Profesor dari Tiga Negara Bagikan Strategi Pengembangan Kampus dalam Rapim Perdana 2021

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Wakil Rektor IDI Muhammad Miftahussurur dr., M.Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D., saat menjadi moderator Deputy President of Innovation and Enterprise National University of Singapore Prof. Freddy Boey dalam sharing session Rapat Kerja Pimpinan UNAIR pada Rabu (3/3/2021).

UNAIR NEWS – Rapat kerja pimpinan (Rapim) kembali digelar pada Rabu (3/2/2021) secara daring. Dihadiri oleh sederat petinggi universitas dan fakultas Universitas Airlangga (UNAIR), Rapim kali ini juga mengundang beberapa akademisi asing yang membagikan inspirasi dalam manajemen universitas.

Pertama, hadir secara virtual sebagai pemapar pertama Prof. Dr. Yong Zulina Zubairi selaku Associate Vice-Chancellor (International) Universiti Malaya, Malaysia. Dalam paparan yang berjudul “Strengthening quality in education through innovation in academic and related areas: Universiti Malaya’s Experience”, Prof. Zulina menjelaskan berbagai hal tentang upaya yang dilakukan Universiti Malaya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan inovasi dalam bidang akademik.

Selanjutnya, sebagai pemapar kedua hadir secara virtual pula Director of the ASEAN Center, Osaka University Prof. Hitoshi Hisada. Dalam paparan yang berjudul “Strengthening research capacities and capabilities”, Prof. Hitoshi menjelaskan berbagai upaya upaya menguatkan riset dan kolaborasi. Terlebih, upaya-upaya menggandeng pihak industri untuk turut menjadi hilir dari proses riset dan inovasi yang dilakukan oleh institusi pendidikan.

Prof. Dr. Yong Zulina Zubairi selaku Associate Vice-Chancellor (International) Universiti Malaya, Malaysia.

Usai istirahat, rapim dilanjutkan dengan paparan dari Deputy President of Innovation and Enterprise National University of Singapore Prof. Freddy Boey yang memaparkan progres NUS dalam pengembangan inovasi hingga mampu menelurkan lebih dari 800 start-up ciptaaan para alumni. “Orientasi inovasi dari universitas kini harus bergerak dari riset menuju komersialisasi. Bukan untuk menghasilkan uang, tapi untuk melatih sumber daya manusia yang unggul,” papar ahli rekayawasan tersebut.

Prof. Freddy menerangkan, bahwa NUS selama ini memiliki tiga orientasi obyektif dalam kolaborasi inovasi dan kewirausahaan. Orientasi pertama adalah pengembangan wirausahawan yang berusaha melatih para intelektual untuk mampu berpikir dan berdaya saing ekonomi. Orientasi kedua adalah penumbuhan inovasi dan diikuti dengan orientasi penciptaan usaha yang unggul.

Ketiga orientasi tersebut tercermin dalam berbagai program inovasi NUS. Salah satunya adalah BLOCK71 yang menjadi inkubator bisnis dan inovasi pertama di Singapura. Ada pula program berdurasi satu tahun MSc Venture Creation yang mendorong pesertanya untuk mendirikan perusahaan start-up. 

Sementara itu Graduate Research Innovation Program (GRIP) menjadi wadah bagi staf peneliti dan professor untuk mendorong komersialisasi melalui start-up. “Program tersebut berhasil membangun afiliasi dengan 250 perusahaan dan menawarkan pendanaan lebih dari seratus ribu dolar,” imbuhnya. 

Hal tersebut membuahkan jejaring internasional riset dan inovasi begitu luar biasa. Tercatat, NUS secara konsisten telah mengirimkan ribuan mahasiswanya ke 15 kota entrepreneurial hotspot yang tersebar di berbagai negara, mulai dari Silicon Valley Amerika Serikat, Beijing, Tel Aviv, Munich, Nagoya, Bandung, dan lain sebagainya.

Prof. Freddy menguraikan bahwa keberhasilan NUS dalam mengembangkan inovasi dan skill mahasiswanya berangkat dari kemampuan adaptasi terhadap Revolusi Industri 4.0 yang membawa tren smart platform.

“Dua tahun terakhir, NUS meningkatkan kuota mahasiswa ilmu komputer dua kali lipat. Digital computer, artificial intelligence, maupun coding adalah tren dan masa depan bagi ruang inovasi universitas,” jelasnya.

Maka dalam diskusi yang dimoderatori oleh Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi, dan Informasi dr. M. Miftahussurur, M.Kes., Sp. PD-KGEH., Ph.D. tersebut, Prof. Freddy menekankan perubahan akademis yang harus segera dieksekusi oleh semua universitas, termasuk UNAIR. 

“Institusi akademik berkewajiban untuk mencetak lulusan yang tidak hanya relevan di masa kini, tapi juga masa mendatang. Kita harus mampu menjadi pemimpin inovasi dan berkontribusi dalam realisasi riset nasional. NUS telah berada dalam jalannya untuk melakukan itu. Dan saya yakin UNAIR pun demikian,” tandasnya.(*)

Penulis: Intang Arifia dan Nuri Hermawan

Editor: Khefty Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu