Penggunaan Media Sosial Dikalangan Pekerja Migran Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Money Kompas

Artikel kami membahas mengenai penggunaan media social di kalangan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Media sosial yang bercirikan berjejaring berhasil mengangkat narasi kelompok tertentu yang belum banyak terdengar dan luput dari sorotan media arus utama. Pertanyaan yang kami ajukan adalah: (1) sampai sejauh mana PMI menggunakan social media sebagai media aktivisme social terutama untuk isu-isu perlindungan PMI?; (2) Apa yang menjadi konten utama dari social media yang diunggah oleh PMI?; (3) sejauh mana konten mdia yang diproduksi PMI dapat mempengaruhi upaya perlindungan? Kami menggunakan kerangka aktivisme media sosial dalam platform media sosial. Peneliti mengumpulkan data pada Maret-Oktober 2019 melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan diskusi terfokus yang menghadirkan 15 perwakilan dari pendamping, LSM, dan akademisi di Malang. Kami juga melakukan wawancara dan diskusi dengan  25 perwakilan PMI dengan pengalaman penempatan di Hong Kong, Taiwan, Malaysia, dan Arab Saudi. 

Kami menemukan bahwa mayoritas PMI menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi antara dirinya dan keluarganya di Tanah Air; namun, konten media sosial untuk aktivisme sosial masih rendah, terutama untuk isu perlindungan PMI. Beberapa narasi dari PMI di social media mereka. Pertama, PMI lebih banyak memuat aktivitas positif yang mereka lakukan. Kedua, PMI lebih banyak menginformasikan hal-hal umum yang tidak menyangkut majikan dan agent. Mereka melakukan ini karena ada ketakutan akan mengancam keberlangsungan kontrak. Ketiga, PMI kebanyakan memberikan informasi kabar yang dikemas dengan santai dan jenaka. Narasi positif tersebut banyak dipengarui oleh budaya negara asal dan negara tujuan. PMI yang ditempatkan di negara yang memiliki budaya lebih terbuka, lebih jelas hukum local dalam perlindungan PMI maka isi social media PMI lebih terbuka dan mau memberikan testimoni atas masalah-masalah yang ada disekitar mereka. Budaya negara asal juga ikut berpengaruh.

Ada empat pengaruh. Pertama, di Indonesia mengabarkan kegagalan adalah hal yang tabu. Salah satu informan, pendamping PMI, menceritakan bahwa ada budaya malu menyampaikan testimoni gagal. Kedua, PMI takut akan mendapatkan intimidasi dari agent dan keluarga jika menceritakan kegagalan. Ketiga, PMI menutupi cerita kegagalan dan masalah yang dihadapi karena masih terikat kontrak sehingga menjadi sangat bergantung dan enggan bersuara. Keempat, PMI tidak menceritakan masalah yang dihadapi dengan sengaja agar mendapatkan lebih banyak teman senasib yang merasakan hal sama. Oleh karena itu, meski masif di kalangan PMI, media sosial tidak linier dengan produksi konten yang mengarah pada perlindungan. 

Penulis: Citra Hennida, Kandi Aryani, & Sri Endah Kinasih

Penjelasan lebih lanjut mengenai temuan penelitian kami dapat dilihat di link https://e-journal.unair.ac.id/MKP/article/view/21951/0

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu