Pendekatan Keberlanjutan dalam Pengobatan Penderita TB-RO melalui Organisasi Sosial Kemasyarakatan Aisyiyah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Tuberkulosis Resisten Obat. (Sumber: Tribunnews.com)

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu dari 10 penyebab utama kematian di seluruh dunia dengan penyebab utamanya adalah infeksi HIV. Pada tahun 2017, TB menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian dengan 90% kasus adalah orang dewasa (>15 tahun) dan 64% kasus laki-laki. Pada tahun 2016, terjadi 274 kematian per hari di Indonesia. Kasus TB baru sudah mencapai 1.020.000 orang. Angka tersebut membuat Indonesia menduduki peringkat ketiga tertinggi di dunia dengan kasus TB setelah India kemudian disusul China, Filipina, Pakistan, Nigeria, dan Afrika Selatan.

Multidrugs resistant tuberculosis (MDR-TB) saat ini merupakan masalah kesehatan yang penting di dunia baik dari segi morbiditas maupun mortalitas. Pada tahun 2011, di seluruh dunia diperkirakan terdapat sekitar 3,8% TB kasus baru dan sekitar 20% kasus TB dengan riwayat pengobatan sebelumnya. Kasus MDR-TB di Indonesia diperkirakan sekitar 6.100 kasus setiap tahunnya. Salah satu tantangan dalam penatalaksanaan MDR-TB adalah peningkatan jumlah kasus pasien putus pengobatan pada setiap tahunnya. Hal ini disebabkan karena jangka waktu pengobatan TB-RO yang relatif lama (20-24 bulan) disertai dengan berbagai efek samping yang dirasakan pasien. Pada tahun 2016, WHO mengeluarkan rekomendasi Short-Term Treatment (STR) (9-11 bulan) untuk pasien TB-RO. Pencegahan MDR-TB melalui Directly Observed Treatment Short-course (DOTS) terbukti efektif dan hemat biaya meskipun dalam beberapa kasus gagal menyembuhkan.

Lamanya waktu pengobatan TB-RO minimal 9 bulan, jumlah obat yang harus dikonsumsi banyak dan adanya efek samping yang timbul setelah konsumsi obat menyebabkan pentingnya peranan pendampingan terhadap pasien TB-RO untuk menunjang kesembuhan. Pendampingan dapat dilakukan oleh orang terdekat, keluarga, bahkan oleh orang lain. Aisyiyah adalah Organisasi Wanita Muhammadiyah yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 19 Mei 1917 oleh Nyai Ahmad Dahlan. Salah satu program kerjanya adalah memantau pasien yang sedang menjalani pengobatan TB-RO di rumah sakit. Di Surabaya, Aisyiyah mulai melakukan pendampingan pada November 2014, namun baru berlangsung pada Desember 2019. Pendampingan oleh Aisyiyah memiliki kriteria tertentu antara lain pasien berasal dari keluarga miskin dan keluarga yang tinggal sendiri atau tidak ada orang dekat.

Pada periode Oktober 2014 – Desember 2017 terdapat 434 pasien TB-RO dan sebanyak 75 pasien (17,28%) mendapatkan pendampingan dari Aisyiyah dengan usia rata-rata 44,38 ± 12,28 tahun. Bedasarkan jenis kelamin, perbandingan antara pasien yang mendapatkan pendampingan dan yang tidak, untuk laki-laki (49,3% vs 60,2%) dan perempuan (50,7% vs 39,8%). Berdasarkan resistensinya, untuk MDR-TB (5,3% vs 10,3%), Resisten Rifampisin (85,3% vs 75,5%), dan XDR-TB (2,7% vs 8,1%). Berdasarkan hasil akhir pengobatan, untuk pasien sembuh (1.6% vs 15.0%; p=0.031), pengobatan lengkap (0.0% vs 0.5%; p = 0.517), loss to follow up (2.8% vs 28.3%; p = 0.002), gagal pengobatan (0.2% vs 1.6%; p =0 .718), dan meninggal (1.6% vs 7.9%; p= 0.965).

Pendampingan oleh Aisyiyah sangat berpengaruh pada hasil kesembuhan pasien, namun ada juga yang berpengaruh tapi dengan hasil akhir gagal pengobatan. Hal ini dapat disebabkan karena semua pasien yang mendapat bantuan dari Aisyah sebagian besar lanjut usia, kurang mendapat dukungan dari lingkungan, dan kurangnya perhatian dari keluarga.

Penulis: Soedarsono

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://microbiologyjournal.org/the-sustainability-approach-to-treatment-of-dr-tb-patients-through-community-social-organization-aisyiyah/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu