Bakteri Salmonella paratyphi pada Calon Pekerja

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: https://www.injurylawsb.com/

Penyakit infeksi selalu dikaitkan dengan penularan dari mikroorganisme patogen seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit. Jenis infeksi ini dapat menyebar dari orang ke orang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Gejala dan pengobatan yang disebabkan oleh penyakit infeksi berbeda-beda tergantung pada jenis mikroorganisme patogen yang menginfeksi.

Gastroenteritis atau infeksi saluran cerna (diare) merupakan salah satu penyakit menular yang paling umum, biasanya dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, dan parasit. Beberapa bakteri yang menyebabkan penyakit ini termasuk Escherichia coli, Salmonella, Shigella, Vibrio, Clostridia perfringens, dan Staphylococcus. Hingga saat ini penyakit gastroenteritis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia. Pada tahun 2018 terjadi sepuluh KLB (Kejadian Luar Biasa) diare yang tersebar di 8 provinsi, 8 kabupaten / kota. Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Buru masing-masing mengalami 2 KLB. Jumlah penderita 756 orang dan kematian 36 orang (4,76%). Angka kematian (Case Fatality Rate) wabah juga meningkat dari tahun 2017 (1,97%) hingga 2018 (4,76%). Pada saat terjadi wabah diare diharapkan terjadi CFR mencapai <1%.

Infeksi tersebut umumnya dapat terjadinya karena kurangnya penerapan higien dan sanitasi, seperti tidak mencuci tangan dengan baik dan menyeluruh setelah memegang rektum atau benda-benda kotor, yang mana masih ada kemungkinan bakteri terselip pada bagian bawah kuku kemudian menempel ke makanan atau minuman yang diproduksi atau disajikan. Seseorang dapat menjadi pembawa bakteri ini meskipun dia sendiri tidak menunjukkan gejala sakit tetapi dapat menyebarkan bakteri ini ke orang lain dan menyebabkan penyakit. Oleh karena itu, industri makanan atau minuman mewajibkan setiap karyawan atau calon karyawannya harus terbebas dari bakteri-bakteri tersebut.

Upaya yang dilakukan guna mencegah adanya infeksi saluran cerna adalah melakukan uji usap rektal guna mendeteksi adanya bakteri penyebab dengan metode kultur. Pemeriksaan usap rektal dilakukan dengan usap sekitar anus dan sekitar perianal. Usap rektal merupakan apusan yang dilakukan pada daerah rektum + 2-3 cm diatas lubang anus. Kuman patogen penyebab gastroenteritis dapat diisolasi dari usap rektal. Kuman-kuman yang ditemukan dari usap rektal juga terdapat pada saluran pencernaan.

Pengamatan data dari tahun 2017 hingga 2018 yang dilakukan pada salah satu laboratorium klinik di wilayah Surabaya, diperoleh 106 data calon pekerja yang melakukan pemeriksaan usap rektal dengan diantaranya 66 pria dan 40 wanita. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sekitar 4.7% (5 dari 106 sampel yang diperiksa) ditemukan bakteri penyebab infeksi salurna cerna yaitu Salmonella paratyphi. Salmonella paratyphi dikenal sebagai penyebab demam enterik dan komplikasi lainnya, termasuk radang usus dan penyakit sistemik (demam Paratyphoid), Enterokolitis (Gastroenteritis) dan penyakit diare. Penyebaran bakteri Salmonella paratyphi terjadi secara oral melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi oleh bakteri yang masuk ke dalam mulut melalui saluran pencernaan menuju usus.

Setelah memasuki dinding usus halus, Salmonella paratyphi mulai menyerang melalui sistem getah bening, yang menyebabkan pembengkakan pada pembuluh darah kemudian menyerang aliran darah. Aliran darah yang membawa bakteri juga akan menyerang hati, kandung empedu, getah bening, ginjal, dan sumsum tulang dimana bakteri tersebut kemudian berkembang biak dan menyebabkan infeksi pada organ tersebut. Penularan bakteri Salmonella paratyphi melalui kontak langsung maupun tak langsung melalui tinja atau urine penderita, namun hal tersebut jarang ditemukan. Media penularan Salmonella paratyphi juga melalui makanan dan minuman yang telah tercemar oleh bakteri terutama produk susu maupun perikanan, juga tercemar melalui tangan kotor ataupun lalat yang menyebabkan kontaminasi. Salmonella paratyphi dikeluarkan melalui tinja dari manusia yang terinfeksi

Pada studi ini juga menunjukkan bahwa infeksi lebih sering terjadi pada laki-laki dengan rentang usia di atas 27 tahun. Kemungkinan terjadinya infeksi adalah mobilitas yang tinggi pada laki-laki, paparan terhadap dunia luar lebih besar pada laki-laki dibandingkan perempuan serta kurangnya kesadaran menjaga kebersihan diri sebelum mengkonsumsi makanan. Selain itu, infeksi bakteri pada rektum dapat dikaitkan dengan penyakit ISK (Infeksi Saluran Kemih), karena letak uretra yang berdekatan dengan rektum.

Penulis: Diyantoro

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini,

https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2020123012513003_2020_0788.pdf

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu