Keterlibatan dan Kepuasan Kerja Dosen Milenial Saat Pandemi COVID-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh psikogenesis

Munculnya jenis virus baru yang sedang dialami tahun ini (disebut COVID-19) telah menggemparkan dunia, dan virus corona sedang berkecamuk. keliling dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2020) menyatakan ini sebagai pandemi global, dengan jumlah kasus terkonfirmasi tertinggi dan angka kematian lebih tinggi. Dengan meletusnya COVID-19 (WHO), orang akan menghadapi tantangan besar di seluruh dunia, yang secara drastis dapat memengaruhi gaya hidup kita (Hoq, 2020). Krisis kesehatan global saat ini tidak hanya memiliki dampak yang tak tertandingi pada kesehatan manusia dan ekonomi global saja, tetapi juga menimbulkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi pekerjaan banyak orang (Restubog et al., 2020). Situasi dengan hadirnya COVID-19 menyisakan pelajaran baru bagi semua spektrum kehidupan dan di semua sektor termasuk sektor pendidikan. Organisasi Perburuhan Internasional (2020) juga memperkirakan jam kerja global akan turun signifikan pada kuartal kedua tahun 2020, yakni 10,5% atau setara dengan 305 juta pekerja yang sebagian besar merupakan generasi milenial.

Generasi milenial mengacu pada seseorang yang lahir antara tahun 1980 dan 2000, yang biasa dikenal dengan iGen dan tech-savvy karena seseorang yang merupakan milenial lahir dan besar dengan teknologi pintar (Jha et al., 2019). Generasi milenial mulai mendominasi tim pengajar di Indonesia. KEMRISTEKDIKTI menyatakan bahwa lebih dari 30% dosen pada tahun 2018 berasal dari generasi milenial (KEMRISTEKDIKTI, 2018). Dosen milenial dikenal menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan di dunia kerja (Sianturi et al., 2019). Syarat pertama yang harus dipenuhi oleh dosen milenial adalah menyesuaikan dengan kebutuhan dosen senior yang memiliki karakteristik berbeda dengan generasi sebelumnya, dan persyaratan kedua yang dihadapi dosen milenial adalah beradaptasi dengan kebutuhan berbagai pekerjaan sebagai dosen (Sianturi et al., 2019 ).

Mulai dari merancang silabus, memberikan pengajaran hingga menyiapkan dan mengevaluasi hasil kerja mahasiswa, yang menjadikan ruang lingkup tanggung jawab dosen dalam mengajar sangat bervariasi. Selain mengajar sebagai tanggung jawab Tridharma Perguruan Tinggi, dosen juga melaksanakan tugas dalam melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ruang lingkup penugasan penelitian juga sangat luas, mulai dari penulisan proposal penelitian, pelaksanaan penelitian hingga penulisan laporan penelitian akhir dan penerbitan hasil penelitian. Sehingga akan berdampak pada masalah engagement dan kepuasan kerja di kalangan dosen milenial. Dosen juga masih memiliki tugas tambahan, seperti menduduki jabatan struktural dan menjadi panitia kegiatan fakultas dan universitas (Angeline, 2011). Sedangkan gaji dosen di Indonesia dikenal rendah dan jalur karirnya cukup panjang. Hal-hal tersebut dapat membuat para dosen muda Generasi Milenial memutuskan berhenti dari profesinya dan meninggalkan bangku kuliah (Sianturi et al., 2019). Sehingga pelibatan para dosen Generasi Milenial semakin penting untuk dilakukan. Menghindari pergantian karyawan yang cepat. Dale Carnegie Indonesia (DCI), (2016) mengatakan bahwa hanya 25% pekerja milenial yang memiliki keterikatan yang baik dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Hal ini berbeda dengan pernyataan Rich et al., (2010) yang menyatakan bahwa employee engagement dapat meningkatkan kepuasan kerja yang pada akhirnya juga akan berdampak pada kinerja karyawan.

Keterlibatan karyawan diakui sebagai elemen penting efektivitas dalam sebuah organisasi (Mann & Harter, (2016); Ruck et al., (2017); Khodakarami & Dirani, (2020). Alasan utama di balik ini adalah fakta bahwa karyawan yang terlibat adalah pekerja yang lebih menguntungkan, produktif, lebih aman, dan lebih sehat (Khodakarami, 2019). Munculnya tenaga kerja baru yang disebut “Milenial” membuat keterlibatan karyawan semakin sulit (Jha et al., 2019). Survei oleh Deloitte , (2016) menyatakan bahwa mayoritas pekerja generasi milenial ingin berganti perusahaan pada tahun 2020. Selain itu, menurut laporan PwC, (2011), sebagian besar CEO akan mempertimbangkan untuk mempertahankan, menarik, dan mendapatkan keterlibatan milenial sebagai tantangan terbesar. Untuk organisasi saat ini, apalagi saat terjadi pandemi COVID 19 akan menguji kemampuan adaptasi dan fleksibilitas kita untuk mampu merespon krisis besar (Hoq, 2020). Pekerja generasi milenial seperti dosen dituntut untuk mampu merespon hal tersebut situasi b Karena keterikatan karyawan merupakan hal penting yang juga dapat mempengaruhi kepuasan kerja. Kepuasan kerja karyawan juga diketahui sangat penting agar seorang karyawan dapat mengeluarkan kemampuan yang maksimal dalam pekerjaannya (Setiawan et al., 2020). Apalagi seorang dosen memikul tanggung jawab yang berat dalam mendidik mahasiswanya, Fitriyana dkk., (2016) dan merupakan ujung tombak kesuksesan seorang mahasiswa.

Keterlibatan dan kepuasan kerja selama pandemi COVID-19 telah memicu perdebatan mengenai pentingnya mempertimbangkan kembali kepuasan kerja karyawan, seperti apakah organisasi perlu mendesain ulang program dukungan karyawan mereka untuk menjaga karyawan tetap fokus pada mempertahankan tingkat kepuasan. Karena ini berdampak pada peningkatan motivasi dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas aktual, lebih banyak pertimbangan mungkin diperlukan. Hasil penelitian (KC et al., 2020) menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan akan merasa puas walaupun bekerja di rumah, namun beberapa aspek penting lainnya dari kepuasan kerja belum dijelaskan, diantaranya perbedaan melalui perspektif gender. Menurut Chaudhary, (2017) gender memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai dan sikap individu yang diketahui penting untuk mempertimbangkan perbedaan gender dalam hubungan pertunangan di beberapa pekerjaan. Selain itu, menurut pendekatan sosialisasi gender (Calabrese et al., 2016), perbedaan gender dapat berdampak pada orientasi moral seseorang karena terdapat perbedaan nilai dan karakteristik psikologis antara laki-laki dan perempuan.

Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dan dianalisis diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan pengaruh engagement terhadap kepuasan kerja kelompok sampel dosen milenial laki-laki dengan sampel dosen milenial perempuan. Pengaruh engagement terhadap kepuasan kerja diketahui lebih besar pada kelompok dosen milenial perempuan dibandingkan pada kelompok dosen milenial laki-laki. Hasil tersebut dapat dilihat melalui koefisien jalur semua dimensi pada variabel engagement dan job satisfaction dosen milenial laki-laki dan dosen milenial perempuan yang sangat signifikan. Hal ini dapat didukung oleh pernyataan Jin & Park, (2016) melalui pandangan netral identitas yang menjelaskan keterlibatan kerja, dengan asumsi bahwa perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan atau semua ras minoritas dapat secara bersama-sama menunjukkan keterlibatan mereka di tempat kerja (Jin & Park , 2016). Meskipun pengaruh engagement terhadap kepuasan kerja diketahui lebih besar pada kelompok dosen milenial perempuan dan terdapat perspektif antar gender, secara keseluruhan hal tersebut menunjukkan bahwa 79,75% dosen milenial masih bertahan dalam bekerja dengan organisasinya. Sehingga perbedaan gender tetap menunjukkan ketertarikannya pada tempat kerjanya dan dapat memberikan hasil yang positif pada pekerjaannya melalui kepuasan kerja.

Hasil penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi oleh manajemen perusahaan dalam mengukur seberapa besar pengaruh employee engagement terhadap kepuasan kerja selama pandemi COVID-19, dan dalam membuktikan perbedaan persepsi work engagement dan kepuasan antara perspektif gender pria dan wanita. Implikasi dari penelitian ini membuktikan bahwa selama situasi saat ini saat pandemi COVID-19 di Indonesia terdapat perbedaan perspektif gender antara laki-laki dan perempuan dalam menghadapi dampak engagement terhadap kepuasan kerja dosen milenial. Dalam penelitian ini banyak aspek seperti teknologi, keuangan, guncangan budaya, gender dan emosi, serta keterbatasan ruang untuk kegiatan masih terabaikan, sehingga dalam penelitian selanjutnya sebaiknya memasukkan variabel prediktor. Dilihat dari metode analisis deskriptif, metode dalam penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan dalam menentukan semua perilaku yang berkaitan dengan konstruksi penelitian yang dilakukan secara lebih mendalam, oleh karena itu disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan lebih baik dengan mengkonfirmasikan hasil kuisioner yang dilakukan melalui proses wawancara.

Penulis : Prof. Dr. Anis Eliyana, S.E., M.Si.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

http://www.sysrevpharm.org//index.php?fulltxt=29650&fulltxtj=196&fulltxtp=196-1605177840.pdf

(The Engagement and Working Satisfaction of Millennial Lecturers During the COVID-19 Pandemic: Differences in Gender Identity Perspectives)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu