Interleukin-1β, Interleukin-8 dan Komposisi Asam Lemak pada Bayi Setelah Tindakan Pembedahan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi lemak pada balita. (Sumber: KlikDokter)

Anak sakit mudah jatuh ke dalam gangguan gizi, karenanya terapi nutrisi selama dan setelah sakit sangat penting. Faktor-faktor atau sitokin proinflamasi yang teraktivasi menyebabkan kondisi anoreksia yang membuat anak, terutama bayi, mengalami gangguan gizi, dan bahkan mengalami komplikasi paska pembedahan. Bayi pasca pembedahan gastrointestinal menerima total parenteral nutrition (TPN) sebagai terapi nutrisi dengan komponen makro- dan mikro-nutrien yang terukur sesuai kebutuhan penerimanya. Salah satu komponen pentingnya adalah lipid.

Lipid generasi baru saat ini terdiri dari MCT, LCT, minyak zaitun, dan minyak ikan dengan rasio omega-3 dan omega-6 yang optimal. Minyak zaitun memiliki pengaruh tidak langsung anti-inflamasi, sementara minyak ikan dapat mencegah reaksi inflamasi, karena mengandung EPA (eicosapentaenoic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid) misal dengan menurunkan sekresi sitokin, menurunkan ekspresi molekul adhesi dan menyeimbangkan sistem imun.

Penelitian single-blind randomized control postest-pretest designed yang dilakukan pertama kali pada bayi paska pembedahan menunjukkan pemberian lipid generasi baru dapat menurunkan kadar TNF-α dan IL-6. Keduanya merupakan sitokin pro-inflamasi. Sementara itu penelitian pemberian lipid generasi baru ini terhadap sikotin-sitokin anti-inflamasi seperti IL-1β dan IL-8 terutama pada bayi pasca pembedahan masih belum terbukti. IL-1β berperan penting dalam mengendalikan infeksi, homeostasis dan perbaikan jaringan. Sementara IL-8 berperan penting dalam mengendalikan inflamasi dan penyembuhan. Pengamatan pada pasien selama 3 hari pemberian emulsi lemak di dalam TPN menunjukkan sedikit peningkatan kadar IL-1β dan IL-8 pada kelompok lemak generasi baru, namun tidak bereda secara statistik, karena periode terapi terlalu pendek (kurang dari 6 hari terapi). Lipid generasi baru menunjukkan efek perbaikan profil IL-1β dan IL-8 setelah pemberian lebih dari 7 hari. Pernyataan ini dibuktikan pada penelitian dengan subjek dewasa, peningkatan kadar IL-1β dan IL-8 yang bermakna terjadi setelah 7 hari pemberian emulsi lemak generasi baru paska pembedahan tumor gastrointestinal. Inflamasi sistemik paska pembedahan akan menyebabkan pelepasan dan ekspresi sitokin baik pro-infamasi dan anti-inflamasi. Diantara semua sitokin yang ada, TNF-α merupakan tipe sitokin yang pertama kali terdeteksi, diikuti IL-6. Puncak ekspresi keduanya terjadi setelah 1-2 jam paska pembedahan. Sementara itu waktu paroh IL-1β pada kondisi inflamasi sistemik kurang dari 10 menit sehingga agak susah dideteksi selama periode stress metabolik. IL-8 dilepaskan sebagai bagian dari kaskade inflamasi yang diinisiasi oleh IL-125.

Sementara itu terdapat perbaikan (meningkat) pada komposisi omega-6 di dalam darah bayi yang menerima emulsi lemak generasi baru secara bermakna, kadar leukosit hitung lebih rendah, dan kadar CRP juga lebih rendah setelah pemberian (hari ke-4). CRP merupakan protein fase akut yang disintesis oleh induksi IL-6 dari hepatosit, menandakan puncak kejadian traumatik akut dan mencerminkan perubahan cepat tubuh akibat kondisi inflamasi, karena diketahui kadarnya meningkat setelah 3-12 jam paska pembedahan, mencapai kadar puncak setelah 24-72 jam. Hal ini menunjukkan pemberian lipid generasi mampu menurunkan infeksi, dan hal ini juga terbukti pada pasien dewasa pasca pembedahan akibat keganasan gastrointestinal. EPA dan DHA di dalam asam lemak omega-3 mampu menghambat jalur inflamasi seperti misalnya mencegah chemotaksis leukosit, eksresi molekul adhesi dan interaksi adhesif antara leukosit dengan endothelium. Kadar omega-6 pada kelompok yang menerima lipid generasi baru lebih rendah daripada kelompok lipid generasi menengah. Hal ini karena terjadi perubahan lipid di membran sel fosfolipid. Asam lemak bertindak sebagai second messenger di membran luar fosfolipid sel.

Namun demikian diperlukan penelitian serupa dengan jumlah pasien bayi yang lebih besar untuk memperoleh informasi yang lebih medalam lagi dengan parameter inflamasi dan proinflamasi yang lebih luas agar mortalitas dan morbiditas bayi paska pembedahan gastrointestinal dapat diturunkan.

Penulis: Meta Herdiana Hanindita, Roedi Irawan, IDG Ugrasena

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini,

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7707114/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu