Bagaimana Kritik Diekspresikan Menurut Norma Budaya Jawa Arek?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kompasiana.com

Kritik merupakan kategori tindakan bertutur yang rawan mengancam muka (face threatening act). Oleh krena itu, dalam budaya mana pun, kritik rawan menimbulkan konflik dan ketegangan apabila tidak diekspresikan dalam konteks yang tepat dan sesuai dengan norma-norma sosiobudaya yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Mengkritik, sebagai sebuah tindakan dalam pragmatik, tidak sama dengan menghina atau hate speech. Memang kedua jenis tindakan tersebut memiliki kemiripan, yaitu sama-sama rawan mengancam muka petutur. Kemiripan ini menyebabkan pengertian mengkritik dan menghina yang berkembang di dalam masyarakat sering tumpang tindih. Mengkritik dikatakan sebagai menghina atau hate speech. Sebaliknya, menghina justru dikatakan sebagai mengkritik.

Terdapat perbedaan mendasar antara mengkritik dan menghina atau hate speech. Mengkritik merupakan salah satu bentuk control social. Mengkritik selalu memiliki tujuan social. Tujuan ilokusi bersaing dengan tujuan social. Oleh karena itu, tidak ada kritik yang tidak bersifat membangun karena kritik selalu mempunyai tujuan social. Sebaliknya, menghina atau hate speech bukan merupakan bentuk kontrol social. Di dalam menghina atau hate speech, tujuan ilokusi bertentangan dengan tujuan social. Karena bertentangan dengan tujuan social, maka menghina atau hate speech tidak pernah bermanfaat secara social. Menghina atau hate speech biasanya dimaksudkan untuk sebuah character assassination. Karena karakteristiknya yang rawan mengancam/mencoreng muka, maka kritik dalam berbagai budaya sering harus diekspresikan dengan hati-hati, dikemukakan dalam konteks yang tepat dan dengan strategi yang tepat. Setiap budaya memiliki norma yang bisa jadi tidak sama di dalam memandang apakah sebuah kritik dikespresikan dalam konteks yang tepat dan dengan strategi yang tepat. Brikut ini dikemukakan secara garis besar hasil penelitian bagaimana kritik ini diekspresikan menurut norma budaya Arek. 

Dalam masyarakat budaya Jawa Arek, konteks pengungkapan kritik sangat dipengaruhi oleh parameter (±D), yaitu jarak social (±Distance), Dapat dikatakan, parameter (±D) ini merupakan porosnya yang menentukan konteks pengungkapan kritik. Bila sebuah konteks mengandung poros (-D), kritik cenderung diekspresikan secara pribadi (-Pu), sementara parameter (±P), yaitu (±Power),  yang menjadi pasangannya, tidak mempunyai pengaruh yang signifikan. Itulah sebabnya dalam masyarakat budaya Jawa Arek mengekspresikan kritik dalam konteks-konteks seperti (+P-D-Pu), (-P-D-Pu), (=P-D-Pu) lebih disukai daripada melakukan kritik dalam konteks *(+P-D+Pu), *(-P-D+Pu), *(=P-D+Pu). Bila sebuah konteks mengandung poros (+D), parameter (±P) yang menjadi pasangannya turut berpengaruh terhadap pengungkapan sebuah kritik. Bila poros (+D) berpasangan dengan (+P), kritik cenderung diekspresikan secara terbuka. Melakukan kritik dalam konteks (+P+D+Pu) lebih disukai daripada melakukan kritik dalam konteks (+P+D-Pu). Sebaliknya, bila poros (+D) berpasangan dengan (-P), kritik cenderung lazim diekspresikan, baik secara terbuka (+Pu) maupun tertutup (-Pu). Melakukan kritik dalam konteks (-P+D+Pu) atau dalam konteks (-P+D-Pu) tidak menjadi masalah dalam masyarakat budaya Jawa Arek. Akan tetapi, bila poros (+D) berpasangan dengan (=P), kritik cenderung lebih lazim diekspresikan secara pribadi (-Pu). Itulah sebabnya melakukan kritik dalam konteks (=P+D-Pu) lebih disukai daripada melakukan kritik dalam konteks (=P+D+Pu). Pola pengungkapan kritik dalam masyarakat budaya Jawa Arek ini merupakan hal yang spesifik yang belum tentu berlaku juga pada subkultur masyarakat Jawa lainnya. Akan tetapi, karena tiap-tiap subkultur masyarakat Jawa tersebut dibingkai oleh payung budaya yang sama (budaya Jawa) mungkin saja tiap-tiap subkultur tersebut memiliki beberapa kesamaan. Namun demikian, hal ini masih memerlukan pembuktian yang nyata melalui penelitian yang spesifik.

Dilihat dari sudut penggunaan strateginya, kritik dalam masyarakat budaya Jawa Arek pada umumnya lebih cenderung diekspresikan dengan strategi IC daripada strategi DC. Temuan ini tampaknya bisa mengindikasikan bahwa stereotip yang berkembang selama ini bahwa masyarakat budaya Jawa Arek lebih langsung dan terang-terangan tampaknya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Walaupun demikian, penggunaan strategi DC dalam masyarakat budaya Jawa Arek tidak serta merta dinilai sebagai strategi yang tidak sopan atau melanggar nilai kesantunan. Penggunaan strategi DC dalam konteks-konteks yang preferensinya tinggi masih dianggap sebagai hal yang wajar dan lazim. Apakah penggunaan strategi DC dalam konteks-konteks yang preferensinya tinggi ini juga ditemukan dalam subkultur masyarakat Jawa lainnya, hal ini masih menjadi pertanyaan dan memerlukan kajian lebih lanjut. Konteks pengungkapan kritik dalam masyarakat budaya Arek sangat dipengaruhi oleh parameter (±D). Dapat dikatakan, parameter (±D) ini merupakan porosnya yang menentukan konteks pengungkapan kritik. Di samping itu, parameter (±D) ini juga menentukan penggunaan strategi kritik seperti apa yang seharusnya digunakan atau tidak digunakan. Ini semua perlu dipahami untuk memitigasi kekerasan kritik yang watak dasarnya memang rawan mengancam/mencoreng muka.

Penulis: Dr. Drs. Edy Jauhari, M.Hum.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: 

https://www.jbe-platform.com/content/journals/10.1075/ps.16032.jau Criticism in the Javanese Arek Cultural Community: Its expression context and strategy use.  

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu