Evaluasi Variabilitas Denyut Jantung Menggunakan Elektrokardiografi Holter 24 Jam ada Pasien Hipertensi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Klik Dokter

Hipertensi masih menjadi faktor risiko kematian kardiovaskular yang tinggi di seluruh dunia. Karakteristik hipertensi yang tidak menunjukkan gejala dapat menghambat penegakan diagnosis dan terapi yang tepat. Hipertensi esensial sendiri tidak hanya disebabkan oleh penurunan tonus saraf parasimpatis tetapi juga oleh overdrive saraf simpatis yang berat, yang mengakibatkan peningkatan denyut jantung saat istirahat. Variabilitas denyut jantung (Heart rate variability [HRV]) dipengaruhi oleh kontrol saraf otonom dari fungsi jantung. HRV mencerminkan respon sistem saraf otonom terhadap rangsangan eksternal. Penilaian HRV menggunakan Holter 24 jam merupakan cara sederhana dan andal untuk menilai ketidakseimbangan otonom pada pasien hipertensi. Menganalisis HRV mungkin dapat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman kita tentang patofisiologi yang mendasari hipertensi, mengoptimalkan modalitas pengobatan untuk pasien hipertensi dengan tanda-tanda gangguan otonom, dan memprediksi kejadian kardiovaskular yang buruk di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara HRV pada pasien non-hipertensi dan hipertensi dan antara tekanan darah yang terkontrol dan tidak terkontrol pada pasien hipertensi.

Penelitian ini melibatkan 107 pasien: 52 pasien hipertensi (28 laki-laki) dan 55 pasien non-hipertensi (24 laki-laki). Penderita hipertensi dikelompokkan menjadi dua kelompok berdasarkan tekanan darah (TD), TD terkontrol (n = 18) dan TD tidak terkontrol (n = 34). TD dari setiap pasien diukur saat sebelum dilakukan Holter. Tekanan darah diukur dengan alat tensi digital yang tervalidasi dalam posisi duduk setelah 5 menit istirahat. Kriteria diagnosis hipertensi adalah TD ≥140/90 mmHg (menurut klasifikasi JNC VII). Selanjutnya, semua pasien dilakukan pemeriksaan EKG Holter 24 jam. Setiap pasien diberikan penjelasan rinci tentang bagaimana tes dilakukan. EKG Holter ditempatkan di pinggang pasien, dan lead elektroda ditempatkan tepat di dada. Pasien lalu diinstruksikan untuk pulang, memulai kembali aktivitas normal sehari-hari, dan kembali ke rumah sakit setelah 24 jam. Analisis data HRV diperoleh dari Holter 24 jam dengan tujuh variabel domain waktu: SDNN, SDANN, ASDNN, rMSSD, pNN50, BB50; dan empat variabel domain frekuensi: VLF, LF, HF, LF/HF.

Tidak ada perbedaan distribusi jenis kelamin antara dua kelompok. Usia rata-rata pada pasien hipertensi dan non hipertensi masing-masing adalah 53,58 ± 14,31 dan 44,89 ± 16,63 tahun. Rata-rata denyut jantung pada pasien hipertensi dan non hipertensi masing-masing adalah 76,67 ± 14,03 dan 74,27 ± 12,49 bpm. Median (IQR) SDNN kelompok hipertensi dan non hipertensi masing-masing 109,00 (90,00-145,00) dan 129,00 (107,00-169,00). Nilai SDNN, ASDNN, rMSSD, pNN50, BB50, VLF, dan HF secara signifikan lebih rendah pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan kelompok non-hipertensi (semua p<0,05). Median (IQR) SDNN untuk TD yang tidak terkontrol dan terkontrol berturut-turut adalah 105.00 (89.00-131.00) dan 128.50 (99.00-197.00). Nilai SDNN, SDANN, ASDNN, VLF, LF, dan HF secara signifikan lebih rendah pada kelompok TD yang tidak terkontrol dibandingkan dengan kelompok TD terkontrol (semua p<0,05).

Penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan nilai HRV berhubungan secara signifikan dengan peningkatan TD. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya untuk populasi Asia bahwa gangguan fungsi saraf otonom pada pasien hipertensi sangat terkait dengan TD yang tidak terkontrol. Penelitian kami menunjukkan bahwa pasien hipertensi memiliki SDNN yang lebih rendah secara signifikan (mencerminkan fungsi vagal) juga meanNN, ASDNN, rMSSD (mencerminkan fungsi vagal), pNN50 (mencerminkan fungsi vagal), dan BB50, VLF (mencerminkan fungsi vagal), HF (mencerminkan fungsi vagal), rasio LF/HF (mencerminkan keseimbangan simpatovagal) dibandingkan dengan pasien non-hipertensi. SDNN, SDANN, ASDNN, VLF, LF (mencerminkan keseimbangan simpatovagal), dan HF secara signifikan lebih rendah pada kelompok hipertensi dengan TD yang tidak terkontrol. Hasil kami menunjukkan bahwa pasien hipertensi memiliki gangguan yang lebih besar pada aktivitas saraf otonom jantung daripada pasien non hipertensi. Gangguan yang lebih parah terlihat pada kelompok hipertensi dengan tekanan darah yang tidak terkontrol.

HRV menunjukkan kepada kita osilasi detak jantung yang mencerminkan fungsi simpatis dan vagal yang mengatur respons detak jantung terhadap rangsangan apa pun. Selain rangsangan eksternal, HRV juga dipengaruhi oleh rangsangan internal, termasuk ritme sirkadian, suhu inti tubuh, metabolisme, siklus tidur, dan sistem renin-angiotensin. Rekaman HRV 24 jam sendiri adalah “standar emas” dari penilaian HRV karena ini memberikan kekuatan prediksi yang lebih besar daripada pengukuran jangka pendek. Penyimpangan HRV dari kisaran normal dikaitkan dengan berbagai penyakit kardiovaskular.

Pemantauan HRV, yang mencerminkan fungsi simpatis dan vagal jantung, dapat berguna untuk mengevaluasi status fungsi saraf otonom pasien hipertensi dan mengoptimalkan efektivitas terapeutik untuk meningkatkan keseimbangan fungsi saraf otonom. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa studi prospektif lanjutan diperlukan untuk menemukan hubungan kasual antara penurunan fungsi saraf otonom dan hipertensi onset baru atau penyakit kardiovaskular, terutama pada populasi Asia. HRV mungkin juga dapat memprediksi risiko hipertensi di masa depan pada tahap awal serta prognosis selama pengobatan hipertensi.

Penulis: dr. Budi Baktijasa, Sp.JP(K)

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/joa3.12469

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu