Isi Simposium Internasional, Akademisi Jepang Tertarik Adopsi Program Odontologi Forensik Prof. Mieke

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Mieke Sylvia Margaretha Amiatun Ruth, drg., MS., Sp.Ort(K), Guru Besar Odontologi Forensik FKG UNAIR (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Prof. Dr. Mieke Sylvia Margaretha Amiatun Ruth, drg., MS., Sp.Ort(K) kembali menggemakan ilmu Odontologi Forensik di tingkat internasional. Kali ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigu (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR) tersebut diundang untuk mengisi special lecture Joint International Symposium 2021, Kyushu University, Jepang.

Digelar secara daring pada Sabtu (06/02/2021), Prof. Mieke membawakan kuliah bertajuk Forensic Odontology in Indonesia from A to Z. Tema tersebut menjadi satu-satunya topik kedokteran gigi terkait Odontologi Forensik di antara pembicara lain dari Jepang, Amerika Serikat, maupun Tiongkok.

Dalam kuliahnya, Prof. Mieke secara tegas menyoroti keunggulan Odontologi Forensik di Indonesia yang memiliki keahlian lebih, khususnya di tengah keterbatasan data antemortem masyarakat.

“Odontologi forensik di Indonesia sangat unik dan penuh tantangan. Makanya kita punya kecepatan dan keahlian lebih cepat risiko korban bencana juga lebih tinggi. Beberapa penelitian, metode identifikasi, dan terobosan tersebutlah yang sampaikan dalam simposium kemarin,” terang mantan kepala Departemen Odontologi Forensik UNAIR tersebut.

Usai gelaran simposium itu sendiri, Prof. Mieke mengungkapkan bahwa para akademisi Jepang sangat tertarik untuk mengadopsi program yang ia jalankan di beberapa daerah di Indonesia. Program tersebut berupa buku personal identifikasi bagi setiap individu yang memuat berbagai informasi terkait data antemortem mereka. Identifikasi itu pun dilakukan secara mandiri melalui penyuluhan, khususnya bagi para generasi muda.

“Saya beberapa tahun belakangan menjalankan program ini di daerah Malang dan sekitarnya. Pelatihan dan penyuluhannya umumnya saya berikan pada para pelajar. Dan program inilah yang ingin mereka (para akademisi Jepang, red) adopsi,” jelas ahli forensik yang telah malang melintang dalam berbagai identifikasi korban bencana dan kriminalitas itu.

Selain mengisi simposium internasional, Prof. Mieke ternyata juga acapkali diundang untuk mengajar dan memberikan kuliah di beberapa universitas di Jepang, seperti Tohoku University, Kagoshima University, Hiroshima University, hingga yang terbaru Kyushu University.

Usai simposium virtual itu, Prof. Mieke kini tengah melanjutkan proses pengesahan naskah akademik agar program Spesialis Odontologi Forensik dapat segera dibuka. “Departemen Odontologi Forensik kita itu satu-satunya di Indonesia. Dan usai melihat minat dari para akademisi luar negeri, kami ingin mempercepat langkah untuk membuka program Spesialis Odontologi Forensik, yang jujur saja telah menarik antusiasme tinggi dari banyak pihak,” ungkapnya.

Bahkan melalui lawatannya di berbagai simposium dan kuliah tamu, Prof. Mieke juga telah menyiapkan sederet pengajar asing dari Brazil, Belanda, Belgia, maupun Jepang yang siap diundang apabila program Spesialis Odontologi Forensik siap dibuka.

“Odontologi forensik berperan besar dalam identifikasi korban, khususnya di situasi bencana. Maka saya harap perhatian terhadap ranah studi ini semakin besar. Terlebih karena kita UNAIR memiliki satu-satunya Departemen Odontologi Forensik di Indonesia,” tandasnya.(*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp