Komunikasi antara Suami Istri dalam Menegosiasikan Peran Merawat Anak Autism Spectrum Disorder

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi orang tua merawat anak dengan autism. (Sumber: Halodoc)

Studi-studi terdahulu menunjukkan bahwa pasangan menikah yang memiliki anak dengan ASD rentan akan kondisi finansial, emosional, tenaga dan waktu yang dapat memicu ketegangan hubungan antara suami dan istri sebagai orang tua dalam merawat anak ASD mereka sehingga hubungan interpersonal antara suami istri menjadi buruk. Berbicara tentang kehadiran anak ASD di tengah pasangan suami istri ini membangkitkan pertanyaan kritis peneliti untuk mengelaborasi komunikasi yang digunakan oleh pasangan heteroseksual yang sudah menikah dalam menegosiasikan peran merawat anak ASD terkait finansial, emosional, tenaga dan waktu dengan menggunakan teori dialektika hubungan. Sehingga data yang didapat dapat menggambarkan  kemampuan adaptasi dan kohesivitas antara suami istri dalam merawat anak ASD mereka.

Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai  dengan adanya defisit komunikasi sosial dan perilaku terbatas serta berulang yang menyebabkan anak ASD memiliki kesulitan dalam berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sosial mereka, termasuk kesulitan dalam menjalin hubungan dengan teman sebaya atau anggota keluarga.

Di Puterakembara (komunitas orang tua dari anak-anak dengan ASD di Jakarta), mayoritas orang tua menceritakan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam berbicara dan mengatur perilaku anak ASD mereka, bahkan terkadang mereka kehilangan kesabaran, energi, dan waktu untuk diri mereka sendiri atau pasangannya (Marijani, 2003). Beberapa dari mereka menyalahkan diri sendiri dan menyalahkan pasangan mereka karena ketidakmampuan mereka untuk mengatasi kondisi ini (Apostelina, 2012).

Studi lain menunjukkan bahwa orang tua dari anak-anak dengan ASD menghadapi masalah keuangan, kesibukan mengatur jadwal terapi, dan kesulitan mengatur perilaku anak ASD mereka. Ketidakmampuan untuk mengatasi ini berpotensi meningkatkan risiko perceraian atau pemisahan (Freedman et al., 2012). Dokter anak Indonesia Sutadi, konsultan terkemuka untuk anak-anak dengan ASD, melakukan penelitian pada 406 keluarga dengan anak ASD dari tahun 2000 hingga 2004. Ia menemukan bahwa 23,5% keluarga di Indonesia yang merawat anak dengan ASD mengalami perceraian, ini menunjukkan satu dari lima keluarga yang sedang  merawat anak penderita ASD mengalami perceraian (Sutadi, 2011).

Penelitian Aji (2019) juga menemukan bahwa beberapa orang tua di komunitas Illahi (komunitas orang tua dari anak-anak dengan ASD di Semarang) mengakui bahwa tujuan mereka bergabung dengan komunitas ini adalah untuk dapat berbagi pengalaman dan mencari dukungan dari orang lain yang bernasib sama karena tidak mendapatkan dukungan dari pasangan, orang tua atau keluarganya. Mereka berharap dengan bergabung dalam komunitas ini mereka tidak lagi stres dengan kondisi ini.

Strategi Suami Istri dalam Menegosiasikan Kebersamaan versus Perpisahan Dalam Merawat Anak ASD

Menurut Baxter & Scharp (2015) dan Krueger & Funder (2004), dalam teori relasional dialektis, elemen penting yang dipelajari adalah rangkaian ucapan antar individu yang saling berinteraksi dengan melihat latar belakang individu dan konteks nilai di antara mereka. Konsep kontradiksi yang didialogkan dalam penelitian ini berfokus pada konsep kontradiksi kebersamaan versus perpisahan. Ucapan kebersamaan bisa dilihat secara lisan yang menunjukkan kesukaan, penerimaan, kolektivitas, supportiveness, dan lainnya terkait dengan tindakan apa pun yang mengarah ke hasil positif. Ucapan perpisahan bisa dilihat secara lisan yang menunjukkan rasa tidak suka, tidak menerima, egois, menuntut dukungan, dan tindakan apa pun yang mengarah menuju hasil negatif.

Kontradiksi antara kebersamaan dan perpisahan dalam teori relasional dialektika, menurut Wood et al. (di Turner dan West, 2006) dapat dikelola dengan menggunakan empat strategi negosiasi, yakni: (1) pergantian siklik (spiral alternation) adalah strategi untuk memilih satu alternatif tergantung pada waktu; (2) segmentasi adalah strategi untuk memilih satu alternatif tergantung pada domain; (3) seleksi adalah strategi untuk memilih sisi tertentu yang mengabaikan waktu dan domain; dan (4) integrasi adalah strategi yang mencoba mencari solusi untuk kedua pihak. Strategi integrasi memiliki empat macam fungsi, antara lain: (a) neutralizing (balancing), artinya, kedua belah pihak mencoba untuk berkompromi; (b) pembingkaian ulang (kalibrasi ulang), artinya, kedua belah pihak mencoba mengurangi tekanan; (c) mendiskualifikasi, yaitu memilih satu sisi untuk memperjuangkan masalah umum; namun, ini tidak berlaku untuk masalah khusus atau pribadi;dan (d) penegasan kembali, yaitu, kedua belah pihak memilih jalur yang berbeda tetapi tetap mempertimbangkan keputusan pihak lain. Teori ini akan digunakan secara singkat untuk mengeksplorasi peran suami dan istri terkait dengan masalah keuangan, emosional, energi, dan waktu, serta untuk mengeksplorasi kohesi, adaptasi, dan strategi mereka menegosiasikan peran parenting untuk anak ASD mereka.

Metode dan Hasil

Studi fenomenologi ini berfokus pada penuturan pengalaman suami istri dalam merawat anak ASD. Hasil penelitian menunjukkan para partisipan menggunakan strategi kompromi dengan mengakomodir perubahan berdasarkan konsensus kolektif untuk berbagi peran dan tugas terkait dengan masalah keuangan, emosional, waktu, dan energi untuk anak ASD mereka. Meskipun sulit, mereka memiliki optimisme bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Perasaan optimisme yang sama akan memudahkan untuk menciptakan kohesi dan kemampuan beradaptasi yang baik.

Penulis: Andria Saptyasari

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://journal.ui.ac.id/index.php/jkmi/issue/view/881/showToc

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu