Kadar Total Antioxidant Capacity sebagai Penanda Kekakuan Pembuluh Darah Pada Penyakit Ginjal Kronis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh CNN Indonesia

Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan beban kesehatan dunia yang diperkirakan hingga 15% pada populasi dewasa dan dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Di Indonesia, menurut data Riskesdas tahun 2018, angka kejadian PGK pada populasi usia lebih dari lima belas tahun naik dari 2,0 permil pada tahun 2013 menjadi 3.8 permil pada tahun 2018. Sedangkan proporsi pasien PGK yang dilakukan hemodialisis mencapai 19,3%. PGK akan semakin progresif menjadi gagal ginjal stadium akhir, fungsi ginjal terus menurun, dan menyebabkan munculnya berbagai komplikasi termasuk penyakit jantung. Sebagian besar pasien PGK mempunyai risiko penyakit jantung dan kematian yang lebih tinggi. Risiko ini meningkat seiring dengan perburukan PGK yang ditandai dengan penurunan laju filtrasi ginjal dan peningkatan protein urine. Peningkatan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah pada pasien PGK sebagian disebabkan oleh adanya faktor risiko tradisional yang tinggi, seperti hipertensi dan diabetes. Sebagian pasien PGK meninggal karena penyakit jantung dan pembuluh darah daripada perburukan PGK itu sendiri. Hal ini merupakan konsekuensi dari berbagai faktor risiko penyakit jantung yang ada pada pasien PGK.

Selain faktor risiko tradisional, penyakit jantung pada PGK juga dapat disebabkan oleh faktor risiko nontradisional. Faktor risiko nontradisional seperti stres oksidatif dan keradangan memberikan peranan penting dibandingkan dengan populasi normal. Stres oksidatif dan keradangan pada pasien PGK mempunyai hubungan timbal balik. Terjadi peningkatan penanda stres oksidatif pada penyakit ginjal meskipun pada stadium awal. Hal ini merupakan dampak dari peningkatan spesies oksigen reaktif serta penurunan kadar antioksidan. Stres oksidatif ini dapat mempercepat perburukan fungsi ginjal. Penanda keradangan seperti C reactive protein (CRP) dan sitokin meningkat seiring dengan penurunan fungsi ginjal yang menandakan bahwa terjadi keradangan kronis pada pasien PGK. Proses keradangan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah stres oksidatif.

Stres oksidatif timbul akibat ketidakseimbangan antara pro-oksidan dan antioksidan. Stres oksidatif pada PGK terjadi akibat penurunan antioksidan serta peningkatan produksi spesies oksigen reaktif. Pada pasien PGK stadium lanjut, peningkatan stress oksidatif dikaitkan dengan peningkatan komplikasi seperti hipertensi, aterosklerosis, keradangan, dan anemia. Salah satu strategi yang paling sering digunakan untuk menilai keseimbangan radikal bebas dan antioksidan dalam tubuh manusia adalah pemeriksaan Total Antioxidant Capacity (TAC). Selain itu, parameter stres oksidatif juga dapat diketahui dengan menilai kadar 8-Hydroxydeoxyguanosine (8-OHdG). Hal ini merupakan penanda umum dari kerusakan DNA akibat stres oksidatif. Pembentukan 8-OHdG diatur oleh kapasitas antioksidan lokal dan aktivitas enzim perbaikan DNA.

Kekakuan pembuluh darah diduga mempunyai hubungan dengan stres oksidatif melalui mekanisme pelepasan nitric oxide synthase (NOS) dan akibat kerusakan oksidatif pada protein, lipid, dan DNA sel endotel pembuluh darah. Keradangan juga dapat menyebabkan peningkatan kekakuan pembuluh darah karena mediator keradangan dapat berperan dalam penurunan relaksasi sel otot polos. Di sisi lain, stres oksidatif dan keradangan juga dapat menyebabkan pengerasan struktur pembuluh darah dengan merangsang pertumbuhan sel otot polos pembuluh darah dan meningkatkan pembentukan kolagen. Penelitian yang dilakukan oleh Yusuf dkk pada 2020, bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara Total Antioksidan Capacity (TAC) dan 8-Hydroxydeoxyguanosine (8-OHdG) dengan kekakuan pembuluh darah yang diukur dengan Carotid-Femoral Pulse Wave Velocity (cfPWV) pada pasien PGK. Penelitian ini adalah penelitian korelasional dengan desain studi cross-sectional. Subyek penelitian ini adalah 43 pasien PGK di Rumah Sakit Universitas Airlangga pada bulan Desember 2019 – Maret 2020. TAC diukur dari sampel  dengan metode Kolorimetri, 8-OHDG diukur dari urine dengan metode enzyme-linked immunoassay, sedangkan cfPWV diukur dengan menggunakan USG doppler.

Hasil penelitian ini didapatkan korelasi negatif antara Total Antioksidan Capacity dan Carotid-Femoral Pulse Wave Velocity pada pasien dengan PGK. Sehingga, semakin rendah kadar TAC darah, maka semakin tinggi cfPWV, yang berarti derajat kekakuan pembuluh darah semakin berat. Sedangkan pada pengukuran yang lain, tidak didapatkan adanya hubungan yang signifikan antara 8-OHdG dengan cf-PWV pada pasien PGK. Sehingga, hasil pengukuran 8-OhdG tidak dapat dikaitkan dengan derajat kekakuan pembuluh darah pada pasien PGK. Hal ini memberikan kesimpulan bahwa, pemeriksaan kadar TAC darah dapat dikaitkan dengan derajat kekakuan pembuluh darah sekaligus mempunyai nilai prediktor terhadap kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah pada pasien PGK. Oleh sebab itu, pemeriksaan TAC dapat dipertimbangkang pada pasien PGK untuk menilai kemungkinan adanya kekakuan pembuluh darah dan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Penulis: Mochamad Yusuf, dr., PhD, SpJP(K) dan Hendri Susilo, dr., SpJP.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Rumah Sakit Universitas Airlangga

Informasi detail hasil riset dapat diakses pada https://inabj.org/index.php/ibj/article/view/1241/0 dengan judul Correlations between Total Antioxidant Capacity and 8-Hydroxydeoxyguanosine with Carotid-Femoral Pulse Wave Velocity in Chronic Kidney Disease.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu