Waspadai Virus Nipah, Pakar Sebut Indonesia Perlu Lakukan Ini

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI penanganan pasien Covid-19. (Foto: liputan6.com)
ILUSTRASI penanganan pasien Covid-19. (Foto: liputan6.com)

UNAIR NEWS – Virus Nipah, tampak, terdengar asing di telinga sebagian orang. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang tidak tahu menahu perihal virus ini. Virus Nipah merupakan virus yang berkembang di Asia yang diakibatkan kelelawar dari famili Pteropodidae yang termasuk dalam genus Pteropus.

Kelelawar Pteropus merupakan jenis kelelawar yang bisa ditemukan di Indonesia. Tidak tertutup kemungkinan bahwa virus itu akan berkembang di Indonesia dan menyebabkan masalah baru. Virus tersebut bisa menular dari hewan ke manusia, begitupun sebaliknya.

“Jika dilihat dari letak geografisnya, Indonesia yang termasuk Asia Tenggara ini berdampak besar pada masuknya virus,” sebut Dr. Agung Dwi Wahyu Widodo dr., M.Si, M.Ked.Klin, SpMK.

World Health Organization (WHO) juga menyebutkan jika kelelawar di Indonesia memiliki antibodi terhadap virus Nipah. Jadi, sebenarnya mereka juga memiliki kesempatan menjadi sumber penularan virus,” imbuh Agung.

DOSEN Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sekaligus dokter RSUD Dr. Soetomo Surabaya Dr. Agung Dwi Wahyu Widodo dr., M.Si. (Foto: dok. pribadi)

Berkaca pada pandemi Covid-19 di mana pada Januari 2020 dikabarkan belum masuk di Indonesia. Namun, pada Maret 2020, telah ditemukan kasus pertama Covid-19, lalu virus menyebar sangat luas.

Bahkan meski telah memasuki 2021, penyebaran virus belum mencapai titik akhir. Karena itu, meski saat ini seluruh komponen tengah berperang menghadapi Covid-19, persiapan dan pencegahan pada wabah virus Nipah juga harus segera dilakukan.

Pertama, melakukan surveillance sejak dini. “Kemudian dengan hasil surveillance itu, kita bisa mendeteksi sejak dini keberadaan outbreak dari infeksi virus ini,” kata Agung.

Kedua, mempersiapkan laboratorium khusus yang bisa mendeteksi virus Nipah. “Jika hanya melakukan surveillance saja, kemudian kita tidak menerapkan cara mendiagnosanya, maka bisa lolos virus ini,” ungkap Dosen Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut.

Ketiga, mempersiapkan sarana dan prasana untuk merawat pasien yang terinfeksi virus Nipah. Sebab, hingga saat ini belum ada obat atau vaksin untuk virus tersebut. Gejala berat seperti koma atau kejang bisa saja terjadi. Namun yang bisa dilakukan adalah hanya memberikan perawatan suportif.

“Pasien juga bisa mengalami gagal napas, dan gangguan pernapasan lain. Tentunya ini membutuhkan ventilator. Jumlah ICU yang cukup juga harus dipersiapkan untuk mempertahankan kehidupan pasien,” pungkasnya. (*)

Penulis: Icha Nur Imami Puspita

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu