“Peran Motivasi Intrinsik” Digitalisasi di Sektor Perbankan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Quipper

Seiring dengan perkembangan internet, berbagai macam gadget, seperti laptop, tablet, dan smartphone, telah banyak dikembangkan dan diadopsi oleh organisasi dalam operasional bisnisnya (Dasgupta dan Gupta, 2019). Berbagai perusahaan bisnis yang ingin bertahan hidup harus menyesuaikan diri untuk mengakomodasi kenyataan ini (Gobble, 2018). Faktanya, digitalisasi dan adopsi teknologi juga telah menarik perhatian para pengelola dan pembuat kebijakan, dan menjadi headline di surat kabar, majalah dan konferensi praktisi (Legner et al., 2017). Peluang baru yang didukung oleh digitalisasi memberi tekanan pada perusahaan yang berbeda untuk mempertimbangkan kembali model bisnis dan proses operasi yang ada atau untuk fokus menemukan peluang pasar potensial (Bouwman et al., 2019). Di Indonesia, bank daerah dibentuk untuk menopang perekonomian daerah dan kini mengalami tekanan di industri perbankan. Hal ini disebabkan persaingan dengan bank swasta dan bank nasional yang bergerak ke arah melalui layanan perbankan digital. Salah satu bank daerah yang berusaha mengejar ketinggalan adalah Bank Kalsel. Sejak tahun 2019 Bank Kalsel telah menerapkan digitalisasi dalam layanan dan operasionalnya seperti aplikasi mobile banking, aplikasi meja layanan, aplikasi manajemen talentpool, aplikasi evaluasi kinerja digital, dan aplikasi pelacak penjualan. Selain itu, digitalisasi di Bank Kalsel juga dilakukan pada pekerjaan rutin seperti laporan kerja digital, absensi online, dan rapat online.

Digitalisasi dinilai memberikan efisiensi yang besar ketika kebiasaan dan proses kerja diubah untuk mengakomodasi kemungkinan peningkatan efisiensi (Kuusisto, 2017). Di sisi lain, kebijakan digitalisasi tentunya akan menyebabkan perubahan pola dan prosedur kerja yang normal. Proses ini melibatkan pekerja untuk beradaptasi dengan teknologi dan ini akan berdampak pada berbagai karyawan; beberapa mungkin melihatnya sebagai keuntungan dan beberapa akan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan teknologi ini, mencoba untuk memahami dan menangani perubahan ini (Saputra et al., 2020). Penerapan digitalisasi juga berpotensi menimbulkan masalah biaya tidak langsung yang harus ditanggung oleh perusahaan dan juga adanya hambatan internal yang juga akan menimbulkan kekhawatiran yang bermuara pada dampak negatif (Bogodistov dan Ostern, 2019; Faci et al., 2017). Kemudian asumsi skeptis juga dapat muncul dari manajer dan karyawan tentang agenda penerapan digitalisasi yang dianggap mengganggu seperti memakan waktu lama dan berdampak negatif terhadap produktivitas mereka (El-sayed & Westrup, 2011). Namun perasaan positif terhadap penerapan digitalisasi dapat mengurangi resistensi terhadap perubahan, karena hal tersebut membuat karyawan bersemangat untuk mencoba sesuatu yang baru (Pipitwanichakarn dan Wongtada, 2019). Melihat hal tersebut maka penelitian ini akan diarahkan untuk mengetahui persepsi penerimaan pegawai terhadap digitalisasi yang dilakukan di Bank Kalsel melalui Technology Acceptance Model (TAM).

Secara umum, TAM adalah sebuah konsep yang didirikan dan diuji secara empiris untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi suatu teknologi (Davis et al., 1989; Venkatesh dan Davis, 2000; Venkatesh et al., 2003). Dalam berbagai penelitian, TAM secara luas digunakan untuk mengetahui prediktor penerimaan teknologi, maka TAM digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis bagaimana penerimaan pegawai Bank Kalsel terhadap penerapan digitalisasi. Selain itu, penelitian ini mengkaji faktor lain yaitu Intrinsic Motivation yang mengeksplorasi kenikmatan, kesenangan, dan kepuasan karyawan dalam proses penggunaan fasilitas aplikasi dan website (Chaurasia et al., 2019; Venkatesh, 2000). Selanjutnya analisis ini akan mengeksplorasi peran mediasi persepsi kemudahan penggunaan dan kegunaan yang dirasakan dalam model yang diusulkan, yang akan mengarah pada pengembangan literatur terkait TAM.

Penelitian ini mencoba untuk mendapatkan pemahaman tentang kesiapan pegawai terhadap kebijakan digitalisasi yang diterapkan di Bank Kalsel. Pada akhirnya terlihat bahwa jajaran jajaran Bank Kalsel memiliki niat yang tinggi untuk menggunakan digitalisasi yang dilakukan di Bank Kalsel. Karena melalui niat menggunakan pegawai Bank Kalsel dapat menumbuhkan minat untuk terus berpartisipasi atau berkiprah dalam sistem tertentu. Itu juga dapat menguji karyawan dalam menggunakan aplikasi dan situs web untuk menyelesaikan tugas pekerjaan mereka. Maksud penggunaan dalam penelitian ini juga mengarah pada melihat intensitas karyawan dalam melihat dan mengamati hasil penilaian kinerja, laporan kemajuan pekerjaan, dan perkembangan informasi harian yang tersedia di aplikasi dan website Bank Kalsel. Secara tidak langsung, digitalisasi dapat mempermudah proses bisnis dan mengukur kinerja pegawai Bank Kalsel. Melalui penerapan digitalisasi akan merubah pola dan prosedur kerja pegawai Bank Kalsel dari yang biasa mereka lakukan. Selain itu, melalui digitalisasi Bank Kalsel dinilai akan memberikan efisiensi yang signifikan. Hal ini dapat terjadi karena ketika terjadi perubahan proses kerja untuk mengakomodasi peningkatan efisiensi maka ketahanan terhadap perubahan akan berkurang. Mencoba sesuatu yang baru menjadi pemicu semangat. Selain itu, studi ini juga mencoba memberikan kontribusi terhadap perbaikan konstruksi TAM. Ini dilakukan dengan menambahkan peran tambahan ke dua variabel utama TAM sebagai mediator. Temuan peran tambahan ini diharapkan dapat menjadi pijakan dalam pengembangan konstruksi TAM di masa mendatang.

Penulis : Prof. Dr. Anis Eliyana, S.E., M.Si.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://www.sciencedirect.com/sdfe/reader/pii/S240584402032644X/pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu