Kemoprofilaksis Pada Individu yang Kontak dengan Penderita Morbus Hansen

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi penyakit hansen. (Sumber: Wikipedia)

Lepra atau Morbus Hansen (MH) merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae dan Mycobacterium lepromatosis. Penyakit ini dinamakan sesuai dengan nama penemunya yakni Hansen dan merupakan penyakit peradangan granulomatosa dari saraf perifer serta mukosa tractus respiratorius bagian atas. Lesi pada kulit merupakan tanda awal yang tampak. Jika tetap tidak terobati, penyakit Morbus Hansen bisa menjadi progresif dan menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, lengan, tungkai, serta mata.

Penyakit Morbus Hansen telah dikenal lama yakni lebih dari 4000 tahun yakni pada masa peradaban China, Mesir serta India kuno. Morbus Hansen dapat ditemukan di seluruh dunia, namun penyakit ini bersifat endemik di daerah-daerah tertentu, seperti Afrika, Asia Tenggara serta Amerika Selatan. Pada tahun 1995, WHO memperkirakan setidaknya 2 hingga 3 juta orang di seluruh dunia menjadi cacat permanen karena Morbus Hansen.

Deteksi penyakit secara dini serta pengobatan yang tepat menggunakan regimen multidrug therapy (MDT) merupakan batu pondasi dari program pemberantasan penyakit Morbus Hansen. Sejak pengenalan penggunaan MDT pada tahun 1981, lebih dari 15 juta pasien MH  di seluruh dunia telah memperoleh pengobatan. Penggunaan MDT juga telah menurunkan angka prevalensi penyakit Morbus Hansen dari 5,2 juta pasien di tahun 1980an menjadi sekitar 200000 pasien pada dekade ini.

Deteksi dini penyakit Morbus Hansen pada individu-individu yang memiliki kontak dengan pasien Morbus Hansen serta pemberian kemoprofilaksis merupakan strategi utama dalam memutus rantai penyebaran penyakit Morbus Hansen.Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian kemoprofilaksis maupun gabungan dengan pemberian imunoprofilaksis pada individu-individu yang memiliki kontak dengan pasien Morbus Hansen cukup efektif dalam menurunkan angka deteksi kasus Morbus Hansen yang baru di daerah endemis.

Terdapat berbagai macam pilihan obat yang dapat digunakan sebagai kemoprofilaksis pada individu-individu yang memiliki kontak dengan pasien Morbus Hansen. Namun sayang, efektivitas regimen profilaksis yang ada kurang  memuaskan, terutama karena ditemukan berbagai strain kuman M. leprae yang resisten terhadap berbagai jenis obat.

Diskusi

Kemoprofilaksis didefinisikan sebagai pemberian obat-obatan, termasuk antibiotik, untuk mencegah infeksi berkembang atau terjadinya progresi dari infeksi menjadi suatu penyakit.  Deteksi penyakit secara dini serta pengobatan yang tepat menggunakan regimen multidrug therapy (MDT) merupakan batu pondasi dari program pemberantasan penyakit Morbus Hansen. Sejak pengenalan penggunaan MDT pada tahun 1981, lebih dari 15 juta pasien Morbus Hansen  di seluruh dunia telah memperoleh pengobatan. Penggunaan MDT juga telah menurunkan angka prevalensi penyakit Morbus Hansen dari 5,2 juta pasien di tahun 1980an menjadi sekitar 200000 pasien pada dekade ini.

Kontak dengan penderita Morbus Hansen merupakan faktor resiko untuk tertular penyakit MH. Individu yang memiliki kontak dengan pasien kasus Morbus Hansen baru mempunyai resiko tinggi untuk tertular infeksi Mycobacterium leprae, dan hal ini dapat dikelompokkan berdasarkan derajat kedekatannya dengan pasien Morbus Hansen baik secara kedekatan fisik maupun kedekatan hubungan darah (keluarga atau kerabat, tinggal di rumah yang sama, serta tetangga).

Kemoprofilaksis menggunakan antibiotik serta imunoprofilaksis dengan vaksinasi BCG telah menjadi salah satu upaya pencegahan terjadinya Morbus Hansen pada individu-individu resiko tinggi terpapar kuman Mycobacterium leprae.Namun hingga saat ini, baik kemoprofilaksis maupun imunoprofilaksis belum dimasukkan dalam rekomendasi resmi yang dikeluarkan oleh WHO untuk penatalaksanaan kasus Morbus Hansen.Penelusuran individu kontak pasien Morbus Hansen serta kemoprofilaksis telah menurunkan angka deteksi kasus Morbus Hansen baru di Brazil dan kecenderungannya terus menerus. Penyakit Morbus Hansen diprediksi akan tuntas diberantas pada tahun 2030.

Idealnya, kemoprofilaksis yang optimal mempunyai efektivitas yang maksimal serta resiko efek samping yang minimal. Kandidat antibiotik sebagai kemoprofilaksis Morbus Hansen sebaiknya diabsorpsi secara oral dengan cepat tanpa memiliki interaksi gastrointestinal, mampu melakukan penetrasi intraseluler ke dalam jaringan yang terinfeksi Mycobacterium leprae, serta dieliminasi  secara lambat oleh tubuh (memiliki waktu paruh yang panjang) sehingga efeknya jangka panjang dan cukup satu kali regimen. Namun sayangnya, proteksi terhadap Morbus Hansen akibat kemoprofilaksis hanya bertahan dalam jangka waktu yang pendek (rata-rata dua hingga tiga tahun) serta kurang efektif pada individu yang memiliki kontak sangat dekat dengan pasien Morbus Hansen.

Beberapa antibiotik telah terbukti memiliki aktivitas baik bakteriostatik maupun bakterisidal terhadap kuman Mycobacterium leprae. Antibiotik seperti dapson, klofazimin, kuinolon, minosiklin, serta golongan makrolid (azitromycin dan clarithromycin) kurang efektif sebagai kemoprofilaksis pada Morbus Hansen. Rifamycin (rifampisin dan rifapetin) serta diarylquinoline (R207910) merupakan dua golongan antibiotik yang sesuai sebagai kemoprofilaksis Morbus Hansen.

Kesimpulan   

Strategi kemoprofilaksis yang efektif tidak hanya memperhatikan pilihan jenis obat, dosis, dan frekuensi pemberian, tetapi juga jumlah ideal serta jenis individu-individu kontak pasien Morbus Hansen yang perlu ditelusuri, diperiksa serta diberi pengobatan. Berdasarkan pengamatan, penerimaan inidividu-individu kontak terhadap program kemoprofilaksis cukup baik dan positif. Efektivitas pemberian kemoprofilaksis kepada individu-individu kontak maupun kemoprofilaksis pada populasi massal di daerah endemis telah dievaluasi pada berbagai penelitian.

Penulis: Nanda Rachmad Putra Gofur

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.ijmsonline.in/index.php/ijms/article/view/162/82

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu