Pertanyaan yang Sering Diajukan Tentang Virus Corona: Sebuah Review dari Buktinya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi virus Corona. (Sumber: BBC)

Dalam dua dekade terakhir, ada dua pandemi utama yang disebabkan oleh virus korona, pada tahun 2003 ada sindrom pernafasan akut yang parah (SARS) dan sindrom pernapasan timur tengah (MERS) pada tahun 2012. Di akhir tahun 2019, dunia terkejut dengan munculnya virus baru yang menyebabkan pneumonia yang dilaporkan oleh Pemerintah Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019. Penyakit baru yang muncul ini pertama kali melanda Wuhan, sebuah kota di pusat Cina. Kasus kematian akibat infeksi virus baru ini pertama kali dilaporkan di Wuhan China pada 9 Januari 2020. Virus itu kemudian dikenal sebagai spesies baru dari keluarga virus korona, yang dikenal sebagai sindrom pernafasan akut yang parah dari coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dan penyakitnya dikenal sebagai Penyakit Coronavirus (COVID-19). Virus baru ini memiliki ciri menyebar dengan cepat dan sekarang telah menjangkau lebih dari 150 negara. WHO telah menyatakan bahwa COVID-19 sebagai pandemi global pada tanggal 11 Maret 2020. Kasus COVID-19 pertama kali di Indonesia dilaporkan pada 2 Maret 2020 di Jakarta, dimana pasien terkonfrimasi pertama adalah 2 orang wanita berusia 64 dan 31 tahun.

Selama kemunculan virus ini, ada beberapa informasi yang kurang jelas tentang COVID-19 yang beredar di masyarakat. Sejak penyakit ini tersebar secara masif di seluruh dunia, ada beberapa asumsi bagaimana sebenarnya virus ini ditularkan di antara manusia, dan apa cara terbaik untuk mencegah transmisi penularan virus ini. Apakah memakai masker dan menjaga jarak fisik adalah cara terbaik untuk memutus rantai transmisi virus ini? Selain itu, pilihan yang relatif lebih murah adalah tes berbasis immunoassay untuk menyaring individu yang terinfeksi masih dalam perdebatan. Memang perlu adanya kehati-hatian untuk menafsirkan hasil uji berbasis immunoassay ini. Saat terinfeksi virus ini yang paling banyak terjadi pada masyarakat adalah penyakit tersebut akan sembuh sendiri. Memperkuat sistem imun adalah salah satu cara untuk mencegah tertularnya COVID-19. Berjemur dilaporkan dapat meningkatkan kekebalan dengan memproduksi vitamin D yang berperan untuk sistem imun. Namun, berjemur juga memiliki efek buruk yaitu dapat memicu perkembangan kanker kulit akibat radiasi sinar UV. Oleh karena itu, penting untuk dipahami bagaimana virus ini sebenarnya menyebar, tes apa yang memadai untuk menentukan individu yang terinfeksi serta bagaimana sebenarnya yang dapat kita lakukan untuk mencegah penularan.

Sudah banyak diketahui bahwa pengobatan SARS-CoV 2 menggunakan angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) yang mana salah satu terapi bagi pasien hipertensi. Hipertensi sendiri tetap menjadi masalah di Indonesia dengan prevalensi 33,4% (95% CI: 32.7-34.0). Oleh karena itu, hal tersebut membuat kecemasan pada penderita hipertensi yang telah dikontrol dengan kelompok terapi obat anti-hipertensi ACE inhibitor (ACEI) atau Angiotensin 2 Receptor Blocker (ARB). Sebagai tambahan, para perokok pada umumnya dianggap menjadi kelompok dengan risiko tinggi terinfeksi penyakit paru-paru. Menurut sebuah penelitian, para perokok biasanya menderita sakit dalam bentuk yang lebih parah dan berkepanjangan, yang kemudian menyebabkan COVID-19, dibandingkan dengan kelompok bukan perokok. Namun, terdapat kandungan nikotin dalam rokok yang belakangan ini diketahui memiliki efek terapeutik untuk COVID-19.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Institute of Tropical Disease, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan artikel pada salah satu jurnal internasional, yaitu The New Armenian Medical Journal. Artikel yang berjudul “Frequently asked questions of novel corona virus: a review of the evidence” ini membahas mengenai ringkasan literatur untuk menjawab beberapa pertanyaan yang sering muncul di masyarakat.

Kesimpulan penting yang di dapatkan dari artikel ini adalah COVID-19 bukan hanya pandemi kesehatan global, tetapi juga masalah multi sektoral. Maraknya berita hoaks dan disinformasi mengenai kasus COVID-19 di masyarakat menimbulkan keresahan dan kesalahpahaman sehingga menyebabkan penanggulangan COVID-19 tidak bisa maksimal. Artikel ilmiah harus menjadi dasar bagi setiap orang untuk menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan oleh masyarakat. Dengan keadaan pandemi saat ini yang mana garis finis tampaknya masih jauh di depan, yang terbaik adalah menemukan cara menghadapi pandemi ini dengan cara uji diagnostik yang tepat kemudian mengisolasi mereka yang sudah terpapar. Hal tersebut dapat memutus rantai infeksi di masyarakat.

Informasi yang lebih rinci dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di The New Armenian Journal, berikut kami sertakan link rujukannya,

https://ysmu.am/website/documentation/files/16b43ae3.pdf

Penulis: Muhammad Miftahussurur

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu