Infertilitas dan Keberhasilan FIV di Rumah Sakit Tipe A

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Pemkot Surabaya

Infertilitas adalah kondisi dimana pasangan gagal mendapatkan kehamilan setelah ≥ 12 bulan melakukan hubungan seksual secara teratur (minimal 2-3 kali / minggu) tanpa menggunakan alat kontrasepsi. Faktor penyebab dapat terjadi baik dari pihak laki laki (35%) maupun dari pihak perempuan (35-50%); sementara 10% penyebabnya tidak diketahui secara jelas (Fritz & Speroff, 2011). Infertilitas dapat diatasi salah satunya dengan cara fertilisasi in-vitro (FIV) atau dikenal dengan nama bayi tabung, yaitu sebuah proses pembuahan sel telur oleh sel sperma di luar tubuh seorang calon ibu. Adapun tingkat keberhasilan terapi FIV pada pasangan infertil tergantung dari beberapa factor, diantaranya adalah usia calon ibu (semakin meningkat usia, semakin menurun kualitas dan kuantitas cadangan sel telur), penyebab infertilitas (adanya faktor penyulit lain), kondisi embrio, riwayat reproduksi sebelumnya (pernah hamil atau pernah mempunyai anak), dan gaya hidup (Karsiyah, 2014; Andon et al, 2013). Di Taipei dilaporkan tingkat keberhasilan sebesar 47,7% calon ibu berhasil hamil, dan yang berhasil melahirkan anak 33,6% (Hsin-Fen et al, 2014). Sementara ini keberhasilan FIV atau bayi tabung jarang diungkap di rumah sakit di Indonesia.

Penelitian dilakukan dengan mengambil data dari semua rekam medis pasien yang menjalani terapi bayi tabung di rumah sakit type A di Surabaya pada Januari-Desember 2017.  Setelah memperoleh surat kelayakan etik, semua pasien yang memiliki data lengkap terkait pemeriksaan sperma, ovarium, tuba dan uterus (kandungan), calon ibu ≤39 tahun dianalisis terhadap tingkat keberhasilannya.  Dari 154 pasangan yang melakukan terapi FIV/bayi tabung, tercatat data usia calon ibu berkisar 30-39 tahun (rata-rata 32,6 tahun), dan 53% telah menikah > 5 tahun. Menurut data pemeriksaan terkait fungsi dan alat reproduksi 64,3% dari seluruh calon ibu mempunyai ≥1 abnormalitas; sedangkan 44,8% laki-laki (pasangannya) yang mempunyai abnormalitas; 26.6% pasangan mempunyai abnormalitas baik pada calon ibu maupun pasangannya, sementara  17,5% belum diketahui penyebabnya (unexplained infertility).

tingkat keberhasilan bayi tabung adalah sebesar 37,7%. Dari hasil uji statistik (Independent T-test), didapatkan bahwa rata-rata usia calon ibu yang berhasil mendapatkan kehamilan tidak berbeda dengan usia calon ibu yang gagal dalam terapi FIV/bayi tabung. Jadi sampai batas usia 39 tahun, usia calon ibu tidak mempengaruhi keberhasilan terapi FIV / bayi tabung. 

Dari hasil penelitian tersebut, keberhasilan terapi FIV / bayi tabung (37,7%) cukup optimistic bagi pasangan infertil di Indonesia dibandingkan negara maju seperti Taipei. Disarankan bagi pasangan yang belum berhasil memperoleh keturunan dianjurkan untuk tidak ragu-ragu segera memeriksakan diri dan pasangannya. Sebagai penutup, hasil penelitian ini menyatakan tidak benar bahwa penyebab infertilitas ada pada factor calon ibu / perempuan saja, abnormalitas pada laki-laki sebagai pasangan juga cukup berkontribusi pada kondisi infertilitas. Perlu kerjasama harmonis antar pasangan untuk melakukan terapi FIV / bayi tabung demi keberhasilan memperoleh buah hati. 

Penulis : Yuriske Agnovianto, Linda Dewanti, Sri Ratna Dwiningsih. 

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di http://www.ijphrd.com/issues.html

Yuriske Agnovianto, Linda Dewanti, Sri Ratna Dwiningsih (2020). Infertility Causing Factors & the Success Rate of inVitro Fertilization (IVF) in One of Fertility Center of Surabaya City, Indonesia.  Indian Journal of Public Health Research & Development, Volume 11 Number 2.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu