Patologi Anatomi Diagnostik untuk Oral Hairy Leukoplakia: Review Artikel

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: Oral Hairy Leukoplakia

Oral Hairy Leukoplakia (OHL) merupakan kelainan hiperplasia sel epitel mukokutaneus yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV), dan merupakan manifestasi patologis pertama yang dihubungkan dengan infeksi EBV. Manifestasi klinis OHL berupa lesi asimtomatik putih, berombak dan tidak nyeri, plak yang tidak bisa dihilangkan dengan menggosok, seringkali terletak bilateral pada batas lateral dari lidah. OHL pertama kali digambarkan oleh Greenspan dkkpada tahun 1984 pada sekelompok pasien homoseksual di San Fransisco.OHL terjadi hampir hanya secara eksklusif pada orang-orang dengan kondisi imunosupresif dan biasanya ditemukan pada pasien dengan human immunodeficiency virus (HIV), walaupun didapatkan pula laporan terjadinya OHL pada pasien dengan kondisi imunosupresif non HIV lainnya, misalnya penerima transplantasi organ padat atau sel punca hematopoietik, pasien dengan keganasan hematologi, misalnya multiple myeloma atau leukemia mielogenik akuta, dan pada pasien yang membutuhkan pengobatan steroid sistemik.

OHL seringkali keliru didiagnosis sebagai kandidiasis oris, terutama pada pasien-pasien dengan imunodefisiensi sehingga penanganannya pun sering tidak tepat. Referat ini diharapkan membantu memberikan pengetahuan mengenai penegakkan diagnostik pada kasus OHL, baik berupa pemeriksaan histo dan sitopatologi juga pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis definitif yaitu In Situ Hybridization (ISH) dan imunohistokimia. Dari referat ini diharapkan pula klinisi mengetahu pilihan pemeriksaan OHL baik invasif maupun non invasif yang berguna dalam penegakkan diagnosis dengan mempertimbangkan kenyamanan pasien.

Diskusi

Oral Hairy Leukoplakia (OHL) merupakan kelainan hiperplasia sel epitel mukokutaneus yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV), dan merupakan manifestasi patologis pertama yang dihubungkan dengan infeksi EBV. OHL terjadi hampir hanya secara eksklusif pada orang-orang dengan kondisi imunosupresif dan biasanya ditemukan pada pasien dengan human immunodeficiency virus (HIV), walaupun didapatkan pula laporan terjadinya OHL pada pasien dengan kondisi imunosupresif non HIV lainnya.

Pada tahun 1994, dilaporkan prevalensi OHL sebesar 20% pada pasien dengan infeksi HIV asimtomatik di Amerika Serikat dan 36% pada pasien Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)di Tanzania. Laporan rata-rata prevalensi OHL berbeda-beda sesuai dengan kriteria klinis yang digunakan dan karakter dari populasi penelitian, misalnya jenis imunosupresi dan tahapan klinis pasien.    Virus Epstein-Barr merupakan suatu  human herpesvirus yang dikaitkan dengan penyakit penting pada manusia, termasuk sindroma mononukleosis infeksiosa, limfoma malignan, dan karsinoma nasofaring. Pada dewasa di seluruh dunia, prevalensi serologis EBV diperkirakan sekitar 95%. Sirkulasi limfosit B yang terinfeksi laten diyakini menjadi daerah persisten infeksi EBV seumur hidup. Replikasi produktif EBV terjadi di permukaan mukosa oral dan menghasilkan virus infeksius yang menular ke dalam ludah.

Pada pasien HIV, ditemukannya OHL dapat memberikan suatu prediksi kondisi sistem imunitas dan progresivitas infeksi, karena diyakini berhubungan dengan jumlah sel T CD4+. Kejadian  langka OHL pada individu sehat dan hubungan antara OHL dengan pasien positif HIV berjumlah hitung sel T CD4+ rendah dan juga tingginya muatan virus mengesankan adanya peran  kostimulasi EBV oleh HIV atau peran penting sel T CD4+ dalam perlindungan terhadap penyakit ini.

OHL tidak dianggap sebagai faktor prognostik kecuali pada pasien AIDS. Namun kasus OHL sebelumnya dengan keganasan hematologi telah dilaporkan pada pasien sesudah menjalani kemoterapi, dimana keadaan imunosupresinya lebih berat. Pengenalan awal lesi OHL sangat penting karena tingginya kemungkinan adanya keadaan imunodefisiensi yang mendasarinya dan berpotensi sebagai indikator buruk prognosis.

Penegakkan diagnosis OHL dapat dilakukan berdasarkan diagnosis dugaan yaitu apabila ditemukan manifestasi lesi bilateral pada bagian lateral lidah berwarna putih/abu-abu yang tidak dapat dihilangkan dengan penggosokan dan dapat menampilkan verugasi vertikal.  Namun diagnosis definitif memerlukan demonstrasi adanya EBV pada lesi. Apabila tidak ada fasilitas yang tersedia untuk menegakkan diagnosis definitif, kurangnya respons terhadap terapi anti jamur atau terbuktinya status imunodefisiensi dapat memperkuat diagnosis dugaan.

Kesimpulan

Penegakkan diagnosis OHL dapat dilakukan berdasarkan diagnosis dugaan yaitu apabila ditemukan manifestasi lesi bilateral pada bagian lateral lidah berwarna putih/abu-abu yang tidak dapat dihilangkan dengan penggosokan dan dapat menampilkan verugasi vertikal.  Namun diagnosis definitif memerlukan demonstrasi adanya EBV pada lesi. Gambaran histopatologi yang ditemukan pada OHL tidak bersifat patognomonis. Pada OHL dapat ditemukan hiperplasia epitel, hiper dan parakeratosis dan ballooning, vakuoalisasi, sel epitel koilositik dengan tanpa inflamasi atau minimal, dan juga nuklei dengan gambaran ground-glass dan nuclear beading. Candida sp. juga umum ditemukan pada gambaran histopatologi OHL. Pengambilan sampel untuk pemeriksaan histopatologi dapat dilakukan dengan baik punch biopsy ataupun brush biopsy.

Penulis: Nanda Rachmad Putra Gofur

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.dentaljournal.in/search?keyword=3-1-16

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu