Korelasi Daun Puring sebagai Penyerap Timbal di Surabaya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Urban Garden

Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta, sehingga Surabaya menjadi pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan. Tak heran, jika berbagai macam masalah muncul. Polusi udara terjadi dari emisi kendaraan. Salah satunya adalah memimpin. Timbal merupakan salah satu kandungan logam berat untuk kehidupan hal-hal karena karsinogenik (Mallongi et al., 2017; Hasmi dan Anwar Mallongi, 2016). Juga menyebabkan mutasi dan menulis dalam waktu lama (Nadia dkk., 2016; Rujito et al., 2015). Timbal dapat mencemari udara, udara, tanah, tumbuhan, hewan dan manusia (Kuningan dan Strauss, 1981; Ruaeny et al., 2015). Tingkat akumulasi timbal dalam vegetasi dan di dalam tanah akan meningkat sebanding dengan lalu lintas kepadatan dan berkurang dengan bertambahnya jarak dari pinggir jalan raya (Rangkuti, 2003; Hasairin dan Siregar, 2018).

Puring (Codiaeum variegatum) merupakan tanaman hias tanaman dan dapat berfungsi sebagai agen bioremediasi. Puring memiliki bentuk daun elips yang berwarna kuning, coklat, menjadi merah. Timbal memasuki jaringan daun melalui akar dan stomata. Timbal yang diserap tanaman akan menumpuk di jaringan tanaman dan bisa menyebabkan kerusakan daun. Sulistiana dan Setijorini (2016) menyatakan bahwa daun tumbuhan puring (Codiaeum variegatum) mampu menyerap timbal sekitar 2.05 mg / Lin udara. Daun merupakan bagian penting dari tumbuhan. Itu daunnya tipis, lebar, dan mengandung klorofil. Itu Daun memiliki beberapa fungsi diantaranya sebagai tempat untuk mengolah bahan makanan (asimilasi), penguapan (transpirasi), dan respirasi (pernafasan). Stomata daun adalah sarana utama pertukaran gas di pabrik. Stomata adalah pori pori kecil, biasanya di bagian bawah daundibuka atau ditutup di bawah kendali sepasang sel berbentuk pisang disebut sel penjaga.

Stomata daun adalah bagian utama dari pertukaran gas pada tumbuhan. Salisbury dan Ross (1995) menyatakanjumlah dan komposisi stomata ditentukan menurut etnis tumbuhan. Selain itu, juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan termasuk cahaya intensitas, CO2 konsentrasi, dan senyawa lainnyayang beracun bagi tanaman.

Pengambilan sampel daun puring (Codiaeum variegtaum) adalah diambil dari tiga lokasi berbeda yaitu di Bundaran Dolog Surabaya, Jl. Gading Ketabang Surabaya, dan Kebun Bibit 2 Surabaya. Konten prospek analisis dilakukan di Riset Industri dan Badan Konsultasi (BPKI). Pengamatan dari Jumlah stomata dilakukan di Laboratorium Biosistematika Biologi Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari hingga Mei 2019. Pengambilan Sampel Daun Untuk setiap lokasi kami mengambil empat tanaman. Setiap pabrik diambil empat lembar daun. Jumlah daun yang diambil untuk setiap lokasi adalah 16 untai sehingga daritiga lokasi diambil 48 daun. Daun diambil adalah 5 th, 6  th, 7 th, dan 8 th daun, dan 9th memesan. Di setiap daun empat daun di sekelilingnya diambil tulang berukuran 1 x 1 cm untuk diamati jumlah stomata. Sisa daun itutelah diambil di tengah akan diukur kandungan timbal (Pb) dengan metode AAS. Uji Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) Pembuatan / pemusnahan daun puring Daun puring yang masih basah dicacah dengan a ukuran 1-2 mm kemudian dikeringkan pada suhu 105 ° C sehingga semuanya airnya dipisahkan. Daun kering dihaluskan ke tepung dan disaring dengan ukuran mess 40 – 60 lalu ditimbang sebanyak 10 g. Kemudian tepung daun dimasukkan ke dalam cangkir porselen dan dibakar menjadi abu. Itu abu yang dihasilkan telah dibakar pada suhu 500-600 ° C sampai berwarna putih (berbentuk abu). Putih abu berwarna ditambahkan 25 mL HCl sehingga abu terlarut kemudian ditambahkan 5 mL HNO terkonsentrasi 3. Volume diatur oleh labu ukur dengan penambahan akuades sampai 100 mL kemudian disaring dengan kertas saring sehingga dapatkan 50 mL filtrat bening. Bacaan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) Filtrat dipindahkan ke gelas kimia 50 ml dengan tabung kapiler yang mengalir ke pembakaran AAS alat. Unit dari AAS diaktifkan kemudian mengambil pengukuran absorbansi blanko dengan 3 kali pengukuran. Kemudian ukur absorbansi berbagai solusi standar. Setelah hasilnya nilai cocok, kemudian lanjutkan dengan mengukur absorbansi larutan sampel. Setelah terbakar lengkap, maka nilai absorbansi (intensitas warna bahan bakar) diukur sehingga absorbansi nilai diperoleh dengan menggunakan kurva kalibrasi timbal (Pb).

Data yang diperoleh kemudian disimpan sesuai dengan nama sampel. Pengamatan jumlah stomata Daun puring yang sudah diambil dibersihkan kotoran menggunakan tisu, kemudian dipotong menjadi ukuran 1 x 1 cm. Daun yang sudah dipotong diolesi dengan paku bening semir pada permukaan daun dan tunggu sampai kering. Setelah pengeringan, selotip ditempelkan pada daun yang telah dikeringkan dilapisi dengan semir dan kemudian pita itu dengan hati-hati dilepas menggunakan pinset. Lakban yang telah dikeluarkan dari daunnya kemudian ditempelkan pada gelas obyek. Hasil penelitian  berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, simpulkan bahwa ada korelasi antara timbal kandungan (Pb) pada daun puring (Codiaeum variegatum) tentang jumlah stomata di lokasi Surabaya Dolog Round sekitar 0.51, Jl. Gading Ketabang Surabaya 0,50, dan Kebun Bibit 2 Surabaya 0,54  dari ketiga korelasi menunjukkan korelasi negatif.

Penulis: Dr. Hamidah, M.Kes  dan Thin Soedarti, Cesa

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:  http://www.envirobiotechjournals.com/issue_articles.php?iid=307&jid=4

KORELASI DAUN PURING  (CODIAEUM VARIEGATUM) SEBAGAI PENYERAP TIMBAL DI SURABAYA,

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu