Peran Probiotik dalam Meningkatkan Sistem Kekebalan Bawaan Usus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Halodoc

Probiotik merupakan bakteri hidup yang dapat bermanfaat bagi kesehatan manusia bila diberikan dengan dosis yang tepat, khususnya dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh bawaan pada usus. Sistem kekebalan permukaan mukosa usus yang terpapar dengan dunia luar memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. Sehingga gangguan yang terjadi pada sistem kekebalan mukosa usus tentu saja berperan dalam terjadinya penyakit. Beberapa mekanisme kerja probiotik telah diketahui, diantaranya: 1). Meningkatkan rasio jumlah bakteri baik seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli dengan bakteri penyebab penyakit; 2). Berkompetisi dengan bakteri penyebab penyakit dalam memperoleh nutrisi dan pelekatan di permukaan usus; 3). Meningkatkan produksi musin (lapisan lendir untuk pertahanan tubuh); 4). Meningkatkan aktivitas anti mikroba; 5). Mempengaruhi respon kekebalan usus. 

Beberapa penelitian sebelumnya yang mengevaluasi probiotik terkait dengan kondisi patologis membuktikan bahwa probiotik memberikan efikasi yang baik. Namun masih menjadi suatu pertanyaan apakah probiotik dapat mempengaruhi kesiapan respon kekebalan mukosa dalam menghadapi paparan sumber penyakit masih belum dipahami secara mendalam. Di permukaan mukosa usus diperlukan suatu sistem sensor yang dapat membedakan apakah paparan yang diterima merupakan sesuatu yang membahayakan, yang mampu membedakan bakteri yang bukan penyakit ataupun bakteri penyebab penyakit, termasuk dirinya sendiri. Toll-like receptors (TLRs) memiliki peran penting dalam sistem sensor tersebut bersama dengan Nuclear factor-kappa B (NF-κB) yang dimana berperan dalam mengatur keseimbangan respon kekebalan tubuh di usus itu sendiri dalam melawan bakteri penyebab penyakit. Beberapa studi mengenai peran probiotik lebih banyak membahas mengenai mekanisme adaptif dari aktivitas respon kekebalan usus, hanya sedikit yang membahas mengenai respon kekebalan bawaan dari mukosa usus. Oleh karena itu, penelitian kami bertujuan untuk mengevaluasi peran probiotik dalam memengaruhi respon kekebalan tubuh bawaan mukosa usus yang berhubungan dengan TLRs (TLR-2 dan TLR-4 dan NF-κB (p65 and p105) setelah pemberian probiotik.

Penelitian kami menggunakan tikus jenis BALB/c yang berusia 10-12 minggu dengan berat antara 30-40 gram kemudian secara acak dibagi dalam 4 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 6 tikus. Kelompok pertama diberi probiotik selama 21 hari dan Lipopolysaccharide (LPS) yang diberikan hari ke-15, kelompok kedua hanya diberi Lipopolysaccharide (LPS) pada hari ke-15,  kelompok ketiga diberi probiotik saja selama 21 hari, dan kelompok empat tidak diberi apa-apa atau sebagai kontrol. Dilakukan pengamatan setiap hari mengenai kondisi tikus terkait dengan penurunan aktivitas dan penurunan berat badan. Kemudian dilakukan pembedahan pada hari ke-21, didapatkan sampel berupa bagian dari usus (ileum) dan dilakukan prosedur dengan metode imunohistokimia.

Penelitian kami menggunakan probiotik kombinasi dengan dosis 1 × 109 CFU yang terdiri Lactobacillus acidophilus, L. casei subsp. Casei, L. rhamnosus, L. bulgaricus, Bifdobacterium breve, B. infantis, dan Streptococcus thermophilus. Lipopolysaccharide (LPS) dibuat dari Escherichia coli sehingga dapat menyerupai paparan bakteri. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diberi probiotik secara signifikan memiliki kadar TLRs dan NF-κB yang lebih tinggi dibanding tikus yang tidak diberi apa-apa atau kelompok kontrol. Hal ini membuktikan bahwa probiotik dapat meningkatkan respon sistem kekebalan dalam melawan bakteri penyebab penyakit. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Argentina dan Jepang meskipun penelitian tersebut hanya menggunakan satu jenis probiotik yaitu Lactobacillus casei. Namun memang TLR-4 tidak meningkat secara signifikat. Hal ini didukung dengan beberapa penelitian lain yang menyatakan adanya peningkatan regulasi respon imun bawaan pada jalur kekebalan kecuali TLR-4. Hal lain pada penelitian ini didapatkan ketika tikus yang diberi probiotik terkena LPS terjadi penurunan yang signifikan dalam  NF-κB menunjukkan penggunaan jalur klasik untuk memproduksi sitokin pro-inflamasi. 

Banyak studi yang menunjukkan hasil berbeda dengan penelitian ini, oleh karena perbedaan tujuan penelitian dan mekanisme yang tidak pasti dalam pemahaman respon imun bawaan. Namun dari penelitian pada kelompok probiotik dan non-probiotik saat terpapar LPS ini, kami dapat menyimpulkan bahwa probiotik kombinasi dapat meningkatkan respon kekebalan bawaan usus dan  mempertahankan keseimbangan respon kekebalan mukosa usus dalam melawan bakteri penyebab penyakit. 

Penulis: Dr. Alpha FardahAthiyyah, dr., Sp.A(K)

Informasi detail daririsetinidapatdilihat pada tulisan kami di:

https://ijm.tums.ac.ir/index.php/ijm/article/view/2159

Darma A, Athiyyah AF, Ranuh RG, Endaryanto A, Budiono B, Sudarmo SM. Iranian Journal of Microbiology, 2020; 12 (4): 353-363 Published 2020 Agustus. doi: 10.18502/ijm.v12i5.4606

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu