Potensi Giardiasis Intestinalis Assemblage E pada Ternak sebagai Zoonosis Baru di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh pertanianku

Giardia intestinalis adalah salah satu protozoa saluran pencernaan yang mengakibatkan diare pada manusia dan berbagai jenis hewan. Penularan penyakit ini pada sekumpulan ternak atau komunitas dapat terjadi dengan sangat cepat. Manifestasi klinis yang ditimbulkan akibat infeksi parasit G. intestinalis antara lain malabsorpsi, penurunan bobot badan, penurunan produksi susu, dehidrasi dan dapat berakhir kematian. Umumnya, angka prevalensi giardiasis pada hewan muda lebih tinggi, bahkan dapat mencapai 100%. Hal yang sama juga terjadi pada manusia, yaitu kasus giardiasis lebih didominasi pada balita dan anak-anak. Probabilitas kematian pedet dilaporkan akan semakin tinggi apabila terjadi infeksi campuran antara G. intestinalis dan Cryptosporidum parvum. 

Sebelumnya para peneliti berkeyakinan bahwa strain G. intestinalis yang menyerang pada ternak (assemblage E) tidak dapat menular pada manusia. Namun demikian, studi akhir-akhir ini di beberapa negara berhasil mendeteksi assemblage E pada manusia. Tulisan ini akan membahas secara singkat deteksi assemblage E pada peternakan sapi di Indonesia sehingga dapat menjadi potensi zoonosis baru yang perlu mendapat perhatian. 

Sejauh ini, studi giardiasis di Indonesia lebih banyak dilakukan pada manusia dan sangat jarang laporannya pada ternak. Kondisi tersebut diduga karena metode pemeriksaan feses yang diaplikasikan selama ini merupakan metode standard yang memiliki keterbatasan. Protozoa Giardia spp dan Cryptospirodium spp tidak dapat dideteksi dengan menggunakan metode standard tersebut. Hal ini berimbas pada laporan kasus penyakit dalam suatu daerah yang tidak pernah menyebutkan giardiasis atau cryptospirodiosis sebagai salah satu penyebab diare pada ternak. 

Baru-baru ini, studi giardiasis pada ternak dilakukan di sebelas desa yang tersebar di Tangerang, Provinsi Banten. Sebanyak 109 sampel feses berhasil dikoleksi dari 30 peternakan sapi dan dianalisis dengan metode pemeriksaan yang telah dikembangkan di Osaka – Jepang. Selain mampu mendeteksi jenis parasit saluran pencernaan yang lebih beragam, metode ini juga menghasilkan gambaran morfologi parasit yang lebih jernih dan bersih sehingga memudahkan dalam pengamatan dibawah mikroskop. Hasil pemeriksaan parasitologis menunjukkan bahwa 9 ternak positif terinfeksi Giardia spp dan 1 ternak terinfeksi Cryptospirodium spp. Disamping itu, beberapa jenis parasit saluran pencernaan yang terdeteksi adalah adalah Eimeria spp (78,0%), Fasciola gigantica (33.0%), Strongyloides spp. (32.1%), and Paramphistomum spp. (30.3%). Konfirmasi G. intestinalis dan Cryptospirodium spp dilakukan dengan metode immunofluorescence antibody test (IFAT). 

Untuk mengetahui genotipe Giardiasis yang menginfeksi ternak sapi di Tangerang dilakukan analisis molekular dan sekuensing yang selanjutkan dibandingkan dengan data genetik dari Gene Bank. DNA primer spesifik dari gen Giardia β-giardin (G7 dan G759, 760 pasang basa/bp) digunakan pada studi ini. Hasil analisis pohon filogenetika membuktikan bahwa G. intestinalis yang menginfeksi ternak sapi di daerah Tangerang tergolong dalam kelompok assemblage E. 

Berdasarkan studi molekular, para peneliti menggolongkan genotipe G. intestinalis menjadi delapan kluster (A- H) yang dikenal dengan sebutan assemblage, yaitu assemblage A dan B yang bersifat zoonosis dan banyak meginfeksi hewan domestik atau hewan liar dan manusia. Assemblage C dan D terbatas menginfeksi anjing, assemblage E menginfeksi ternak, assemblage F menginfeksi kucing, assemblage G menginfeksi tikus dan assemblage H hanya menginfeksi mamalia laut. Namun, pengelompokkan ini sedikit bergeser ketika beberapa negara melaporkan studi assemblage E yang ditemukan pada manusia sehingga menempatkan giardiasis pada ternak berpotensi sebagai zoonosis baru yang harus diwaspadai.

Studi giardiasis pada anak-anak penderita gangguan pencernaan di rumah sakit di Kota Sohag Mesir menunjukkan bahwa 25,5% (12/47) anak positif terinfeksi G. intestinalis assemblage E dan memiliki riwayat kontak dengan hewan di perdesaan. Kementrian Kesehatan Kairo telah menyebutkan bahwa G. intestinalis assemblage E pada ternak berpotensi sebagai zoonosis di daerah Gharbia, dimana 2/3 dari penduduk bermukim di perdesaan dengan riwayat kontak dengan ternak. 

Sebelumnya pernah dilaporkan genotipe G. intestinalis di Indonesia yang berhasil dideteksi pada orang hutan, yaitu assemblage B. Disamping itu, assemblage A dan B juga diidentifikasi dari anak-anak sekolah di daerah Sumba, namun belum pernah dilaporkan penemuan assemblage E di Indonesia. Berdasarkan pengelompokan genotipe diatas diketahui bahwa hanya assemblage A dan B yang bersifat zoonosis sedangkan assemblage E diyakini hanya menginfeksi ternak sapi, kambing dan domba. Namun beberapa studi  mengindikasikan bahwa infeksi G. intestinalis assemblage E tidak hanya terbatas pada ternak, tetapi mampu menembus barier spesies lain termasuk menginfeksi manusia. Penemuan assemblage E pada ternak sapi di Tangerang menjadi informasi yang penting terkait dengan penentuan strategi pengendalian giardiasis pada manusia.

Penulis: April Hari Wardhana, SKH, Msi, Phd

Informasi Detail Dari Riset Ini Dapat Dilihat Pada Tulisan Kami Di:  

Https://Link.Springer.Com/Article/10.1007/S12639-019-01179-3

Https://Pubmed.Ncbi.Nlm.Nih.Gov/32174722/

Sawitri DH, Wardhana AH, Martindah E, Ekawasti F, Dewi DA, Utomo BN, Shibahara T, Kusumoto M, Tokoro M, Sasai K, Matsubayashi M. 2020. Detection Of Gastrointestinal Parasites, Including Giardia Intestinalis And Cryptosporidium Spp In Cattle Of Banten Province, Indonesia. Journal Of Parasitology Disease. Mar, 44 (1): 174-179. 

DOI: 10.1007/S12639-019-01179-3

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu