Karakteristik Komplikasi Penderita Otitis Media Suouratif Kronis di Indonesia : Review 25 Kasus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Otitis Media Supuratif Kronis. (Sumber: Dictio Commmunity)

Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) adalah peradangan kronis dari mukosa telinga tengah dan mukosa tulang mastoid yang  didapatkan lubang pada gendang telinga  dan disertai keluhan keluarnya cairan dari liang telinga. Istilah peradangan kronis biasanya mengacu pada lama keluhan berupa keluarnya cairan selama lebih dari 6 sampai 8 minggu.

OMSK masih menjadi masalah yang banyak ditemukan terutama di negara berkembang, oleh karena menjadi penyebab timbulnya gangguan pendengaran. Angka kejadian OMSK adalah sebesar 4,76% setara dengan 31 juta kasus, dimana 22,6% kasus terjadi setiap tahunnya. Prevalensi OMSK di dunia mencapai 65 hingga 330 juta orang, dan 39 hingga 200 juta (60%) penderita mengalami gangguan pendengaran yang signifikan.

OMSK dengan disertai adanya cholesteatoma atau disebut juga OMSK tipe atiko-antral atau unsafe type termasuk penyakit dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi akibat komplikasinya. OMSK jenis ini ditandai dengan sekret yang berbau, perforasi membrana timpani yang marginal atau atik dengan patologi kolesteatoma. Keterlambatan diagnosis dan penatalaksanaan penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi sehingga meningkatkan angka kematian. Komplikasi pada otitis media supuratif kronik terbagi dua yaitu komplikasi ekstra kranial yang meliputi abces sub periosteal belakang telinga, mastoiditis, petrositis, labirintitis, paresis nervus fasialis dan fistula labirin. Komplikasi intrakranial terdiri dari abses ekstradural, tromboflebitis sinus sigmoid, abses otak, hidrosefalus otik, meningitis dan abses subdural.

Dilakukan penelitian karakteristik kasus OMSK yang mengalami komplikasi selama periode Januari 2017 – Desember  2018 di RS dr. Soetomo Surabaya. Dari hasil penelitian terhadap 25 kasus pada periode tersebut, diperoleh usia rata-rata peserta adalah 28,84 ± 15,40 tahun (p = 0,468), terbanyak pada rentang usia 11-25 tahun (48,00%). Sebagian besar adalah laki-laki (76,00%) (p = 0,364), berpendidikan SMA (48,00%) dan berasal dari Indonesia bagian Barat (76,00%). Gejala klinis terbanyak berupa keluar cairan telinga dan sakit telinga (68.00%). Didapatkan kolesteatoma pada semua peserta dan 60,00% gendang telinga mengalami perforasi atikoantral. Komplikasi OMSK pada tahun 2017 dan 2018 terbanyak terjadi ekstra kranial (55,56%; p = 1.000 dan 70,59%; p = 0,785). Tidak ada perbandingan yang bermakna antara jumlah komplikasi OMSK tahun 2017 dan 2018 (p = 0,326). Prosedur pembedahan menggunakan Mastoidektomi dinding runtuh. Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa Abses subperiosteal merupakan komplikasi ekstrakranial tersering, sedangkan abses otak merupakan komplikasi OMSK intrakranial tersering.

Penulis :  Artono

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat dari tulisan kami di :

http://www.sysrevpharm.org/index.php?mno=33241

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu