Perkiraan Asupan Natrium dan Kalium Diukur dari Pemeriksaan Urin 24 Jam di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: author

Asupan natrium (Na) dan kalium (K) sangat berperan sebagai penyebab penyakit jantung dan stroke (Aburto NJ et al., 2013, Judd SE et al., 2013, Okayama A et al., 2016, and Alma JA at al., 2014). Data tentang asupan Na dan K yang diukur dengan metode yang ter standar dan sampel yang cukup untuk penduduk suatu negara perlu diketahui. Hal tersebut akan menjadi dasar bagi Kementerian Kesehatan dalam menentukan kebijakan tentang program penurunan asupan garam. Natrium yang lebih dikenal berasal dari garam adalah jenis bumbu masakan yang tidak dapat terlepas dari kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. Batas nilai ‘Tinggi’ dan ‘Rendah’ dari konsumsi garam belum mencapai kata sepakat pada peneliti di dunia. Namun diketahui bahwa konsumsi garam secara global antara 3.0-6.0 g/hari. Sedangkan batas yang direkomendasikan oleh WHO tentang konsumsi garam adalah kurang dari 2.0 g/hari sehingga banyak negara yang telah memulai program penurunan konsumsi garam (Brown Ij et al., 2009, Mccarron DA et al., 2013).

Tim penelitian kami (peneliti dari Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga dan peneliti dari the University of Tokyo Jepang) melakukan pengukuran asupan Na dan K dari penduduk Indonesia yang berusia dewasa dengan mengukur kandungan Na dan K dari urin yang ditampung selama 24 jam dalam 2 hari. Metode ini merupakan “gold standard method” yang dipakai oleh peneliti di dunia karena diketahui 86% dari Na dan 77% dari K yang dikonsumsi dari makanan akan di ekskresi melalui urin selama 24 jam (Holbrook JT, 1984). Selain itu, kami juga mengestimasi melalui pemodelan menggunakan software komputer untuk memperkirakan jumlah penduduk yang mengkonsumsi Na melebihi rekomendasi WHO dan mengonsumsi K kurang dari rekomendasi WHO.

Dalam penelitian ini, kami melibatkan orang di komunitas yang berusia lebih dari 20 tahun yang dipilih acak dari data kependudukan pemerintah kota. Sebanyak 506 orang berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebanyak 479 (240 laki-laki dan 239 perempuan) berhasil mengumpulkan sampel urin. Nilai rata-rata ekskresi Na adalah 102,8 mmol/hari (laki-laki) dan 100,6 mmol/hari (perempuan). Sedangkan rata-rata nilai ekskresi K adalah 25,0 mmol/hari (laki-laki) dan 23,4 mmol/hari (perempuan).

Jika dihubungkan dengan karakteristik penduduk Indonesia, nilai ekskresi Na dan K lebih tinggi pada peserta dengan indeks massa tubuh (BMI) yang lebih tinggi. Berdasarkan penelitian sebelumnya, seseorang dengan BMI yang tinggi diartikan mempunyai asupan energi yang juga tinggi (Brown IJ et al., 2009, Ortega RM et al., 1995). Selain itu, seseorang dengan BMI tinggi cenderung mempunyai gaya hidup yang kurang sehat dibandingkan dengan seseorang dengan BMI lebih rendah (Yulia, 2016), termasuk konsumsi makanan bergaram. Oleh karena itu, program penurunan konsumsi garam perlu memperhatikan individu yang tinggi BMI.

Usia juga berhubungan dengan ekskresi Na di urin pada laki-laki dan perempuan. Sedangkan ekskresi K dan rasio Na:K berhubungan dengan usia hanya pada populasi laki-laki. Dalam penelitian ini, populasi yang lebih muda mempunyai nilai ekskresi Na yang lebih tinggi. Orang muda dan lansia mempunyai pilihan makanan yang berbeda. Orang muda lebih memilih makanan yang bervariasi dan makanan modern yang diketahui cenderung mempunyai nilai Na yang lebih tinggi. Selain itu, penelitian sebelumnya juga menyebutkan bahwa orang lebih muda cenderung mempunyai diet yang kurang sehat (Schulze MB et al., 2001, Betancourt-Nuñez A et al., 2018). Lansia juga mempunyai diagnosis penyakit yang memotivasi mereka untuk lebih sering berkunjung ke fasilitas kesehatan dan melakukan diet yang lebih sehat dibandingkan dengan populasi yang lebih muda.

Sedangkan dari hasil pemodelan dengan software, lebih dari 80% peserta mengkonsumsi lebih dari 5 g/hari garam (batas atas yang direkomendasikan oleh pemerintah Indonesia dan WHO) dan tidak satupun dari participant (0%) yang mengkonsumsi lebih dari 3.510 mg / hari K (batas bawah yang direkomendasikan oleh pemerintah Indonesia dan WHO). Asupan Na tinggi dan K rendah, terutama Na tinggi di antara peserta dengan BMI tinggi, harus dipertimbangkan ketika program intervensi direncanakan di masa depan di Indonesia.

Penulis: Sari, D.W; Noguchi-Watanabe, M; Sasaki, S; Sahar, J; Yamamoto-Mitani, Noriko

Link lengkap dapat dilihat di: https://www.cambridge.org/core/journals/british-journal-of-nutrition/article/estimation-of-sodium-and-potassium-intakes-assessed-by-two-24hour-urine-collections-in-a-city-of-indonesia/7DB246DEDC9A804CB3226C29349788AA

Estimation of sodium and potassium intakes assessed by two 24-hour urine collections in a city of Indonesia (2021). British Journal of Nutrition. https://doi.org/10.1017/S0007114521000271

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu