Algoritma Penanganan Trauma Cedera Otak di Era Pandemi Covid-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Hello Sehat

Skrining sebagai langkah awal penanganan pasien di era pandemi, yang dilakukan ke semua pasien termasuk pasien COVID-19 dan non COVID-19 yang masuk IGD. Penggunaan APD penting diterapkan pada semua tenaga kesehatan. Skrining dan penggunaan APD menjadi poin penting dalam penanganan kasus COVID-19 yang tinggi termasuk di pusat bedah saraf. 

Pada Desember 2019 ditemukan virus corona jenis baru sebagai penyebab pneumonia yang dikenal dengan COVID-19. Kasus konfirmasi hingga kematian ditemukan di berbagai negara sehingga WHO menyatakan COVID-19 sebagai pandemi global. Traumatic Brain Injury (TBI) menjadi salah satu penyebab kematian yang dikaitkan dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi serta biaya pengobatan yang tinggi. Sehingga perlu adanya penatalaksanaan kasus TBI terutama di IGD yang sangat penting dan kursial untuk menentukan hasil akhir pasien.

Kasus TBI mengalami penurunan yang signifikan selama pandemi. Namun, mengalami kenaikan kasus sejak dimulainya normal baru di Indonesia. Kenaikan kasus TBI tidak mempengaruhi jumlah kasus COVID-19 yang meningkat secara signifikan sehingga meningkatkan risiko terinfeksi pada ahli bedah saraf. Sehingga diperlukan pedoman dalam penatalaksanaan pasien TBI selama pandemi yang tertuliskan dalam artikel ini yang dapat digunakan secara fleksibel di pusat bedah saraf baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Artikel ini melakukan analisis kohort retrospektif dari database TBI di rumah sakit umum tersier di Jakarta, medan, Surabaya, Semarang, Denpasar, dan kota Mataram yang mengacu pada The STROCSS 2019 Guideline sejak pertengahan Februari hingga pertengahan Agustus 2020. Semua subjek penelitian dilakukan skrinig dan pengukuran perioperatif yang didasarkan pada sistem penilaian dan algoritma yang diusulkan dalam artikel ini.

Dalam artikel ini membahas penatalaksanaan pasien neurotrauma suspek dan terkonfirmasi COVID-19 yang dimulai dari persiapan pra-operasi (penyaringan, transfer pasien, dan persiapan ruang operasi), pertimbangan operasional ,dan manajemen pasca operasi (ruang operasi dan personel ruang operasi, pemindahan dan perawatan pasien di kamar).

Tindakan persiapan pra-operasi dituliskan secara rinci sehingga memudahkan pembaca dalam memahami penatalaksanaan yang dibuat dalam bentuk tabel dan gambar. Hal pertama yang dilakukan yaitu skrining awal pasien yang masuk IGD dengan penerapan penggunaan APD level 3 pada tenaga medis yang menangani pasien di IGD. Suatu hal baru tertulis dalam artikel ini, dimana banyak pedoman yang menjelaskan skrining pada pasien bedah saraf khususnya pada neurotrauma. Dalam artikel ini dilakukan skrining yang menerapkan algoritma penilaian dan penyaringan yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. 

Scoring yang dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium dasar (tes darah lengkap dan CRP), pemeriksaan radiologis dasar dari rontgen dada dilakukan untuk penilaian skor cepat pada pasien COVID-19 dengan kondisi darurat. Penilaian tersebut memudahkan pemeriksa untuk menilai secara objektif kemungkinan COVID-19 pada pasien saat melakukan investigasi. Dilanjutkan dengan algoritma High Risk(score ≥ 20), Moderate (score 5-19), dan Low (score 0-4) berdasarkan gejala dan temuan secara subjectif dan objectif yang telah ditetapkan berdasarkan gejala dan temuan secara subjectif dan objectif yang tertulis dalam artikel ini.

Penjelasan rinci dalam artikel ini dimulai dari persiapan ruang operasi dengan menggunakan ruang operasi yang bertekanan negatif yang harus didesinfeksi sebelum dan sesudah digunakan. Setelah itu, pertimbangan operasional saat operasi dilakukan dengan persiapan matang terkait durasi singkat dan personel berpengalaman. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalkan risiko eksposur dan tidak mengabaikan penggunaan APD yang dipakai selama operasi. Penerapan APD dan operasional ruangan yang sama dilakukan pasca operasi yaitu desinfeksi personel ruang operasi, pembuangan APD sekali pakai di tempat sampah khusus, ventilasi dan juga AC. Pada manajemen pasca operasi saat pemindahan pasien suspek COVID-19 dari ruang perawatan khusus harus menggunakan APD level III dan alat pemindahan khusus untuk pasien terduga COVID-19. Setidaknya pasien dapat dipulangkan apabila sudah dipastikan negatif dengan setidaknya 2x swab negatif.

Sebanyak 757 data kasus neurotrauma dikumpulkan sejak pandemi mulai dari pertengahan Februari hingga pertengahan Agustus 2020. Sebagian besar kasus terbanyak terjadi di Denpasar yang didominasi oleh laki-laki. Tiga kasus TBI yang dikonfirmasi dengan infeksi COVID-19 terkait (0,4%) dengan kriteria dewasa dan hadir dengan risiko sedang-berat. Ada perbedaan yang signifikan (P 0,003) antara sistem penilaian kelompok (risiko rendah, sedang-tinggi) dengan COVID-19 akhir. Hasil sistem penilaian terkait berakhirnya status COVID19 pasien (p. 0,003) dengan korelasi yang masih lemah. Hal tersebut dikarenakan jumlah database relatif sedikit sehingga perlu dilakukan studi prospektif dengan jumlah subjek yang lebih banyak untuk akurasi instrumen skrining penilaian.

Penulis : Tedy Apriawan, dr.,Sp.BS (K)

Rosyidi RM, Wisnu Wardhana DP, Apriawan T, et.al. Algorithm of traumatic brain injury management at Indonesia in the COVID 19 pandemic ERA. Retrospective cohort study. Ann Med Surg (Lond). 2021 Jan 16;62:98-103. doi: 10.1016/j.amsu.2021.01.008. PMID: 33520203; PMCID: PMC7819803. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7819803/

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu