Lebih Dekat dengan Pembekuan Sperma

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh lifestyle okezone

Pembekuan sperma atau kriopreservasi sperma adalah proses mengawetkan sel sperma menggunakan temperatur yang rendah untuk digunakan di masa yang akan datang. Program kriopreservasi sperma memberikan kesempatan pada laki-laki yang berpotensi tidak subur saat ini atau di masa yang akan datang untuk memiliki keturunan. Kriopreservasi sperma perlu didiskusikan dan ditawarkan kepada pasien sebelum terapi yang dapat menurunkan kesuburan laki-laki misalnya pengobatan kanker atau vasektomi (pemotongan saluran sperma sebagai bentuk kontrasepsi). Program ini juga digunakan untuk menjamin ketersediaan sperma sebelum proses bayi tabung. Mobilitas manusia yang tinggi dapat menyebabkan laki-laki tidak dapat menyerahkan spermanya di saat proses bayi tabung dilaksanakan. Apabila laki-laki tersebut telah melakukan pembekuan sperma sebelumnya, maka sperma tersebut dapat digunakan untuk proses bayi tabung.

Sejarah pembekuan sperma telah dimulai sejak tahun 1776. Lazzaro Spallanzani menggunakan salju selama musim dingin dan mengamati bahwa sperma manusia tepat bergerak setelah pembekuan dan pencairan. Di pertengahan abad 20 Polge menemukan bahwa gliserol adalah bahan pelindung pembekuan yang efektif untuk pembekuan sperma. Sejak itu, gliserol menjadi bahan pelindung pembekuan (krioprotektan) utama yang digunakan untuk membekukan sperma dari sebagian besar spesies hewan dan manusia. Kehamilan pertama yang dihasilkan dari sperma manusia yang dibekukan bersama  gliserol dilaporkan pada tahun 1953.

Sampai tahun 1963, air mani manusia diawetkan pada suhu -75oC dengan “es kering”. Semua kehamilan dihasilkan dari penyimpanan sperma jangka pendek. Pada perkembangan selanjutnya Nitrogen cair (-196oC) menggantikan es kering. Dengan nitrogen cair sperma dapat disimpan lebih lama. Laporan menunjukkan bahwa air mani manusia yang disimpan selama kurang lebih 40 tahun dengan metode ini masih dapat menghasilkan kehamilan dan  kelahiran hidup. Bayi tabung dengan metode penyuntikan sperma ke dalam telur (intracytoplasmic sperm injection) memungkinkan tidak hanya sperma dalam air mani yang bisa disimpan beku, bahkan sperma yang diperoleh dari epididimis (saluran sperma) dan testispun dapat dibekukan. 

Prosedur pembekuan sperma yang umum dilakukan saat ini menyebabkan penurunan persentase sperma bergerak dan bertahan hidup hingga 50%. Seringkali sebagian sperma akan hilang karena menempel pada dinding alat penyimpanan (container) sperma beku. Bagi laki-laki sehat dengan jumlah sperma yang banyak, penurunan kualitas dan kuantitas sperma ini tidak akan menjadi masalah sebab beberapa juta sperma bergerak setelah pencairan sudah cukup untuk palaksanaan bayi tabung. Namun, laki-laki dengan air mani yang mengandung sedikit sperma, penurunan kualitas dan kuantitas ini akan menjadi masalah yang besar. Metode yang memungkinkan kriopreservasi sperma dalam jumlah satuan akan sangat bermanfaat bagi pasien dengan gangguan kesuburan yang berat.

Banyak peneliti berusaha untuk menemukan teknologi baru khususnya untuk pembekuan sperma dalam jumlah jumlah terbatas. Mereka menggunakan beberapa bahan penyimpanan biologis dan non-biologis. Peneliti dari Unair telah menggunakan Cryologic® (sebuah alat untuk menyimpan embrio beku) dan berhasil menyimpan sperma dalam jumlah berapa pun (https://docs.google.com/viewer?url=https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/viewFile/1732/pdf).

Mengantisipasi bahwa terapi baru akan tersedia di masa depan, beberapa pusat kesehatan telah memutuskan untuk menyimpan jaringan testis anak-anak yang menderita kanker. Mereka berisiko tinggi mengalami kemandulan dan tidak punya pilihan lain untuk mempertahankan kesuburannya. Sel punca sperma dari jaringan yang dikriopreservasi diharapkan akan menjadi sumber sel yang sesuai untuk pembentukan sperma di luar tubuh atau transplantasi kembali ke dalam testis pasien di masa depan setelah penyembuhan dari kanker. Pembekuan sperma merupakan salah satu usaha pelestarian kesuburan yang memungkinkan penyimpanan sperma dengan jangka waktu yang tidak terbatas dan menjamin ketersediaan sperma untuk proses bayi tabung. Sperma dalam jumlah berapa pun bahkan bisa disimpan beku. 

Penulis: Agustinus, dr., Sp.And 

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: 

https://ijbs-udayana.org/index.php/ijbs/article/view/230

Hinting, A., Agustinus, A. 2020. Recent updates of sperm cryopreservation technique: a literature review. Indonesia Journal of Biomedical Science 14(2): 92-98. DOI:10.15562/ijbs.v14i2.230

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu