Kesiapan Untuk Preservasi Digital di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh spada Indonesia

Teknologi informasi mempengaruhi cara kerja perpustakaan dalam mengumpulkan, menyimpan, dan menyebarkan informasi. Perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia merespon fenomena tersebut dengan mengelola dan menyediakan layanan informasi digital. Upaya menghimpun, mengelola, menyimpan, dan menyebarluaskan karya intelektual perguruan tinggi dalam konteks “era teknologi” saat ini dikenal dengan istilah Institutional Repository (Repositori Institusional). Penekanan yang diberikan pada konsep kelembagaan atau kelembagaan adalah untuk menunjukkan bahwa materi digital yang dikumpulkan memiliki hubungan yang erat dengan lembaga yang membuatnya. 

Indonesia sebagai negara berkembang juga sudah mulai memanfaatkan teknologi informasi untuk menyebarluaskan hasil karya sivitas akademika, hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa mahasiswa saat ini lebih banyak mengakses informasi secara elektronik untuk memenuhi kebutuhannya. Perkembangan koleksi digital dan repositori kelembagaan di Indonesia akan memunculkan permasalahan baru, salah satunya tentang pelestarian digital. Perpustakaan yang menggunakan repositori institusional (IR) bertujuan untuk mengelola dan melestarikan konten digitalnya untuk penggunaan jangka panjang, selain penelitian mengungkapkan bahwa file digital yang telah masuk ke IR tidak berarti dapat langsung diakses dan digunakan kembali untuk jangka panjang, dan juga aktivitas back-up data tidak cukup untuk menjaga koleksi digital dalam jangka panjang karena cadangan hanya digunakan untuk pengawetan jangka pendek.

Permasalahan dalam pelestarian digital akan dihadapi pada saat memilih koleksi digital antara lain adalah umur media penyimpanan data yang hanya bisa bertahan minimal 10 tahun sehingga koleksi digital harus di copy kembali untuk memperkecil kemungkinan. kehilangan informasi yang terdapat pada koleksi digital, selain itu peralatan yang digunakan seperti hardware dapat mengalami keusangan dalam kurun waktu ± 10 tahun, sehingga koleksi digital perlu diubah kembali dalam format baru dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mengupdate hardware. . Keamanan informasi juga menjadi masalah dalam memilih koleksi digital, mengingat setiap orang dapat mengakses koleksi digital tersebut, maka hak cipta perlu diperhatikan. Pentingnya suatu organisasi untuk mengukur kesiapannya terhadap pelestarian digital akan membantu organisasi untuk lebih memperhatikan pelestarian digital dari koleksi digitalnya. Organisasi dapat mengetahui secara jelas posisinya dan langkah apa yang perlu diambil terkait kesiapan pengawetan koleksi digitalnya.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kesiapan perguruan tinggi di Indonesia dalam melaksanakan kegiatan preservasi digital dengan menggunakan instrumen penelitian berupa checklist yang mengacu pada Model Universitas Cornell yang meliputi aspek kesiapan infrastruktur, kesiapan teknologi, dan kesiapan sumber daya yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan proses pengambilan sampel secara acak dengan 100 responden yang terjaring dalam webometric. Kesiapan perpustakaan dalam pelestarian digital mencapai tahap konsolidasi, lembaga repositori mengkonsolidasikan sumber dayanya untuk pengembangan pelestarian digital. Faktor yang termasuk dalam kesiapan ini adalah infrastruktur organisasi, infrastruktur teknologi, dan sumber daya.

Penulis: Dyah Puspitasari Srirahayu, Dessy Harisanty, Maisyatus Suada Irfana

Untuk membaca artikel dengan judul “Readiness For Digital Preservation In Indonesia”  dapat diakses melalui https://digitalcommons.unl.edu/libphilprac/4625

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu