Kelompok 46 KKN-BBM UNAIR 63 Praktiskan Produk Teh Ikan Cupang di Bangkalan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Produk Bettapang yang merupakan program utama pemberdayaan ekonomi dari Kelompok 46 KKN-BBM 63 UNAIR. (Foto: Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Di awal tahun 2021, Desa Demangan yang bertepatan di Bangkalan, Jawa Timur, kedatangan oleh anggota Kelompok 46 Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBM) UNAIR 63 untuk mengamalkan poin ketiga dari tridharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Kelompok ini menawarkan kegiatan pemberdayaan ekonomi yang menarik, yaitu dengan menciptakan produk yang bernama Bettapang, sebuah teh ikan cupang.

Untuk menilik kisahnya lebih lanjut, tim redaksi UNAIR NEWS mewawancarai Ketua Kelompok 46 Annisa Fitria pada Rabu siang (10/2/2021). Annisa, sapaan karibnya, menjelaskan bahwa teh ikan cupang itu bukan teh untuk diminum, melainkan substansi dari daun ketapang kering yang digunakan dalam pemeliharaan ikan cupang.

“Di dalam daun ketapang itu mengandung zat tanin nabati yang berguna sekali dalam pemeliharaan ikan cupang. Jadi daun ketapang yang sudah dikeringkan itu dimasukkan ke dalam toples ikan cupang lantas air di dalam toples tersebut menjadi coklat layaknya teh,” tutur mahasiswa Fakultas Keperawatan UNAIR itu.

Annisa mengatakan bahwa kegunaan ditaruhnya daun kering adalah demi menjaga pH air agar tetap stabil dan kandungan zat taninnya berfungsi sebagai katalis untuk mempercepat keluarnya warna-warna indah dari ikan cupang itu sendiri. Kandungan dalam daun ketapang tersebut juga sangat berguna untuk menjaga ikan cupang agar tidak mudah terjangkit penyakit.

Menurut Annisa, terdapat peningkatan tren terkait pemeliharaan ikan cupang selama pandemi Covid-19 di Indonesia dan tidak terkecuali di Bangkalan. Ia menambahkan bahwa warga Desa Demangan, yang disananya telah terdapat dua pelaku usaha budidaya ikan cupang, memiliki keunggulan karena terdapat banyak sekali pohon ketapang di tepian sungai desa.

“Pemelihara ikan cupang di perkotaan seperti di Surabaya harus membeli daun ketapang kering karena jarangnya pohon ketapang di kota. Bahkan saya sendiri pernah melihat bahwa ada daun ketapang yang belum diolah sama sekali, itu dijual online seharga 150 ribu rupiah,” terang mahasiswa angkatan 2017 itu.

Pengolahan daun ketapang agar dapat digunakan dalam pemeliharaan ikan cupang itu harus melalui beberapa proses. Annisa menjelaskan bahwa daun yang sudah kecoklatan itu harus direndam dengan air garam selama semalam lalu dikeringkan hingga daun dan tulangnya dapat dipisahkan dengan mudah, daunnya itulah yang menjadi tehnya ikan cupang.

“Proses tersebut sedikit rumit dan terkadang orang kesulitan melakukan proses tersebut, oleh karena itu kami ciptakan Bettapang. Bettapang merupakan produk teh ikan cupang yang telah dikemas layaknya teabag, jadi pembeli dapat langsung menggunakannya bak teh celup di kolam ikan cupangnya,” jelasnya.

Annisa mengatakan bahwa keunggulan lain dari produk Bettapang adalah kolam/toples ikan cupang akan jauh lebih bersih karena tidak meninggalkan daun kering, alhasil nilai estetika dari pemeliharaan ikan cupang dapat lebih tinggi.

Program lain yang ditawarkan oleh Kelompok 46 KKN-BBM 63 UNAIR adalah terkait edukasi masyarakat mengenai tanaman toga dan pentingnya 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak) selama pandemi. KKN ini dilaksanakan semi-luring selama 18 Januari hingga 13 Februari 2020 dengan pembagian dua minggu daring, dua minggu luring. Kegiatan yang dipaparkan dalam reportase ini dilaksanakan secara luring.

Penulis: Pradnya Wicaksana

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu