Karakteristik Disfungsi Tibialis Tendon Posterior dan Deformitas Kaki Datar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Alodokter

Tubuh kita ditopang oleh kaki untuk membuat gerakan biomekanik dari statis menjadi dinamis. Fungsi kaki ini karena arsitektur yang tercipta dari sistem lengkungan melintang dan membujur (Lichota, M., Plandowska, M. dan Mil, P., 2013). Ada banyak faktor risiko yang menyebabkan kelainan bentuk telapak kaki orang dewasa seperti trauma, radang sendi, penyakit neuromuskuler tetapi yang paling umum adalah disfungsi tendon tibialis posterior (Abousayed, MM, Alley, MC, Shakked, R. dan Rosenbaum, AJ, 2017) . Untuk menegakkan diagnosis kelainan bentuk kaki datar yang didapat orang dewasa, rontgen radiografi adalah standar emas, namun untuk mengevaluasi tendon, jaringan lunak dan ligamen, USG sangat spesifik dan sensitif untuk menentukan tenosinovitis, tendinosis serta robekan (Flores, DV, Mejía Gómez , C., Fernández Hernando, M., Davis, MA dan Pathria, MN, 2019)

Keluhan klinis utama dari kelasi adalah nyeri lutut, gangguan postur tubuh, nyeri kaki dan nyeri punggung, biasanya muncul pada jenis olahraga yang utamanya menggunakan kaki untuk melakukan senam (Kumala, MS, Tinduh, D. dan Poerwandari, D., 2019 ). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik disfungsi tendon tibialis posterior dan kelainan bentuk kaki rata pada atlet profesional di Jawa Timur Indonesia.

Sampel terdiri dari 112 sampel dari 56 atlet (n = 112) dengan keluhan nyeri kaki dan lutut yang menjalani pemeriksaan USG kaki dan radiografi di Bagian Radiologi RSUD Soetomo Surabaya. Pesertanya adalah para atlet profesional se-Jawa Timur Indonesia. Kriteria inklusi adalah atlet dengan nyeri kaki, nyeri lutut, nyeri punggung, dan gangguan postur tubuh. Kriteria eksklusi adalah riwayat patah tulang pergelangan kaki atau pedis, riwayat operasi untuk kelasi. Penelitian ini disetujui di Komite Etik Rumah Sakit Akademik Umum Soetomo, Surabaya (2043/118 / KEPK / III / 2020).

Besar sampel akhir yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah 112 sampel. Kaki datar ditemukan pada 79 sampel (70,5%) sedangkan 33 sampel lainnya (29,5%). Diagnosis tenosinovitis akibat penebalan selubung tendon tibialis posterior ditemukan pada 69 sampel (61,6%) dan tendon tibialis posterior normal pada 37 sampel (38,4%). Robekan parsial pada tendon tibialis posterior ditemukan pada 7 sampel (6,3%), sedangkan 105 sampel lainnya (93,7%) tanpa robekan. Jenis olah raga yang memiliki persentase flatfoot terbesar adalah gulat 24 (21,4%) dari semua sampel. Sebagian besar sampel memiliki deformitas kaki datar bilateral (92,8%)  dan disfungsi tendon tibialis posterior bilateral (88,6%). Hanya sedikit sampel yang mengalami deformitas kaki datar unilateral dan disfungsi tendon tibialis posterior unilateral.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar atlet mengalami deformitas kelasi dan tenosinovitis tendon tibialis posterior. Hasil ini berkorelasi dengan penelitian sebelumnya Lichota et al bahwa mayoritas olahragawan khususnya atletik memiliki kelainan bentuk kaki rata. Penelitian tentang variabilitas foot-arch di antara praktisi olahraga yang berbeda telah dilakukan oleh Nizankowski dan Wanke, menemukan bahwa faktor risiko terbesar untuk diagnosis flatfoot dan disfungsi tendon tibialis posterior terjadi pada atlet olahraga. (Michelson, JD, Durant , DM dan McFarland, E., 2002) Penulis juga menemukan hanya sangat sedikit atlet (6,3%) yang mengalami robekan pada tendon tibialis posterior hal ini berbeda dengan penelitian sebelumnya oleh Hsu, TC, Wang yang telah (43,75 %) dari total sampel.

Penulis berpendapat bahwa penelitian ini sangat bermanfaat untuk membuat kajian analisis yang lebih baik untuk lebih memahami faktor risiko dan jenis olahraga yang lebih memiliki predispotisi untuk meningkatkan kemungkinan terjadinya kelainan bentuk telapak kaki datar dan disfungsi tendon tibialis posterior. Batasan penelitian adalah jumlah sampel yang hanya sebatas varietas cabang olah raga.

Tendon tibialis posterior memainkan peran penting dalam mendukung lengkungan yang dinamis. Penelitian ini dilakukan bahwa ada hubungan erat antara disfungsi tendon tibialis posterior, deformitas flatfoot pada atlet profesional, bahwa disfungsi tendon tibialis posterior merupakan penyebab umum deformitas flatfoot didapat. Pemahaman tekan tentang disfungsi tendon tibialis posterior dan diagnosis kaki datar akan mengarah pada manajemen yang lebih efektif dalam mengurangi gejala.

Penulis: Dr. Rosy Setiawati, dr., Sp.Rad(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: 

https://ijrp.org/paper-detail/1433

Alfian Hasbi, Rosy Setiawati, Paulus Rahardjo, Anggraini Dwi Sensusiati. Characteristic of Posterior Tibialis Tendon Dysfunction and Adult Acquired Flatfoot Deformity in Professional Athletes. International Journal of Research Publication (Volume: 60, Issue: 1)

https://doi.org/10.47119/IJRP100601920201432

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu