Diagnosis Intractable Mesial Temporal Lobe Epilepsy dengan Magnetization Transfer Ratio

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Healyh Kompas

Epilepsi adalah sebuah kelainan kronis pada otak dengan ciri khas kejang spontan yang berulang. Kelainan ini cenderung disertai dengan gangguan fungsi neurobiologis, kognitif, psikologis dan sosial. Salah satu jenis epilepsi pada orang dewasa, tak terkecuali di Indonesia, yang sering ditemukan sulit diatasi dengan terapi obat-obatan anti epilepsi (intractable) adalah Mesial Temporal Lobe Epilepsy (MTLE). Kasus MTLE yang sulit diatasi ini umumnya disebabkan karena sklerosis (pengerasan jaringan) pada suatu area otak yang bernama hipokampus. Terapi berupa operasi pada bagian hipokampus yang mengalami sklerosis umumnya memberikan hasil yang memuaskan. Tindakan ini tentunya memerlukan ketepatan dalam penentuan titik lokasi dan lateralisasi dari zona epileptogenik untuk memberikan hasil pasca operasi yang baik. Penentuan lateralisasi dari zona epileptogenik memiliki peran penting dalam diagnosis, pemilihan terapi, rencana operasi hingga prediksi keberhasilan dari terapi epilepsi untuk pasien. Titik tersebut dapat ditentukan dengan bantuan pencitraan pada otak yang biasa dilakukan dengan menggunakan MRI (Magnetic Resonance Imaging). Penggunaan MRI sebagai alat pencitraan non-invasif memiliki keunggulan berupa resolusi atomik yang baik dan sensitif dalam mengenali kelainan struktur yang kecil. Akan tetapi, sekitar 20-30% dari pasien epilepsi fokal dengan kasus yang sulit diatasi tidak dapat dideteksi oleh MRI yang standar. 

Pengembangan dan penerapan metode kuantitatif tambahan berupa Diffusion Weighted Imaging (DWI), Magnetization Transfer Imaging (MTI), T2 Relaxometry, Volumetric MRI dalam pemeriksaan menggunakan MRI diharapkan dapat menambah spesifisitas kualitatif MRI standar untuk mendeteksi sklerosis hipokampus. Hal ini dikarenakan MRI kuantitatif sangat berguna pada kasus atrofi bilateral, atrofi unilateral yang tidak jelas dan kelainan hipokampus yang simetris. MRI kuantitatif dengan metode volumetric MRI dan T2 relaxometry dapat membantu mendeteksi Mesial Temporal Lobe Sclerosis (MTLS) hingga 80% kasus dengan 20% kasus terdeteksi normal. MTI adalah sebuah metode yang dapat menampilkan kontras jaringan berdasarkan perputaran magnetisasi antara proton bebas dengan ikatannya pada molekul protein. Penelitian MTI pada kasus epilepsi menunjukkan penurunan rasio MT pada TLE (Epilepsi Lobus Temporal) dan epilepsi jenis lain walaupun hasil MRI standar pada pasien tersebut normal. Beberapa penelitian juga mencatat penurunan rasio MT pada regio ekstratemporal yang mengindikasikan keterlibatan jalar esktratemporal seperti pada hubungan lobus frontalis dengan lobus temporal otak. Penemuan-penemuan tersebut memberi kesan bahwa MTLE adalah sebuah penyakit yang melibatkan penjalaran lesi pada substansi putih dan abu-abu otak, yang kemungkinan disebabkan oleh demyelinasi. 

Penelitian mengunakan MTR terhadap 23 pasien epilepsi fokal temporal yang sudah dipastikan dengan rekaman video EEG scalp ictal dan MRI standar dan 10 orang sehat yang tidak pernah memiliki riwayat gangguan neurologis dan hasil MRI normal dilakukan. Kelompok pasien pada penelitian tersebut akan mendapatkan tindakan operasi. Kemudian dilakukan pengecatan pada jaringan hasil operasi dengan NeuN, GFAP, dan Neuropeptida Y untuk menilai hilangnya neuron, gliosis dan pertumbuhan akson secara histopatologis. Hasil data MTR kelompok pasien kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol. Sebanyak 10 dari 23 orang dari kelompok pasien memiliki hasil MRI standar yang normal. Hasil MTR pada 23 orang pada kelompok pasien menunjukkan penurunan yang siginifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil ini diperkuat dengan sensitivitas yang cukup bagus dan kesesuaian lateralisasi terhadap EEG pada deteksi kasus sklerosis hipokampus dengan hasil MRI normal. Sebaliknya, nilai MTR pada penelitian ini tidak berhubungan dengan derajat hilangnya neuron, gliosis dan pertumbuhan akson. Meskipun demikian, hasil penelitian tersebut menunjukkan sensitivitas MTR pada kasus MTLE mencapai sekitar 81,8% dan spesifisitasnya 68,2%. Selain itu, kecocokan MTR dengan EEG, yang merupakan pemeriksaan gelombang otak yang rutin dilakukan untuk pemeriksaan pada pasien epilepsi menunjukkan 6 dari 10 pasien sesuai. Sehingga aplikasi MTR memiliki sensitivitas yang lebih baik daripada pemeriksaan MRI standar pada kasus MTLE. MTR memiliki sensitivitas dan kecocokan dengan EEG yang cukup bagus namun memiliki spesifisitas yang rendah sehingga hasil MTR bersifat indikatif terhadap ketepatan diagnostik untuk menentukan lateralisasi pada kasus MTLE dengan hasil MRI yang normal.

Penulis: Dyah Fauziah, dr, SpPA(K)

Berikut link jurnal terkait artikel di atas: https://pjmhsonline.com/2019/oct_dec/pdf/n/1224.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu