Program Pengendalian Penyakit Kronis untuk Pasien Diabetes, Seberapa Efektif?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Yalenews

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang termasuk dalam penyakit tidak menular. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit kronis dengan angka kejadian yang tinggi di dunia. Di Indonesia, presentase kejadian penyakit ini meningkat dari 6.9& pada 2013 menjadi 10.9% pada tahun 2018. Peningkatan kejadian penyakit ini di Indonesia terjadi karena beberapa kendala, antara lain kesulitan dalam menjangkau fasilitas kesehatan, ketersediaan obat untuk penyakit DM, dan kualitas tenaga kesehatan dalam pencegahan dan pengobatan penyakit DM.

Karena tingginya angka kejadian DM, pemerintah Indonesia melalui BPJS meluncurkan program untuk pengendalian penyakit DM yang diberi nama Program Pengendalian Penyakit Kronis (PROLANIS). Hal ini atas dasar bahwa DM dapat menyebabkan berbagai komplikasi ke berbagai organ termasuk jantung dan ginjal. Program ini merupakan program kesehatan yang terintegrasi antara komunitas pasien, tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan, dan BPJS. Tujuan dari program ini adalah mengendalikan parameter klinis pasien, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Program ini secara spesifik didesain untuk dapat diterapkan di level faskes primer. Untuk dapat bergabung dalam program ini, persyaratannya adalah peserta tersebut terdiagnosa dengan penyakti DM dan terdaftar dalam BPJS.

Program ini memiliki berbagai kegiatan rutin, antara lain: konsultasi medis khusus untuk perserta PROLANIS; edukasi untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan dalam upaya memulihkan penyakit dan mencegah timbulnya kembali penyakit serta meningkatkan status kesehatan bagi peserta PROLANIS; SMS gateway untuk mengingatkan peserta PROLANIS ketika sudah perlu untuk kontrol kembali; kunjungan ke rumah untuk pemberian informasi/edukasi kesehatan diri dan lingkungan bagi peserta PROLANIS dan keluarga. Selain itu, peserta PROLANIS juga mendapatkan pemeriksaan darah rutin dalam rangka untuk mengevaluasi kondisi pasien melalui kadar beberapa parameter dalam darah.

Namun begitu, belum pernah ada penelitian yang dilakukan untuk mengevaluasi seberapa efektif PROLANIS dalam mencapai tujuannya untuk mengendalikan penyakit DM agar tidak terjadi komplikasi. Oleh karena itu, kami melakukan penelitian pendahuluan di salah satu puskesmas di suatu kota di Jawa Timur untuk mengevaluasi perubahan kondisi termasuk parameter dalam darah pasien-pasien DM yang mengikuti PROLANIS sejak awal program ini diberlakukan secara rutin hingga 18 bulan setelahnya. Di puskesmas tempat penelitian ini dilakukan, pemeriksaan darah tersebut dilakukan setiap 6 bulan sekali. Adapun parameter dalam darah yang kami evaluasi meliputi kadar gula darah, profil lemak, dan fungsi ginjal. Kami menemukan bahwa dari seluruh parameter yang diperiksa, hanya kadar trigliserida, salah satu profil lemak tubuh, yang membaik. Sementara itu, indeks massa tubuh serta salah satu parameter fungsi ginjal yaitu kadar urea mengalami perburukan yang signifikan pada pasien-pasien DM peserta PROLANIS tersebut. Jika dilihat dari presentase pasien yang mencapai target yang telah ditetapkan oleh Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, maka hanya pada parameter trigliserida dan HDL saja yang mengalami peningkatan, sedangkan presentase jumlah pasien yang mencapai target di parameter lainnya mengalami penurunan.

Dari studi pendahuluan yang kami lakukan ini, dapat dilihat bahwa PROLANIS sepertinya kurang efektif dalam mengendalikan penyakit DM dan mencegah terjadinya komplikasi. Namun begitu, masih perlu dilakukan studi lebih lanjut dengan jumlah sampel dan jumlah puskesmas yang lebih banyak untuk mendapatkan hasil yang lebih konklusif terkait efektivitas PROLANIS ini dalam mencapai target yang ditentukan. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menjadi bahan untuk mengevaluasi kegiatan PROLANIS yang sekarang sedang berlangsung, sehingga kedepannya PROLANIS dapat mencapai target yang sudah direncanakan dengan lebih baik.

Penulis: dr. Firas Farisi Alkaff dan dr. Sovia Salamah

Informasi lebih detail terkait tulisan kami dapat dibaca di: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33472499/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu