Penentuan Keganasan Tumor Ovarium Saat Operasi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh sains kompas

Tumor ovarium adalah benjolan (pembesaran) abnormal yang terjadi di ovarium, yang dapat merupakan kelainan neoplasma dan bukan neoplasma. Kelainan non-neoplasma ovarium yang bisa memberikan gambaran pembesaran ovarium antara lain: kista endometriosis, kista folikel dan proses infeksi. Neoplasma dapat dibedakan menjadi neoplasma ganas, borderline, dan jinak. Neoplasma ganas (disebut kanker) ovarium menempati urutan ke tujuh dari semua kanker pada wanita di dunia, dengan perkiraan 239.000 kasus dan 152.000 kematian setiap tahun. Mortalitas kanker ovarium di Indonesia sebesar 7,6%. Diagnosis pre-operasi tumor ovarium sering kali sulit ditegakkan karena tumor jinak maupun tumor ganas dapat memberikan gambaran klinik, radiologik dan laboratorik yang mirip, sedangkan tindakan operasi tumor ovarium tergantung dari jenis tumornya. Penentuan diagnosis saat operasi berlangsung sangat penting untuk memberikan dasar tindakan operasi yang sesuai untuk pasien. 

Pemeriksaan patologi tumor ovarium intraoperasi mencakup pemeriksaan secara makroskopik (pemeriksaan dengan mata telanjang), sitologi imprint (pemeriksaan sel dari hapusan tumor) dan potong beku (sampel tumor dibekukan untuk selanjutnya dibuat preparat dan periksa secara mikroskopik). Gambaran makroskopik, usia pasien dan informasi klinik lain yang relevan, dapat membantu dokter spesialis patologi anatomi dalam membuat diagnosis banding saat melakukan pemeriksaan intraoperasi. Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Soetomo untuk menentukan tingkat akurasi dan kesesuaian diagnosis pemeriksaan patologi intraoperasi pada tumor ovarium. Semua data pemeriksaan patologi intraoperasi pada tumor ovarium di RSUD Dr. Soetomo selama 5 tahun, periode tahun 2012 sampai dengan 2016 dikumpulkan. Terdapat 744 kasus pemeriksaan tumor ovarium intraoperasi. Sepuluh kasus dikeluarkan dari penelitian karena diagnosis dari pemeriksaan intraoperasi ditunda, antara lain karena: jaringan mengalami nekrosis luas, jaringan fibrotik, dan jaringan tumor yang sangat besar. Semua kasus dilanjutkan pemeriksaan dengan paraffin coupe sebagai standar baku.

Pada penelitian ini didapatkan rentang usia pasien tumor ovarium adalah 10 tahun sampai 80 tahun, dengan rerata 44,8 tahun. Hasil pemeriksaan paraffin coupe mendapatkan jenis kelainan non-neoplasma pada ovarium terbanyak adalah kista endometriosis (117 kasus), diikuti oleh abses (12 kasus). Neoplasma jinak yang terbanyak adalah mature teratoma (71 kasus), diikuti oleh mucinous cytadenoma (68 kasus) dan serous cystadenoma (25 kasus). Neoplasma borderline yang terbanyak adalah neoplasma jenis mucinosum (44 kasus), diikuti oleh jenis serosum (13 kasus). Neoplasma ganas terbanyak adalah karsinoma mucinosum (86 kasus), diikuti jenis karsinoma serosum (77 kasus) dan karsinoma endometrioid (59 kasus). Terdapat 77 kasus dengan diagnosis yang tidak sesuai antara intraoperasi dan paraffin coupe, dengan rincian: 69 kasus negatif palsu dan 8 kasus positif palsu.

Ketidaksesuaian terbanyak pada tumor jenis mucinosum yang borderline. Hal ini disebabkan karena tumor mucinosum sering kali berukuran besar dan memerlukan banyak sampling dari berbagai area tumor. Pemeriksaan tumor intraoperasi tidak dapat megambil banyak sampling tumor karena keterbatasan waktu mengingat pemeriksaan ini dikerjakan saat operasi sedang berlangsung. Perhitungan statistik mendapatkan nilai akurasi pemeriksaan patologi intraoperasi tumor ovarium sebesar 89,5%. Sensitivitas untuk tumor jinak, borderline dan ganas secara berurutan adalah 98,49%, 71,19% dan 84,01%. Spesifisitas untuk tumor jinak, borderline dan ganas secara berurutan adaah 90,32%, 95,11% dan 98,72%. Nilai prediksi positif untuk tumor ganas sebesar 98,3% dan tumor jinak sebesar 89,32%. Nilai prediksi negatif untuk tumor ganas sebesar 87,5% dan tumor jinak sebesar 98,64%.

Dibandingkan dengan berbagai penelitian yang sama di negara lain, nilai akurasi, sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif  dan nilai prediksi negatif untuk pemeriksaan intraoperasi tumor ovarium di RSUD Dr. Soetomo mendapatkan hasil dalam rentang yang sama. Nilai sensitivitas pemeriksaan intraoperasi tumor ovarium tinggi untuk tumor jinak dan ganas, namun lebih rendah untuk tumor borderline terutama kelompok neoplasma jenis mucinosum. Dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan pemeriksaan tumor ovarium intraoperasi memiliki nilai diagnosis yang dapat dipercaya untuk membedakan jenis tumor jinak dan ganas. Keterbatasan pemeriksaan tumor ovarium intraoperasi adalah jumlah sampling tumor, ketebalan preparat potong beku dan artefak karena proses pembekuan jaringan yang dapat mengaburkan gambaran tumor secara mikroskopik.

Penulis: dr. Dyah Fauziah, SpPA(K)

Berikut link jurnal terkait artikel di atas: http://www.mjpath.org.my/2020/v42n3/ovarian-tumours.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu