Kesiapan Psikologis Menghadapi Bencana dan Resiliensi Mahasiswa

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Alinea.ID

Indonesia merupakan salah satu negara yang berada pada jalur cincin api pasifik dan terletak diujung pergerakan tiga lempeng (Eurasia, Indo-Australia, Pasifik). Hal inilah yang membuat Indonesia menjadi negara yang rentan mengalami bencana. Beberapa bencana baik hidrometeorologi, klimatologi, maupun bencana akibat ulah manusia terjadi di Indonesia. Bencana seperti gunung meletus, gempa, tsunami, gelombang pasang, kekeringan, dan banjir acap kali menghampiri berbagai daerah di Indonesia. United Nation Office for Disaster Risk Reduction melakukan survei terhadap 265 negara dan menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai  negara yang memiliki resiko tertinggi mengalami bencana diantara negara lainnya termasuk Jepang. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jumlah rata-rata bencana yang terjadi di Indonesia dalam lima tahun terakhir mencapai 4158 kasus. Bencana yang terjadi di Indonesia telah menimbulkan kerugian yang amat besar baik dari sisi materiil maupun immateriil. Kerusakan infrastruktur seperti gedung, jalan, dan rumah merupakan beberapa kerugian material akibat bencana. Sedangkan kerugian immaterial yang dialami oleh korban bencana adalah munculnya persoalan-persoalan psikologis seperti depresi, kecemasan, Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan persoalan kesehatan mental lainnya (Makwana,  2019). 

Makwana (2019) menemukan dalam penelitiannya bahwa resiliensi adalah salah satu faktor yang dapat membantu individu mengatasi persoalan psikologis akibat terekspos dalam situasi bencana. Reivich dan Shatte (2002) mengatakan bahwa resiliensi adalah kemampuan individu untuk beradaptasi dan teguh dalam situasi sulit. Situasi sulit yang dimaksud juga termasuk situasi bencana. Mishra dan Mazumdar (2015) dalam penelitiannya menyampaikan bahwa resiliensi menjelaskan bagaimana komunitas dan individu dapat merespon bencana dan seberapa cepat mereka bisa mengatasi kritis dan hidup secara normal kembali. Hal ini berhubungan dengan kesiapan psikologis menghadapi bencana karena berkaitan dengan bagaimana individu dapat merespon bencana (Mishra & Mazumdar, 2015). Kesiapan psikologis menghadapi bencana menjelaskan mengenai proses dan kapasitas seseorang yang mencakup kepedulian, antisipasi, gairah, perasaan, niat, pengambilan keputusan dan pengelolaan pemikiran, perasaan serta tindakan sebelum bencana terjadi, saat bencana terjadi dan setelah bencana terjadi (Reser & Morrissey, 2009). Berbagai studi menemukan bahwa  kesiapan meghadapi bencana berhubungan dengan resiliensi  sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesiapan psikologis menghadapi bencana dan resiliensi pada mahasiswa. 

Penelitian ini melibatkan 219 mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 25.  Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini terdiri dari 174 (79.5%) mahasiswa berjenis kelamin wanita dan 45 (20.5%) orang mahasiswa berjenis kelamin pria. Berdasarkan usia, partisipan dalam penelitian ini berusia antara 19-24 tahun. Kelompok usia terbanyak adalah subyek dengan usia 21 tahun yaitu sebesar 58 mahasiswa atau 26,5% dari total populasi. Kelompok usia terbanyak kedua yaitu subyek berusia 19 tahun sebanyak 51 mahasiswa atau 23,3 % dan urutan terakhir adalah kelompok yang berusia 22 tahun sebanyak 49 mahasiswa atau 22,4 %. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment menunjukkan bahwa kesiapan psikologis dalam menghadapi bencana berhubungan dengan resiliensi pada mahasiswa dengan nilai korelasi sebesar 0,338. Dengan demikian, kesiapan psikologis dalam menghadapi bencana akan berbanding lurus dengan resiliensi. Dengan kata lain, mahasiswa yang memiliki kesiapan psikologis dalam menghadapi bencana yang tinggi akan memiliki resiliensi yang juga tinggi. Hubungan positif antara kesiapan menghadapi bencana dan resiliensi ditemukan pada beberapa penelitian (Hartini, 2017; Ni’am & Try, 2013). 

Hasil riset ini menunjukan bahwa kesiapan psikologis menghadapi bencana terbukti merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi resiliensi dalam menghadapi bencana. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa kesiapan psikologis dalam menghadapi bencana dapat membuat individu dapat merespon dampak-dampak bencana dengan baik, membuat masa pemulihan pasca-bencana menjadi lebih mudah di dalam prosesnya (Guterman, 2005), dan meningkatkan keselamatan hidup saat terjadi bencana (Herdwiyanti & Sudaryono, 2012). 

Penulis: Listyati Setyo Palupi, S.Psi. M. DevPract 

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: 

https://www.e3s-conferences.org/articles/e3sconf/abs/2020/62/e3sconf_icenis2020_12025/e3sconf_icenis2020_12025.html.

Listyati Setyo Palupi, S.Psi., M. DevPract & Muhammad Noor Rahman Himawan (2020). The Relationship between Social Support and The Psychological Well-being of Students Who Work Part-time. E3S Web Conf., 202 (2020) 12025. DOI: https://doi.org/10.1051/e3sconf/202020212025.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu