Sinetron Ikatan Cinta Ramai Diperbincangkan, Begini Tanggapan Pakar Media UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dra. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D., Pakar Media Universitas Airlangga (UNAIR). (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Akhir-akhir ini sinetron Ikatan Cinta yang ditayangkan pada salah satu stasiun televisi mendapat banyak perhatian dari masyarakat. Pasalnya, masyarakat menganggap bahwa sinetron tersebut memiliki alur cerita yang menarik dan berbeda dari sinetron lainnya. Bahkan, sinetron itu berhasil memecahkan rekor dengan mencapai rating tertinggi.

Menanggapi hal tersebut, pakar media Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dra. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D., mengungkapkan terdapat tiga alasan sinetron tersebut sangat digemari masyarakat. Menurut guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang akrab disapa Prof. Ida itu, adanya sinetron yang tayang di televisi menjadi alternatif hiburan bagi masyarakat di tengah kondisi pandemi yang masih belum usai.

“Masyarakat merasa stres dengan berita-berita tentang Covid-19 atau merasa lelah dan tertekan akibat Covid-19, sehingga masyarakat melakukan pelarian (escaping, Red) dengan mencari tayangan hiburan di televisi,” terangnya pada Rabu (27/01/21).

Alasan kedua sinetron tersebut digemari oleh masyarakat, tambah Prof. Ida, dikarenakan tayangan lain di televisi banyak yang bersifat monoton atau seragam. Alasan ketiga adalah dengan adanya sinetron itu dapat membangun fantasi (mimpi, Red) bagi masyarakat yang saat ini sedang merasa stres akibat pandemi.

Lebih lanjut, Prof. Ida menjelaskanapabila berbicara tentang audience atau penonton pada konteks media studies, maka mereka dinilai sebagai khalayak yang aktif dalam menerjemahkan sendiri makna teks media (isi sinetron, Red). Sehingga, berdasarkan hal tersebut hanya akan ada satu atau dua orang yang terpengaruh akibat menonton sinetron maupun tayangan televisi lainnya.

Audience yang terpengaruh setelah menonton sinetron itu dapat disebabkan karena mereka merasa apa yang ditayangkan memiliki kesamaan dengan kehidupannya, tetapi kemungkinan jumlah audience yang dapat terpengaruh hanya sedikit sekali,” jelasnya.

Prof. Ida berharap ke depannya tayangan-tayangan televisi yang ada harus dapat memberdayakan masyarakat, memberikan pencerahan kepada publik dan memberikan hiburan yang sehat.

Pada akhir, Prof. Ida berpesan kepada masyarakat untuk menjadi penonton yang bijak karena apa yang ada di dalam sinetron hanya rekayasa dan bukan sebuah realita. Tidak hanya itu, penonton juga harus smart dan memahami bahwa menonton sinetron hanya sebagai hiburan semata.

“Jadilah penonton yang bijak, penonton yang tau bahwa sinetron tersebut hanya sebuah fantasi. Produser pun sebenarnya telah memberikan disclaimer bagi masyarakat pada awal tayangan. Selain itu, masyarakat juga harus smart dalam menonton sebuah sinetron,” tutupnya. (*)

Penulis: Dita Aulia Rahma

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu