Melacak Noma di Papua

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi penyakit noma di Papua. (Sumber: KlikDokter)

Noma atau Cancrum rris, merupakan penyakit yang merusak sampai menyebabkan kematian jaringan (nekrosis) yang berada di sekitar mulut dan wajah (orofasial) (WHO, 2016). Jaringan nekrotik biasanya tampak berwarna biru kehitaman dengan bau yang busuk. Penderita Noma juga sering mengeluhkan nyeri, kehilangan gigi, demam, denyut jantung yang lebih cepat (takikardia), peningkatan laju pernapasan, anemia, leukositosis, dan anoreksia. Gejala utama lainnya termasuk jaringan parut, trismus, masalah bicara dan makan, cacat wajah, serta trauma psikologis. Fusobacterium necrophorum dan Prevotella intermedia merupakan patogen utama yang diduga sebagai penyebab noma (Neville, Damm, Allen, & Chi, 2019).

Kasus Noma kebanyakan terjadi pada anak yang berusia antara 2-6 tahun dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, kemiskinan ekstrim, kebersihan mulut yang buruk, malnutrisi, malaria, kwashiorkor (busung lapar), campak, infeksi HIV/AIDS, dan remaja dewasa dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (Jain & Ranka, 2017; Neville, Damm, Allen, & Chi, 2019; Prado-calleros et al., 2017; Srour, Marck, & Baratti-mayer, 2017; WHO, 2016). Noma terjadi terutama pada masyarakat miskin yang tidak tersentuh pelayanan kesehatan dan memiliki gaya hidup nomaden. Kasus noma sebagian besar dilaporkan terjadi di Afrika yaitu pada musim kemarau ketika makanan langka dan saat tingginya angka kejadian campak (Ashok et al., 2016). Penyakit ini sudah sangat langka di Indonesia seiring dengan membaiknya kondisi kesehatan masyarakat.

Pada tanggal 3 Oktober 2017, Direktur Pengawasan dan Karantina Kesehatan memperoleh informasi dari Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tentang ditemukannya seorang balita berasal dari suku Korowai Papua yang membutuhkan perhatian khusus dan penanganan yang tepat karena gangguan kesehatan yang serius. Kasus tersebut kemudian dirujuk ke RS Dian Harapan Jayapura yang merupakan salah satu rumah sakit yang bekerjasama dengan pemerintah Papua dengan menggunakan pengelolaan Kartu Papua Sehat (KPS). Hasil verifikasi informasi yang dilakukan oleh Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada unit terkait, menyebutkan kasus tersebut diduga sebagai Noma. Mengingat penyakit ini merupakan  penyakit langka di Indonesia, maka diputuskan untuk dilakukan pelacakan untuk menemukan kasus Noma lainnya agar dapat segera dilakukan pengendalian. Kegiatan pelacakan Noma di Provinsi Papua dilakukan oleh suatu tim yang terdiri dari unsur Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dan mahasiswa Field Epidemiology Training Program (FETP) Universitas Airlangga.

Pelacakan bertujuan untuk menggambarkan besaran masalah Noma, mengidentifikasi faktor risiko, dan menemukan kasus noma lainnya untuk melakukan pencegahan dan pengendalian. Populasi yang menjadi sasaran pelacakan adalah komunitas Suku Korowai yang tinggal di 11 desa pada Kecamatan Asmat dan Boven Digoel sebanyak 46 orang. Untuk menjaring kemungkinan kasus Noma selain yang sudah dilaporkan maka kriteria pencarian yang digunakan adalah komunitas Suku Korowai yang mengalami sakit gigi, pembengkakan pada mulut dan sariawan. Pengumpulan data menggunakan instrumen sesuai dengan pelaksanaan investigasi dan penanggulangan wabah penyakit menular dan keracunan makanan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2011. Data primer diperoleh dari wawancara dengan keluarga atau kerabat dekat pasien untuk memperoleh informasi tentang identitas pasien, riwayat kesehatan, dan faktor risiko. Pengukuran status gizi dilakukan dengan mengukur berat per tinggi badan dan melakukan pemeriksaan kesehatan mulut. Data sekunder diperoleh dari dinas kesehatan Kabupaten Asmat dan Puskesmas Yaniruma. Data yang dianalisis adalah kondisi geografis, demografis, sosial budaya, transportasi, dan komunikasi.

Hasil pelacakan menunjukkan bahwa tidak ada kasus Noma lain yang ditemukan pada komunitas suku Korowai. Jarak yang jauh untuk menjangkau layanan kesehatan dan tidak adanya alat komunikasi untuk suku Korowai di Desa Afimabul membuat mereka tidak pernah mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan. Hasil identifikasi faktor risiko pada 46 anak yang menjadi target populasi pelacakan menunjukkan bahwa mayoritas anak memiliki kebersihan mulut yang rendah (73,91%), konsumsi air tanpa dimasak (80,43%), sebagian memiliki indeks berat badan kurus (15,22%), dan sangat kurus (6,52%), serta ditemukan seorang tersangka campak. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa meskipun hanya ditemukan satu kasus saja, namun kondisi kesehatan anak-anak komunitas Suku Korowai memiliki risiko yang tinggi untuk dapat mengalami kasus serupa. Hal ini perlu mendapat perhatian yang serous dari para penanggungjawab kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.

Ditulis oleh: Kaimudin A, Hidajah, A.C

Lebih lanjut dapat diakses melalui: Kaimudin, A., & Hidajah, A. (2020). EPIDEMIOLOGICAL INVESTIGATION OF NOMA IN PAPUA PROVINCE IN 2017. Jurnal Berkala Epidemiologi, 8(1), 16-25. doi:http://dx.doi.org/10.20473/jbe.V8I12020.16-25

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu