Penggunaan Ekstrak Seledri untuk Pengobatan terhadap Infeksi Stapylococcus sp.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: IDN Times

Infeksi Staphylococcus sp. merupakan patogen utama pada manusia. Hampir semua orang pernah mengalami infeksi bakteri jenis ini, dengan derajat keparahan yang beragam, seperti keracunan makanan, infeksi kulit ringan hingga infeksi saluran pernafasan. Beberapa penyakit infeksi yang disebabkan oleh S. aureus adalah bisul, jerawat, impetigo, dan infeksi pada luka. Infeksi yang lebih berat diantaranya penumonia, mastitis, plebitis, meningitis, infeksi saluran kemih, osteomielitis, dan endokarditis. Staphylococcus sp. juga merupakan penyebab utama infeksi nosokomial, dan keracunan makanan. Sebagian bakteri Staphylococcus sp. merupakan bakteri normal pada kulit, saluran pernafasan, dan saluran pencernaan pada manusia. Bakteri ini dapat ditemukan di udara dan lingkungan sekitar, dan dapat menjadi penyebab kontaminasi pada makanan.

Salah satu agen yang dapat digunakan dan berkompeten untuk pengobatan infeksi Staphylococcus sp. yaitu dengan konsumsi antibiotik. Antibiotik merupakan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri hingga dapat membunuh mikroorganisme hidup, dan infeksi yang terjadi dapat diobati. Ketersediaan antibiotik yang semakin meluas dan penggunaan antibiotik yang tidak teratur menimbulkan adanya resistensi bakteri terhadap antibiotik. Infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus sp. dilaporkan telah mengembangkan resistensi terhadap antibiotik yang umum seperti methicillin, novobiocin, klindamisin, dan penisilin benzil. Tingginya angka resistensi ini akan menyulitkan dalam pengobatan infeksi dan menambah beban biaya pengobatan bagi pasien. Terutama pasien dengan gangguan system imun tubuh.

Bahan antimikroba merupakan bahan yang dapat mengganggu pertumbuhan dan metabolisme mikroba. Saat ini, sudah banyak antibiotik yang resisten terhadap bakteri. Sebagai alternatif, telah banyak dikembangkan antimikroba berbahan herbal yang digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Antimikroba dapat ditemukan dari bahan alam seperti pada tanaman atau rempah-rempah. Contoh tanaman yang sering dijadikan sebagai obat tradisional adalah daun seledri, dauh sirih, daun pepaya, daun sirsak, daun gambir, dan lain-lain.

Penentuan potensi tanaman sebagai antimikroba dapat dilakukan dengan penentuan konsentrasi ekstrak selederi yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Banyak peneliti melakukan penelitian pada tanaman obat sebagai alternatif antibiotic berbahan kimia. Salah satu tanaman yang telah digunakan sebagai agen antimikroba yaitu seledri. Seledri merupakan tanaman yang umum digunakan, baik sebagai olahan makanan dan olahan minuman. Daun seledri banyak dimanfaatkan sebagai pelengkap masakan dan minuaman. Dandaun seledri memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi. Antioksidan merupakan suatu zat yang berfungsi mengurangi kerusakan sel tubuh akibat proses oksidasi dan radikal bebas. Kandungan yang dimiliki daun seledri, membuatnya banyak digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan obat-obatan.

Penelitian mengenai efek ekstrak daun seledri sebagai agen antimikroba telah banyak dilakukan. Hasil dari penelitian ini yaitu ekstrak seledri dapat digunakan sebagai agen antimikroba dan mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus sp. Konsentrasi minimal yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan Staphylococcus sp. pada penelitian ini yaitu 25% ekstrak seledri. Hasil penelitian serupa yang telah dilakukan oleh Majidah dkk., ekstrak daun seledri memiliki daya antibakteri terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Dan penelitian lain yang dilakukan oleh Suwito  dkk,  menunjukkan seledri dapat digunakan sebagai alternatif obat kumur dengan menghasilkan dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan konsentrasi ekstrak memberikan efek yang kebih baik dalam menghambat bakteri Staphylococcus sp.

Potensi tanaman sebagai agen antibakteri karena memiliki adanya kandungan senyawa metabolit yang berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri. Penghambatan mikroorganisme salah satu diantaranya dipengaruhi adanya zat antimikroba. Zat antimikroba ini dapat diperoleh melalui proses ekstraksi. Proses ekstraksi tergantung pada bahan tumbuhan yang diekstraksi. Kandungan senyawa metabolit sekunder pada tanaman seledri yang bersifat sebagai antibakteri yaitu flavonoid, saponin, dan tanin. Flavonoid merupakan bahan aktif antibakteri yang juga didapat pada ekstrak seledri. Flavonoid memiliki beberapa manfaat selain sebagai agen antibakteri yaitu sebagai agen anti jamur, dan antivirus. Hasil dari penelitian ini perlu dilakukan penentuan dosis spesifik zat antimikroba pada ekstrak tanaman seledri yang digunakan. Sehingga penentuan konsentrasi dapat diturunkan guna mengoptimalkan fungsi sebagai agen antibakteri.

Penulis: Aliyah Siti Sundari

Informasi detail dari artikel ini dapat dibaca lebih lengkap pada publikasi ilmiah berikut:

https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2020123013003415_2020_0951.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu