Peranan Pengukuran Kuantitas Emfisema dan Volume Paru pada HRCT dalam Evaluasi Pasien PPOK

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi pasien paru. (Sumber: Alodokter)

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) atau merupakan penyakit pernapasan yang menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi. Yang termasuk dalam PPOK adalah emfisema dan bronkitis kronis. Dalam studi penelitian yang melibatkan 12 negara Asia, prevalensi PPOK berdasarkan kebiasaan merokok tertinggi adalah Vietnam yaitu 6,7% dan terendah adalah Hongkong yaitu 3.5%. Di Indonesia, prevalensi PPOK adalah 3,7%, hal ini berkaitan erat dengan perilaku merokok penduduk berumur 15 tahun keatas yang cenderung meningkat dari tahun 2007 sampai 2013 yaitu 34,2% menjadi 36,3%. Kuantitas emfisema dan volume paru akan menambah salah satu faktor prognosis dan penatalaksanaan pasien PPOK.

Perkembangan peran Computed Tomography khususnya Chest HRCT diiringi pula perkembangan teknologi yang bertujuan memaksimalkan informasi diagnosis dan kualitas gambar dengan dosis radiasi minimal, beberapa dekade terakhir telah dikembangkan metode rekontruksi algoritma iteratif. Sinogram-Affirmed Itterative Reconstruction (SAFIRE) merupakan salah satu metode rekontruksi algoritma iteratif menggunakan teknik noise modelling.

Penentuan tingkat keparahan emfisema menggunakan nilai kuantitas emfisema mengacu pada Skala Goddard. Skala Goddard (GS) memberikan penilaian spesifik dari persentase nilai kuantitas emfisema di tiga zona paru sehingga secara klinis perubahan nilai kuantitas emfisema berupa underestimation ataupun overestimation dapat mempengaruhi hasil representasi dari skala Goddard untuk menentukan tingkat keparahan emfisema yang diklasifikasikan sebagai emfisema ringan, sedang dan berat.

Perubahan  volume paru hasil segmentasi berhubungan dengan rentang densitas kepadatan paru, rentang densitas kepadatan paru menunjukkan rentang nilai HU pada parenkim paru dengan penggabungan keseluruhan data volume, faktor tersebut penting karena mempengaruhi diferensiasi antara parenkim paru terhadap struktur ekstrapulmonal antara lain: soft tissue, tulang dan jalan napas. Perubahan rentang densitas kepadatan paru yang kecil tidak memberikan pengaruh pada proses segmentasi volume paru sedangkan apabila terjadi perubahan signifikan pada rentang densitas kepadatan paru maka akan menimbulkan perubahan volume paru.

Perubahan  volume paru dapat disebabkan oleh perubahan signifikan pada rentang densitas kepadatan paru yang mempengaruhi proses segmentasi. Implementasi dari perubahan densitas paru kurang dapat dilihat secara visual melalui hasil segmentasi namun dapat dinilai melalui histogram distribusi atenuasi yang menunjukkan pergeseran nilai HU.

Berdasarkan analisa studi yang dilakukan, perubahan nilai kuantitas emfisema (LAV%) dan nilai volume paru (ml) dari penggunaan rekontruksi FBP B70F dan SAFIRE l70f disebabkan oleh adanya perubahan histogram atenuasi yang berakibat pada perubahan densitas kepadatan paru. Selain itu, penghitungan nilai kuantitas emfisema (LAV%) secara kuantitatif dilakukan oleh software-post processing yang telah secara otomatis terprogram berdasarkan rumus tertentu.

Apabila adanya perubahan nilai volume paru diiringi oleh perubahan nilai kuantitas emfisema (LAV%). Hasil analisa studi ini berbeda pada hasil penelitian Baumueller et al yang menunjukkan adanya perubahan signifikansi pada nilai kuantitas emfisema namun tidak diiringi dengan perubahan signifikansi pada nilai volume paru. Oleh karena itu, analisa pada studi ini dapat mengkonfirmasi penelitian sebelumnya berdasarkan teori rumus penentuan nilai kuantitas emfisema (LAV%) yang diperoleh dengan nilai ambang batas tertentu.

Penggunaan  rekonstruksi SAFIRE dapat mempengaruhi hasil pengukuran kuantitas emfisema dan volume paru secara kuantitatif menggunakan software post-processing jika dibandingkan dengan rekontruksi FBP. Teknologi yang dikembangkan pada alat CT scan ini terbukti mampu meningkatkan kualitas citra yang dihasilkan dibandingkan dengan teknologi CT scan yang dikembangkan sebelumnya. Sehingga peningkatan kompetensi operator dalam menggunakan semaksimal mungkin teknologi terbaru menjadi hal yang penting untuk meningkatkan nilai diagnostik. Kuantitas emfisema dan volume paru bukan hal yang mustahil dilakukan dengan menggunakan modalitas yang ada di pelayanan kesehatan (RS) sehingga meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Penulis: Lailatul Muqmiroh

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini,

https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2020123012525305_2020_0756.pdf

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu