Manajemen Akalasia dengan Kandidiasis dan Bradikardi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Halodoc

Akalasia merupakan salah satu kelainan esofagus yang ditandai dengan gangguan peristaltis dan gangguan relaksasi sfingter esofagus bawah. Akalasia banyak diderita pada usia rentang 30 hingga 60 tahun dan mengenai laki-laki maupun perempuan dengan rasio yang sama. Angka kejadian antara lain 0,7 – 1,6 kasus tiap 100.000 populasi berdasar data International Society for Disease of Esophagus (ISDE). Jumlah kasus yang dijumpai di RSCM pada periode 1984-1988 sebesar 48 kasus, dan ditemukan 5 kasus di RSUD Dr. Soetomo periode 2009 – 2010.

Faktor penyebab akalasia masih belum jelas, namun diduga berupa faktor genetika, penuaan, autoimun hingga penyakit infeksi.  Gejala khas akalasia meliputi kesulitan menelan baik padat maupun cair, regurgitasi, nyeri dada substernal, penurunan berat badan dan dispepsia. Gejala lain yang dapat menyertai antara lain batuk di malam hari, aspirasi dan pneumonia. Pemeriksaan penunjang  yang dapat dikerjakan antara lain radiologi dan endoskopi.  Pemeriksaan manometri merupakan standar baku namun belum semua rumah sakit dapat mengerjakan.

Kandidiasis esofagus adalah infeksi jamur candida pada mukosa esofagus dan merupakan salah satu komplikasi akalasia sebagai akibat penurunan kemampuan peristalsis esofagus sehingga terjadi retensi makanan. Bradikardi dapat berkaitan dengan refleks vasovagal yang mempengaruhi konduksi ke jantung, khususnya jika penderita menelan makanan padat. Pilihan terapi akalasia antara lain terapi medik, businasi atau dilatasi, injeksi botolium tipe A, hingga operasi Heller.

Terapi medik dapat menggunakan obat golongan pelemas otot polos seperti blokade kanal kalsium, nitrat dan inhibitor fosfodiesterase untuk menurunkan tekanan sfingter esofagus bawah. Dilatasi menggunakan businator bertujuan untuk melebarkan sfingter bawah secara bertahap. Businasi menggunakan prinsip “rule of three”.

Penderita memerlukan pemeriksaan diagnosis akalasia sebelum diberikan terapi.  Pemeriksaan radiologi dengan kontras barium menunjukkan gambaran paruh burung (bird beak). Endoskopi pada lumen esofagus dikerjakan menggunakan esofagoskopi transnasal. Pemilihan esofagoskopi transnasal karena dapat dikerjakan dengan anestesi lokal sehingga lebih aman pada penderita bradikardi.  Endoskopi menunjukkan gambaran penyempitan pada esofagus distal.  Tampak gambaran kandidiasis pada mukosa esofagus.

Kandidiasis diterapi dengan pemberian flukonazole intra vena. Bradikardi tidak diterapi secara spesifik hanya dilakukan observasi. Selama dirawat, nutrisi diberikan secara parenteral. Kandidiasis membaik setelah terapi selama 12 hari. Rencana businasi dikerjakan di rawat jalan setelah penderita keluar RS. Terapi businasi dilakukan bertahap hingga ukuran sfingter menjadi cukup optimal. Berat badan mulai meningkat setelah beberapa kali businasi dan terapi dianggap berhasil.

Penulis: dr. Rizka Fathoni Perdana, Sp.THT-KL(K)

Link terkait tulisan di atas: http://www.ejobios.org/article/case-report-management-of-achalasia-with-esophageal-candidiasis-and-bradycardia-at-tertiary-hospital-8454

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu