Relawan RSTKA Lakukan Trauma Healing untuk Anak-anak Korban Gempa Sulawesi Barat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Kegiatan trauma healing oleh tim RSTKA di tenda RS. Pratama. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Dua belas hari usai gempa berkekuatan 6,2 Magnitudo mengguncang Mamuju dan Majene pada Jumat dini hari (15/01/21). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperpanjang masa tanggap darurat selama dua pekan hingga Kamis (11/02/21).

Berdasarkan keterangan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sebanyak 35 gempa susulan terjadi hingga Senin (25/01/21), memberikan dampak tersendiri bagi para pengungsi terutama bagi anak-anak. Untuk memastikan keadaan psikis anak-anak di pengungian, tim relawan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) mengadakan trauma healing yang dilakukan sejak Senin (25/01/21) di Desa Salutambung.

Teguh Wahyu Utomo salah satu relawan menuturkan bahwa kegiatan trauma healing dilakukan di pengungsian Desa Salutambung, Kecamatan Malunda. Kegiatan dilakukan di sana berdasarkan rekomendasi dari Puskesmas Salutambung karena terdapat 60 Kartu Keluarga (KK) yang tidak mau turun dari bukit.

Kegiatan trauma healing yang dilakukan di dalam tenda 5 x 5 meter milik RS Pratama itu diawali dengan memberikan ice breaking kepada sebanyak 23 anak. Ice breaking yang diberikan oleh Afin Murtiningsih S.Psi. dilakukan sebagai penilaian awal kondisi trauma psikis yang dialami anak-anak.

“Setelah ice breaking, Afin melakukan sugesti bareng dengan cara anak-anak menepuk pundak temannya di sebelah kanan sambal mengucapkan kata-kata penguat. Antara lain, ‘Hai, kawan. Kita harus bersabar, bersyukur, dan bergembira’,” Tutur lulusan Hubungan Internasional UNAIR tersebut pada Selasa (26/01/21).

Setelah memberikan sugesti, Teguh mulai melakukan asesmen awal tentang trauma untuk mengetahui apakah anak-anak memang trauma sehingga perlu tindakan lebih lanjut atau sekadar kaget atau takut sesaat yang tak lama kemudian bakal lewat dan terlupakan.

Dalam menilai kondisi anak-anak, trainer motivasional di MEP Training Center tersebut meminta anak-anak untuk menulis. Namun, karena banyak yang balita pada akhirnya menggambar saja. Anak-anak diperintahkan untuk menggambar apa yang akan dilakukan setelah dibolehkan pulang.

“Jika tidak mau menggambar, padahal bisa menggambar, kemungkinan besar ia takut pulang atau trauma gempa. Jika mau menggambar, saya lihat hasilnya dan saya tanyai mengapa menggambar itu. Jika yang digambar hal-hal tak wajar, maka saya follow-up dengan pertanyaan untuk menilai kondisi mentalnya bagaimana,” ujarnya.

Hasilnya, sambungnya, semua mau menggambar dan yang digambarkan adalah hal-hal yang normal. Misalnya, menggambar anak bermain di rumah, buah jeruk, sepeda, dan lain-lain. Saat dilakukan follow-up, umumnya anak-anak ingin kembali bermain di rumah dan tidak takut kembali ke rumah.

Selain dilakukan bersama anak-anak, kegiatan trauma healing tersebut juga dilakukan bersama orang tua mereka. Hanya saja, untuk orang tua dilakukan asesmen dengan cara menyapa, bertanya keadaan, sambil melihat ekspresi wajah dan tingkah laku. Asesmen dilakukan dari tenda ke tenda, tapi tidak semuanya, hanya diambil sampling hanya ke keluarga yang diduga tak mau turun bukit.

Dengan adanya kegiatan tersebut, Teguh berharap anak-anak tetap bergembira dan bersemangat tinggi saat sudah kembali ke rumah masing-masing. Dengan suasana hati seperti itu, mereka akan lebih bebas dari stres atau tekanan mental karena bencana gempa.

“Kami berharap pihak berwenang mencabut kondisi darurat sesuai dengan keadaan yang semestinya. Jika kondisi darurat dicabut, anak-anak bisa kembali hidup dalam kondisi normal di rumah masing-masing. Lebih senang lagi jika rumah mereka masing-masing sudah diperbaiki,” pungkasnya. (*)

Penulis : Asthesia Dhea Cantika

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu