Ekstrak Buah Jambu Bantu Pemulihan Paru Pasca Berhenti Merokok

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: popmamacom

Asap rokok terdiri dari campuran zat kimia berupa gas dan partikel terdispersi. Berbagai zat kimia telah berhasil diisolasi, yaitu 3000 senyawa pada daun tembakau itu sendiri, dan lebih dari 4000 senyawa pada asap rokok. Karbon monoksida, hidrogen sianida, dan nitrogen oksida adalah zat beracun berbentuk gas. Sedangkan nitrosamin dan formaldehida merupakan zat beracun yang mudah menguap dari asap rokok. Paru merupakan organ utama yang terpapar radikal bebas dari asap rokok, yang dapat menyebabkan kerusakan sel-sel saluran napas. Secara molekuler, radikal bebas dari asap rokok menyebabkan stres oksidatif epitel alveolar, menonaktifkan antiprotease, hipersekresi lendir, peningkatan masuknya neutrofil ke jaringan paru, dan peningkatan ekspresi mediator proinflamasi.

Sejak berapa lama sesorang merokok berkorelasi dengan angka kematian akibat penyakit paru obstruktif kronik. Perawatan yang tepat dapat mengurangi jumlah dan keparahan penyakit tersebut. Namun, hal itu tidak menyelesaikan penyebab penyakit karena perawatan tersebut hanya terbatas pada memperlambat perkembangan kerusakan paru-paru dan peradangannya. Penghentian merokok adalah satu-satunya cara yang efektif dalam memperlambat perkembangan kerusakan jaringan paru. Sayangnya, ini hanya dapat meredakan obstruksi aliran udara dan respon radang. Jaringan paru pada mantan perokok tetap akan memiliki kerusakan progresif fungsi pernapasan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kerusakan sel paru akibat merokok adalah akibat paparan radikal bebas yang terkandung dalam asap rokok yang menyebabkan stress oksidatif pada sel paru. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai efek antioksidan untuk mengatasi kerusakan jaringan paru akibat asap rokok pada model tikus.

Ekstrak buah jambu biji (Psidium guajava L) telah digunakan secara empiris untuk pengobatan tradisional. Ekstrak buah jambu biji diketahui mengandung flavonoid, tanin, dan minyak atsiri fenol. Senyawa flavonoid dalam ekstrak buah jambu biji adalah quercetin dan vitamin C, keduanya merupakan antioksidan yang kuat. Selama ini, belum pernah dilakukan penelitian untuk mengetahui khasiat ekstrak buah jambu biji untuk mengatasi pengaruh asap rokok pada sel paru, meskipun hanya pada model tikus. Oleh karena itu, tim peneliti yang terdiri atas Prof. Dr. Dewa Ketut Meles, drh., MS., Prof. Dr. Wurlina drh., MS., Prof. Dr. Imam Mustofa drh., M.Kes., dan Mentari Rachmawati Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga), mengadakan kerjasama penelitian dengan Dokter Niluh Suwasanti, Sp.PK. (Fakultas Kedokteran, Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya) dan, Dokter Desak Ketut Sekar Cempaka Putri (Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga / Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo, Surabaya). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian ekstrak buah jambu biji sebagai antioksidan untuk memperbaiki kerusakan kongesti alveolar dan penebalan alveolar paru, menurunkan kematian sel paru dan menurunkan kadar serum malondialdehida pada tikus yang terpapar asap rokok.

Prosedur eksperimental disetujui oleh Komisi Etika Penelitian, dengan sertifikat elaikan etika penelitian No 324 / HRECC.FODM / VI / 2020. Penelitian ini didukung oleh pendanaan dari Universitas Airlangga atas dukungan dana penelitian ini dengan Nomor Kontrak: 4 7070 / UN3.14 / PT / 2020. Penelitian ini dilakukan pada tikus putih yang terpapar asap rokok pada jaringan paru sebagai model.  Pemberian ekstrak buah jambu biji dilakukan setiap hari selama 44 hari. Selanjutnya semua tikus kecuali kelompok kontrol dipaparkan asap rokok elektrik dengan tembakau murni pada hari ke 15-44 dengan 20 kali hisapan setiap hari. Pada hari ke-45 semua tikus diterminasi untuk pemeriksaan kadar malondialdehida serum dan histopatologi sel paru.

Hasil penelitian ini membuktikan betapa berbahayanya paparan asap rokok pada sel-sel paru. Kerusakan sel-sel paru akibat paparan rokok meliputi peningkatan kadar malondialdehida dalam darah menjadi 2-3 kali lipat, kongesti alveolar paru delapan kali lebih tinggi, penebalan septum alveolar paru sepuluh kali lebih tinggi, kematian sekitar 50% sel paru yang terdiri atas kematian secara apoptosis empat kali lipat, dan kematian sel secara nekrosisi sebesar tujuh kali lipat lebih tinggi dibandingkan pada tikus normal. Perlu diketahui bahwa kadar malondialdehida merupakan indicator kerusakan dinding sel, semakin tinggi kadar malondialdehida menunjukkan semakin banyak sel yang mengalami kerusakan dinding selnya. Kongesti alveolar paru adalah suatu kondisi yang ditandai dengan gejala sulit bernapas akibat terjadinya penumpukan cairan di dalam kantong paruparu (alveoli). Artinya semakin tinggi kongesti alveolar paru akan semakin sulit bernafas.

Septa alveoli merupakan pembatas alveoli satu dengan yang lainnya. Septa alveoli dilewati oleh banyak jaringan kapiler darah yang mengambil oksigen untuk dialirkan ke pembuluh darah dan membuang karbondioksida untuk dikeluarkan melalui hidung pada proses respirasi. Dengan demikian penebalan septa alveoli paru akan mengakibatkan kesulitan pertukaran oksigen dan karbondioksida dalam paru. Kematian sel secara apoptosis adalah kematian sel terprogram untuk membuang sel yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh karena adanya beberapa macam kerusakan antara lain oleh paparan asap rokok. Sedangkan nekrosis adalah kematian sel akibat cedera oleh faktor-faktor eksternal antara lain paparan asap rokok yang menyebabkan kehancuran sel.

Pemberian asupan ekstrak jambu biji selama 44 hari menghasilkan perbaikan kerusakan-kerusakan sel paru tersebut. Konsumsi ekstrak jambu biji 11,34 mg / 200 g berat badan / hari (pada manusia dosis 11,34 mg adalah setara dengan 3,25 gram/kg berat badan) mampu memperbaiki kadar malondialdehida, kongesti alveolar, penebalan septum alveolar, kematian sel, apoptosis dan nekrosis kembali sama dengan pada tikus normal. Penemuan ini dapat memecahkan permasalahan bahwa berhenti merokok terbukti tidak mengurangi tingkat stres oksidatif. Pemberian ekstrak buah jambu biji dapat dijadikan alternative substitusi pengobatan pasca berhenti merokok karena terbukti mengembalikan kondisi jaringan paru seperti pada keadaan paru yang sehat.

Artikel ilmiah hasil penelitian ini sudah terbit pada International Journal of Pharmaceutical Research, suatu jurnal bereputasi terindeks Scopus Q2, H-index=13, Skor SJR= 0,28. Artikel dapat di akses melalui tautan: http://ijpronline.com/ViewArticleDetail.aspx?ID=20740

Penulis: Imam Mustofa

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu