Prevalensi Infeksi TB-Paru pada Penderita HIV

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Lampung Post

Infeksi HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). Kondisi AIDS ini dipicu oleh menurunnya kekebalan tubuh pasien sehingga mudah diinfeksi oleh mikroorganisme patogen lainnya. Meskipun infeksi oleh HIV ini mengalami trend penurunan tetapi banyak orang yang masih rentan terhadap infeksi HIV terutama kelompok kunci. Kelompok kunci ini merupakan kelompok dengan resiko infeksi HIV tinggi dan kesuksesan program pencegahan dan pengobatan HIV pada kelompok ini akan berpengaruh terhadap kesuksesan program pencegahan dan pengobatan HIV pada masyarakat sekitarnya. Sehingga kelompok ini perlu dilibatkan secara aktif didalam kedua program tersebut yakni baik pencegahan maupun pengobatan. Kementrian Kesehatan telah memiliki program untuk dapat menurunkan infeksi HIV yakni dengan mengedukasi kelompok kunci ini untuk menurunkan transmisi HIV, tingkat mortalitas serta stigma negative dan diskriminasi yang diterima dari masyarakat sekitarnya. 

Stigma negative dan diskriminasi ini mengakibatkan masyarakat yang memiliki resiko tertular HIV memilih untuk tidak segera memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan masyarakat. Mereka akan memeriksakan diri ketika gejala klinis akibat infeksi oportunistik atau infeksi sekunder ini muncul. Salah satu infeksi sekunder yang sering ditemui adalah infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis (Mtb) yang juga dikenal sebagai tuberculosis. Pasien HIV ini rentan terinfeksi oleh TB laten dan ko-infeksi dengan TB ini juga dapat meningkatkan progresivitas infeksi oleh HIV itu sendiri. 

Dari data penderita TB sendiri hamper 60% merupakan pasien yang juga memiliki ko-infeksi dengan HIV. Sehingga pasien dengan TB pun rentan untuk terinfeksi HIV. Hal ini diakibatkan oleh penurunan kekebalan tubuh sehingga rentan terhaap mengalami ko-infeksi terhadap lebih dari satu mikoroganisme pathogen. Di Indonesia sendiri, infeksi oleh TB ini merupakan infeksi yang sering ditemui dan bahkan menempatkan Indonesia di urutan kedua sebagai negara dengan beban infeksi TB yang tinggi di dunia.  Infeksi sekunder oleh Mtb (TB) ini merupakan infeksi sekunder terdua terbanyak yang ada di Indonesia dan menjadi penyebab tertinggi kasus kematian pada pasien HIV.  Dan jika infeksi oleh TB ini dapat segera terdeteksi maka dapat menurunkan tingkat mortalitas akibat ko-infeksi TB pada pasien HIV.

Sedangkan jika dilihat sebaran penderita TB berdasarkan provinsi di Indonesia Jawa Barat dan Jawa Timur merupakan dua propinsi dengan jumlah penderita TB yang tinggi. Bahkan di tahun 2018, jumlah penderita TB di Jawa Timur mencapai 20.535 kasus. Hal ini yang membuat kami tertarik untuk melihat prevalensi infeksi TB ini pada pasien yang baru didiagnosa oleh HIV. Infeksi oleh TB ini menandai adanya infeksi sekunder yang telah terjadi pada pasien dengan HIV.  Hasil dari studi kami menunjukkan ada sekitar 13% pasien yang baru didiagnosa HIV juga terinfeksi oleh TB. Jika dilihat dari CD4 (sebagai penanda jumlah sel T imun) menunujukkan nilai yang sangat rendah. Sehingga pasien tersebut sangat rentan terhadap infeksi sekunder. Hasil studi kami menunjukkan bahwa infeksi TB pada pasien HIV ini tidak dipenngaruhi oleh jenis kelamin, usia dan perbedaan jumlah CD4. Meskipun keseluruhan data menunjukkan jumlah CD4 yang menurun pada pasien yang memiliki ko-infeksi HIV-TB. Pada studi selanjutnya jumlah subjek penelitian harus ditingkatkan sehingga benar-benar bisa melihat gambaran ko-infeksi HIV-TB pada saat jumlah CD4 menurun yang menggambarkan kondisi kekebalan tubuh yang juga menurun. 

Dari hasil yang diperoleh pada studi ini menekankan perlunya edukasi dini kepada kelompok-kelompok kunci untuk dapat segera memeriksakan resiko infeksi HIV. Sehingga semakin cepat deteksi HIV ini dilakukan maka pengobatan dapat segera diberikan dan menghindari adanya penularan serta infeksi sekunder oleh mikoorganisme pathogen lainnya. Selain itu program pemerintah untuk mengedukasi masyarakat agar tidak memberikan stigma negative dan mendiskriminasi pasien dengan HIV atau dengan resiko infeksi HIV dapat turut meningkatkan keberhasilan pencegahan dan pengobatan HIV. Dan pada akhirnya tingkat mortalitas tinggi akibat infeksi HIV ataupun akibat infeksi sekunder pada pasien HIV dapat dihindari. 

Penulis: Dwi Wahyu Indriati, Ph.D

Informasi detail dari artikel ini dapat dibaca lebih lengkap pada publikasi ilmiah berikut: 

Fatimatuzzuhro. et al, 2020. The Prevalence of Pulmonary Tuberculosis Among Newly Diagnosed HIV/AIDS Individuals Admitted in Gresik, Indonesia. Malaysian Journal of Medicine and Health Science. 16 (Supp 16): 4-8.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu