Cryptosporidiosis pada Anjing

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh CNN Indonesia

Anjing adalah salah satu hewan peliharaan yang tinggal di tempat yang sama dengan pemiliknya, oleh sebab itu peran anjing sangat potensial sebagai sumber penyebaran penyakit zoonosis. Salah satu penyakit zoonosis yang ditularkan dari anjing adalah Cryptosporidiosis. Penyakit ini digolongkan waterborne diseases karena penularannya sering melalui air. Gejala klinis anjing yang terinfeksi Cryptosporidium adalah sakit perut yang ditandai diare dengan bau feses yang menyengat, bercampur dengan darah, lendir dan reruntuhan epitel usus. Diare yang tidak tertolong dapat mengakibatkan kematian. 

Kasus pertama cryptosporidiosis pada manusia dilaporkan pada tahun 1976. Tahun 1983 ditemukan cryptosporidiosis pada manusia. Sebagian besar kasus pada manusia disebabkan oleh C. hominis dan C. parvum. Analisis molekuler membuktikan bahwa spesies lain, termasuk C. meleagridis, C. suis, C. muris, C. felis dan C. canis dapat menginfeksi manusia dan dikaitkan dengan penyakit pada penderita imunosupresif dan imunokompeten. Infeksi C. canis di alam telah dilaporkan pada serigala (Vulpes vulpes) anjing hutan (Canis latrans).

Cryptosporidium spp. adalah parasit yang bersifat obligat intraseluler yang merupakan penyebab gejala diare yang dapat mengancam jiwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi cryptosporidiosis di dataran rendah adalah 28,74%, sedangkan di dataran tinggi sebesar 45,88%. Hal ini menunjukkan ada hubungan antara cryptosporidiosis dan topografi lahan. Penelitian Cryptosporidiosis pada anjing di Indonesia khususnya di Kota Surabaya belum banyak dilaporkan. Data yang ada sebatas pada manusia dan beberapa hewan seperti pada sapi dan biawak.

Diagnosis Cryptosporidiosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan feses dengan bantuan  mikroskop, tetapi cara tersebut tidak dapat membedakan sampai tingkat spesies.  Deteksi molekuler menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat mengetahui mikroorganisme hingga ke level spesies.  Salah satu gen target yang dapat digunakan untuk mendeteksi Cryptosporidium spp. adalah gen 18S SSU rRNA.  Gen tersebut memiliki laju evolusi yang lambat sehingga tepat digunakan acuan untuk menganalisis divergensi suatu spesies mikroorganisme.  

Penelitian untuk mendeteksi C. canis yang menginfeksi anjing di Rumah Sakit Hewan dan klinik hewan di beberapa wilayah di Kota Surabaya sudah dilakukan. Identifikasi mikroorganisme penyebab dilakukan dengan mikroskopis dan dikuatkan menggunakan metode PCR. Dari 80 feses anjing diare diambil dari Rumah Sakit Hewan dan klinik hewan di beberapa wilayah Kota Surabaya digunakan sebagai bahan penelitian. Sampel feses diperiksa menggunakan metode apung dan modifikasi pewarnaan tahan asam (Ziehl Neelsen). Sampel yang positif mengandung Cryptosporidium sebagian dikonfirmasi dengan PCR menggunakan primer khusus C. canis F:  5’ GCA GGC TTT TGC CTT GAA TA 3’ 3’ dan R: 5’ GAT TTG TTA AAG ACA AAC TA. 

Hasil pemeriksaan mikroskopis didapatkan 40 dari 80 sampel (50%) ditemukan ookista Cryptosporiidum spp. berbentuk bulat dengan diameter 2-6 μm.  Morfologi ookista Cryptosporidium spp. memiliki ukuran sangat kecil, tidak memiliki ciri khas sehingga sulit dideteksi menggunakan pemeriksaan mikroskopis sehingga untuk mempermudah dibantu dengan pewarnaan tahan asam.  Pemeriksaan mikroskopis memiliki tingkat keakuratan lebih rendah dibandingkan dengan pemeriksaan molekuler.  Bentukan ookista dapat dikelirukan dengan bentukan mikroorganisme lain seperti sel jamur, sel tumbuhan dan reruntuhan/debris sel yang menyerupai ookista. Hasil deteksi C. canis pada anjing di Kota Surabaya dengan menggunakan metode PCR dari 10 sampel positif dengan pemeriksaan mikroskopis didapatkan 7 sampel positif dan 3 sampel negatif. 

Tiga sampel negatif dapat diduga sebagai ookista spesies Cryptosporidium lain atau bukan ookista Cryptosporidium spp. Metode PCR mempunyai spesifisitas dan sensitivitas tinggi sehingga layak untuk dijadikan acuan konfirmasi deteksi mikroorganisme. Metode PCR memiliki keunggulan dapat mendeteksi mikroorganisme target secara spesifik hingga ke level spesies, namun metode PCR memiliki kekurangan, karena harganya relatif mahal dibandingkan dengan uji molekuler lainnya. Keberadaan C. canis pada anjing di Kota Surabaya tidak terlepas dari peran anjing dan lingkungan pemeliharaan. Anjing dengan gejala klinis diare memiliki potensi menularkan ke anjing sehat, hewan lain dan manusia. 

Cryptosporidiosis bersifat self-limited pada penderita imunokompeten sehingga dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Tidak ada pengobatan spesifik untuk cryptosporidiosis. Rehidrasi telah terbukti efektif membantu pasien. Pemberian antibodi dan antibiotik saat ini sedang dalam penelitian. Obat imunosupresif sebaiknya dihentikan untuk sementara atau mengurangi dosisnya. Pada penderita imunosupresif, terapi obat-obatan harus diberikan untuk meningkatkan status imun dan mengurangi gejala penyakit.

Tidak ada vaksin yang efektif dan obat-obatan profilaksis untuk cryptosporidiosis, sehingga langkah yang tepat sebagai pengendalian adalah mencegah kontak makanan dan minuman terhadap feses hewan atau manusia penderita. Paparan udara kering selama empat jam dapat membunuh ookista Cryptosporidium spp. Kebersihan lingkungan kandang dan desinfeksi tempat yang diduga terkontaminasi adalah hal yang sangat penting. Perlu upaya pengendalian infeksi Cryptosporidium spp. yang melibatkan pemilik anjing, dokter hewan dan instansi terkait.  

Penulis: Mufasirin

Deteksi Cryptosporidium canis pada Anjing di Kota Surabaya (CRYPTOSPORIDIUM CANIS DETECTION IN DOGS IN THE CITY OF SURABAYA). https://ojs.unud.ac.id/index.php/jvet/article/view/62640

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu