Evaluasi MRI Infiltrasi Lemak Otot Paraspinal pada Pasien Nyeri Punggung Bawah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi nyeri punggung bawah. (Sumber: Alodokter)

Nyeri punggung bawah (LBP) didefinisikan sebagai nyeri, ketegangan otot, atau kekakuan yang terlokalisasi di bawah margin kosta dan di atas lipatan gluteal inferior, dengan atau tanpa linu panggul. (Kalichman, Carmeli dan Been, 2017) Ini sebagai masalah kesehatan yang mempengaruhi 11-84% orang dewasa dalam hidup mereka (Sitthipornvorakul et al., 2011; Hildebrandt et al., 2017), dan telah menjadi penyebab utama kecacatan pada orang dewasa di usia kerja. (Bhadresha, Lawrence dan McCarthy, 2016)

Beberapa penelitian telah menunjukkan peran otot paraspinal dalam penyebab LBP. Studi menunjukkan bahwa atrofi dan infiltrasi lemak intramuskular pada otot paraspinal telah dibuktikan pada pasien dengan LBP. (Kjaer et al., 2007; Wan et al., 2015) Beberapa teori juga menyatakan bahwa perubahan degeneratif, yang juga menyebabkan LBP, dapat menyebabkan kompresi akar saraf dan denervasi otot paraspinal (multifidus), menyebabkan penurunan parah dan terbesar otot. (Wan et al., 2015) Sementara otot paraspinal dapat dinilai menggunakan computed tomography, ultrasound, dan magnetic resonance imaging (MRI) (Kalichman, Carmeli and Been, 2017), MRI lebih unggul karena kemampuannya untuk mengevaluasi komposisi otot dengan kontras jaringan lunak yang baik dan bebas radiasi. (Wan et al., 2015)

Pendahuluan

Sampel terdiri dari 52 pasien nyeri punggung bawah yang menjalani pemeriksaan MRI lumbosakral di Bagian Radiologi RSUP Soetomo Surabaya. Para partisipan setidaknya berusia 30 tahun dengan durasi akut (kurang dari 12 minggu) atau kronis (setidaknya 12 minggu) durasi LBP. Kriteria eksklusi adalah riwayat trauma, infeksi, operasi tulang belakang, keganasan, terbaring di tempat tidur minimal 1 minggu dalam 12 bulan terakhir, imunodefisiensi, sepsis, luka bakar, gagal jantung kongestif, penyakit ginjal kronis, dan riwayat hati, kandung empedu, atau pankreas. penyakit. Penelitian ini disetujui di Komite Etik RS Akademik Umum Soetomo Surabaya (1605 / KEPK / X / 2019).

Pemeriksaan MRI lumbosakral dalam penelitian ini dilakukan sesuai dengan protokol standar, dilakukan pada MRI 1.5T atau 3T. Gambar aksial MRI dengan referensi silang sagital dibuat pada tiga tingkat di sepanjang tulang belakang lumbal (L3-L4, L4-L5, dan L5-S1) pada gambar berbobot T2. Dua ahli radiologi muskuloskeletal kemudian menganalisis infiltrasi lemak pada tiga otot (erector spinae, multifidus, dan psoas mayor) di setiap level, menggunakan klasifikasi Goutallier.

Metode dan Hasil

Besar sampel akhir yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah 52 pasien. Usia rata-rata 54,0 9,8 tahun (kisaran 31-79, sebagian besar pasien berusia 41-60 tahun (n = 38, 73,1%) dan 34 (65,4%) berjenis kelamin perempuan. LBP akut ditemukan pada 23 pasien (44,2%), sedangkan 29 pasien lainnya (55,8%) mengalami LBP kronis.

Peran otot paravertebral pada pasien LBP masih kontroversial. Penurunan luas penampang otot tulang belakang pada MRI dan CT, dengan atau tanpa penurunan kepadatan otot pada CT, dapat ditemukan pada pasien dengan LBP akut dan kronis, serta LBP setelah operasi. Pada degenerasi, peningkatan rentang gerak antara segmen tulang belakang yang berdekatan dapat menyebabkan peningkatan stres pada struktur otot yang dapat merusak otot secara langsung (atrofi miogenik), atau secara tidak langsung oleh denervasi traumatis (atrofi neurogenik). (Bierry et al., 2008).

Perubahan morfologi yang terkait dengan degenerasi otot termasuk infiltrasi lemak dan penurunan massa otot. Perubahan ini dapat dievaluasi dalam CT atau MRI dengan berbagai metode kuantitatif dan kualitatif, seperti klasifikasi Goutallier, sistem tingkat 3 yang disederhanakan, atau korelasi dengan tubuh vertebral yang berdekatan. Semua metode memiliki kekuatan dan keterbatasannya masing-masing. (Upadhyay dan Toms, 2015) Pada penelitian ini, kami mengukur infiltrasi lemak otot paraspinal menggunakan kalsifikasi Goutallier. Metode ini pertama kali digunakan sebagai alat untuk mengklasifikasikan infiltrasi lemak rotator cuff, dengan kegunaan prognostik dan evaluasi perawatan. (Somerson et al., 2016) Battaglia et al. Kemudian digunakan sistem klasifikasi ini untuk menilai tingkat infiltrasi lemak pada otot lumbal multifidus. Dalam studinya, Goutallier terbukti menjadi alat yang andal dalam menilai infiltrasi lemak multifidus dengan korelasi signifikan dengan pengukuran kuantitatif dan keandalan antar pengamat yang baik. (Battaglia et al., 2014)

Pada penelitian ini, infiltrasi lemak pada erector spinae, multifidus, dan psoas mayor menunjukkan peningkatan derajat durasi kronis LBP. Baik pada pasien LBP akut maupun kronis infiltrasi lemak cenderung lebih tinggi pada level L5-S1, level evaluasi terendah.

Penulis: Paulus Rahardjo

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Tirza Dian Patricia Lintang, Paulus Rahardjo, Rosy Setiawati. MRI Evaluation of Paraspinal Muscle Fatty Infiltration in Low Back Pain Patients. International Journal of Research Publication (Volume: 59, Issue: 1) https://doi.org/10.47119/IJRP100591820201404

https://ijrp.org/paper-detail/1405

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu