Ada Lima Proposal Unggulan UNAIR di Matching Fund 2021

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SUASANA Sosialisasi Matching Fund UNAIR bersama Dosen dan Peneliti UNAIR. (Foto: Dimar Herfano)
SUASANA Sosialisasi Matching Fund UNAIR bersama Dosen dan Peneliti UNAIR. (Foto: Dimar Herfano)

UNAIR NEWS – Dalam upaya menjembatani sekaligus menyelaraskan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di perguruan tinggi, Kementerian Pendidikan dan Budaya yang membawahi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi telah membuka seleksi proposal melalui program Matching Fund 2021 melalui platform bernama https://kedaireka.id/ . Melalui program ini, akan tercipta kolaborasi strategis guna memecahkan permasalahan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) dan masyarakat serta berkesempatan mendapatkan Matching Fund sebesar total Rp250 miliar.

Menanggapi program tersebut, UNAIR bersama dengan Badan Pengembangan Bisnis Rintisan dan Inkubasi UNAIR (BPBRIN) mengundang Dosen dan Peneliti UNAIR pada acara Sosialisasi yang dilaksanakan pada Selasa (16/2/2021) melalui zoom conference. Selaras dengan visi Kampus Merdeka, Wakil Rektor bidang Riset, Inovasi dan Community Development Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih. Dra., M.Si. menjelaskan bahwa dosen bersama tim peneliti wajib mengikutkan mahasiswa dalam program Matching Fund. Dengan keterlibatan tersebut, diharapkan mahasiswa bisa belajar di dunia usaha, kerja, dan industri (IDUKA).

“Melalui Matching Fund, semua dosen dan peneliti baik dari Fakultas, Lembaga, dan Pusat Riset bersama dengan Industri, mitra maupun perguruan tinggi lainnya diharapkan dapat mengembangkan riset hilirasi. Program ini akan link and match dengan Merdeka Belajar Kemendikbud” Tutur Prof. Nyoman.

Prof. Nyoman mengatakan UNAIR sudah melakukan banyak upaya dalam hal menuju hilirisasi, sehingga UNAIR tinggal menguatkan upaya tersebut. Selain itu, sambungnya, Prof. Nasih sempat memberi usulan ke Menristek/BRIN jangan berhenti di Prototipe dan harus dilanjutkan ke industri untuk bisa diproduksi.

“Mohon izin yang memiliki perancanaan atau riset penanganan pandemi Covid19, silahkan di ajukan ke LPPM. Ini akan mendapatkan anggaran langsung dari UNAIR. Kemenristek saat ini memegang dua program unggulan, selain program Riset Nasional (PRN), serta program unggulan riset terkait penanganan Covid-19,” ungkapnya

Topik riset terkait pandemi yang bisa diajukan akan menyesuaikan BRIN. Terdapat lima kategori riset. Yakni, alat Kesehatan Pendukung, Skrining, Pencegahan, Obat dan Terapi, serta yang terakhir Sosial dan Humaniora.

‘“Lima tema ini, dipersilahkan pak Rektor untuk diajukan, anggarannya akan dipusatkan di LPPM. Agar kreativitas, ide, dan riset dosen UNAIR dapat difasilitasi oleh UNAIR sehingga dapat memperkuat riset-riset penanganan Covid 19, produk yang siap hilirasi maupun policy bisa dikuatkan melalui link industri,” katanya.

Program Unggulan UNAIR

Berdasar Pengumuman Kemenristek/ BRIN 2021 tentang Hibah Penelitian BOPTN (Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri) 2021 untuk PTN BH, dari 12 PTN BH Indonesia, UNAIR menduduki peringkat 4 dengan anggaran 39.1 M. Selain itu, lanjutnya, Ristek telah memetakan Penelitian Unggulan 2021 UNAIR dengan total 5 proposal; yakni

1. Instrumen Dento E-Nose untuk Deteksi Dini Non Invasif Penyakit Gigi & Mulut,

2. Biomaterial Anti Adhesi Intraperitoneal untuk kasus Operasi Penjahitan Organ Pencernaan,

3. Penyelamatan genetik Kambing Lokal melalui Metode Cytoplasmik Sperm Injection dan Preimplantation Genetic Diagnosis Sebagai Upaya Konservasi dan Ketahanan Pangan,

4. Fiber Optic Sensor berbasis Microfiber untuk Deteksi Kadar Mineral (ZN) dalam Suplemen Makanan, dan

5.Otomasi Sistem Pengendali Dosis Terapi Elektrostimulator.

“Unggulan tersebut diapresiasi oleh Menristek karena tidak memiliki kemiripan di tempat lain dan lebih menunjukkan bahwa UNAIR kuat di bidang health, science and life science,” ungkapnya.

Matching Fund

Setelah penyampaian Prof. Nyoman, disambung Prof. Tjitjik Srie Tjahjandarie, Ph.D untuk memaparkan teknis Program Matching Fund 2021. Penerimaan proposal dimulai pada 25 Januari hingga 30 Juni 2021 melalui platform kedaireka.id. Pihak perguruan tinggi bisa bekerja sama dengan DUDI yang terdaftar dalam platform tersebut.

“Karena masih periode 1, dana maksimum tersebut bisa meningkat, sehingga bisa berpeluang mengoptimalkan dana,” ungkap Prof. Tjitjik.

Penetapan pendanaan dilakukan melalui proses seleksi proposal yang tidak bersifat kompetisi, melainkan bersifat first come first served.  Terdapat tiga kriteria penilaian kelayakan program. Yaitu, program harus memiliki dampak transformasi pada perguruan tinggi, menyelesaikan permasalahan DUDI, serta keterlibatan mahasiswa.

Ada lima ruang lingkup dalam program Matching Found tersebut. Pertama, untuk komersialisasi, pemberdayaan masyarakat, membangun startup bersama mahasiswa, penguatan Pusat Riset, dan pembukaan program studi baru yang relevan dengan kebutuhan DUDI.

“Fokuskan pada satu lingkup yang dipilih, roadmap dan rancangan harus bisa mencapai Indikator Kinerja Utama (IKU), peluang, dan potensi implementasi Kampus Merdeka,” tegas Guru Besar FST UNAIR yang tergabung dalam Tim Pengembangan Program Matching Fund itu.

Persyaratannya adalah ketua pengusul harus dosen aktif program studi akademik di PT akademik, keselarasan rekam jejak dengan program kerjasama, dan pihak PT dengan DIDU terdaftar di Kedaireka. Termasuk dosen tidak sedang studi lanjut atau kegiatan akademik lainnya karena projek berjalan selama setahun. (*)

Penulis: Dimar Herfano

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

Feri Fenoria Rifai

Feri Fenoria Rifai

Leave Reply

Close Menu