2 digunakan sebagai HMA yang menginduksi hipoksia pada GMSCs sebelum transplantasi GMSCs ke jaringan target. Uji sitotoksisitas dilakukan untuk menganalisis biokompatibilitas CoCl2 sebagai HMA pada GMSC. GMSCs yang hidup akan memetabolisme MTT berupa kristal formazan yang berwarna ungu (crystal violet). Variasi dosis CoCl2 diuji pada GMSCs yaitu dosis 200 µM, 150 µM, 100 µM, 75 µM, 50 µM, 25 µM. Kristal formazan ditemukan di GMSCs yang dikultur bersama dengan berbagai dosis CoCl2. Persentase viabilitas GMSCs setelah terpapar CoCl2 dalam berbagai dosis menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan homogen. Tidak ada perbedaan yang signifikan persentase viabilitas sel GMSCs antara kelompok dengan berbagai konsentrasi CoCl2.

Dalam penelitian ini, CoCl2 digunakan sebagai HMA yang menginduksi hipoksia pada GMSCs sebelum transplantasi GMSCs ke jaringan yang ditargetkan. Kristal formazan dibentuk di GMSCs yang dikultur bersama dengan berbagai dosis CoCl2. CoCl2 sebagai HMA memiliki banyak manfaat seperti murah, cepat, mudah didapat dan digunakan. CoCl2 dapat menginduksi kondisi hipoksia pada kultur sel seperti MSCs melalui hypoxia inducible factor-1α (HIF-1α). Dalam penelitian ini, kami menemukan bahwa berbagai konsentrasi CoCl2 tidak berpengaruh nyata terhadap persentase viabilitas sel GMSCs. Hasil penelitian kami didukung oleh penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa CoCl2 tidak bersifat sitotoksik pada sel punca pulpa gigi, sel punca tali pusat dan sel punca mesenkim adiposa (ADMSCs). Studi sebelumnya juga menyebutkan bahwa CoCl2 biokompatibel di ADMSCs. CoCl2 dapat mempengaruhi persentase viabilitas sel MSCs tergantung pada waktu pemaparan dan dosis. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa CoCl2 dengan dosis di atas 200µM dapat menghambat laju proliferasi MSCs. Konsentrasi akhir CoCl2 yang direkomendasikan untuk menginduksi kondisi hipoksia adalah 100 μM dengan waktu inkubasi selama 24 atau 48 jam. HMA memungkinkan peneliti untuk membuka lempeng kultur berkali-kali tanpa mempengaruhi kondisi hipoksia. Prekondisi hipoksia dari MSCs mungkin bermanfaat untuk memelihara kerapatan dan meningkatkan migrasi MSCs untuk meregenerasi jaringan yang terluka. CoCl2 sebagai HMA bersifat biokompatibel untuk digunakan pada sel punca mesenkim gingiva kelinci (O. cuniculus). Studi lebih lanjut masih diperlukan untuk menguji kegunaan CoCl2 in vivo.

Ditulis oleh: Alexander Patera Nugraha

Artikel secara lengkap dapat diunduh pada:

http://ijpronline.com/ViewArticleDetail.aspx?ID=19288

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu