Estimasi Umur Manusia Melalui Metode Analisa Metilasi DNA Bite Marks dalam Identifikasi Forensik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi DNA Bite Marks. (Sumber: Crime Museum)

Pada kasus-kasus tertentu seperti kejahatan seksual seringkali didapatkan bekas gigitan/bite mark. Kehadiran bukti fisik seperti bite mark dalam kasus pemerkosaan, pembunuhan dan kekerasan dianggap sangat berharga. Bite mark adalah bukti paling umum dalam kasus pemerkosaan. Tanda ini juga berperan dalam menentukan jenis kekerasan fisik dan usia pelaku kriminal (Padmakumar et al, 2014 ; Prasad et al, 2013).

Proses identifikasi tersangka dengan bukti berupa bite marks umumnya dilakukan dengan membandingkan hasil foto interpretasi dengan model gigi dari tersangka yang dicurigai, meliputi analisa dan pengukuran ukuran, bentuk dan posisi dari masing-masing gigi (Van der V et al, 2006)  Namun hasil identifikasi dengan teknik ini belum didapatkan hasil yang akurat. Oleh karena itu perlu cara lain dalam mengidentifikasi bite marks yaitu dengan teknik irigasi pada bite marks kemudian dilakukan identifikasi DNA. Pada bite marks pemeriksaan DNA dapat diambil dari saliva, stain yang menempel, sisa-sisa epitel mukosa pada saliva dan sebagainya ( Kennedy, 2011).

Perkiraan usia berdasarkan methilasi DNA bite mark

Estimasi usia menggunakan pendekatan biomolekuler dapat dilakukan berdasarkan analisis perubahan pada sekuens DNA sel, DNA mitokondrial (mtDNA), dan juga perubahan epigenetik, yang tidak mempengaruhi DNA (Thomas C et al, 2017). Jaringan di rongga mulut, maupun gigi memiliki berbagai sel yang dapat menjadi sumber material genetik.1 Beberapa metode yang dapat diaplikasikan pada gigi dan dapat menunjukan korelasi dengan usia kronologis antara lain adalah aspartic acid racemization (AAR), mutasi DNA mitokondrial, pemendekan telomer, advanced glycation end-products (AGEs), dan metilasi DNA (Krishan K et al, 2015 : Giuliani, C et al, 2016).

Metilasi DNA adalah proses modifikasi dari karbon atom 5’ pada residu sitosin yang diikuti oleh guanin sehingga disebut dengan dinukleotida CpG(s)/CpGsites atau Proses replikasi dalam metilasi DNA hanya ditemukan pada posisi 5 cincin pirimidin dari sitosin dalam urutan CpG dinukleotida (Freire-Aradas et al, 2017 : Thomas C et al, 2017). Metilasi DNA merupakan cara modifikasi epigenetik yang terbaik dalam memperkirakan umur pada sampel biologis pada manusia. (Tost J, 2004 : Yi SH et al, 2014 ).

Perkiraan umur dalam proses identifikasi lebih sering menggunakan tulang dan gigi. Namun jika yang ditemukan hanya sisa-sisa benda yang pernah digunakan oleh korban/pelaku seperti benda-benda alat minum/makan contohnya bite marks ini. Sehingga metode yang digunakan dalam estimasi umur yakni melalui metilasi DNA (Yi SH et al, 2014).  Sejauh ini estimasi umur menggunakan metode metilasi DNA dengan menggunakan sampel bite marks belum banyak diketahui. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui estimasi umur melalui  analisa metilasi DNA pada bite marks.

Metode dan Hasil

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasiona analitik dengan rancang penelitian yang digunakan adalah crossectional. Sampel penelitian adalah bite marks pada gelas yang digunakan oleh sukarelawan.

Hasil ekstraksi-isolasi DNA dari bite mark mendapatkan rerata kadar DNA yakni 167,89 ± 85,71 g/ml dengan rerata kemurnian DNA sebesar 1,79 ± 0,71. Kesemua rerata DNA sampel  masih berada pada kisaran minimal kadar DNA untuk DNA typing yakni 0,25 ng dengan kemurnian 1,8 – 2.

Selanjutnya pemeriksaan melalui konversi bisulfit dan sekuensing. Hasil sekuensing dengan Applied Biosystems 3130 XL Genetic Analyzers dibaca dengan bioedit® (Applied B, 2015).  Dalam bentuk FASTA dihitung persentase CpG sites dianalisis menggunakan aplikasi online, Emboss Cpgplot (di situs http://www.ebi.ac.uk/Tools/seqstats/emboss_cpgplot/) (Tost J, 2004 : Eryatma RA et al, 2017) (Tabel 2).

Dari uji statistik menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara % metilasi DNA dan usia dalam jenis kelami laki-laki (r pearson 0,767) serta jenis kelamin perempuan (r pearson 0,878).

Secara rerata persentase metilasi DNA pada jenis kelamin laki-laki cenderung meningkat sejalan dengan kategorisasi umur, Sedangkan pada jenis kelamin perempuan persentase metilasi DNA dalam kategori umur rerata stabil atau konstan.. Ini sangat mungkin dipengaruhi oleh faktor gaya hidup, lingkungan, dan penyakit (Saputri RI, 2020).

Seiring bertambahnya usia, pola metilasi DNA secara bertahap menunjukan hipometilasi maupun hipermetilasi DNA pada bagian dari promoter-associate CpG island tertentu (Freire-Aradas et al, 2017 : Saputri RI, 2020). Hubungan antara metilasi DNA dan penuaan dapat dideskripsikan dalam dua bagian yaitu epigenetic drift dan epigenetic clock. Bagian epigenetic drift menunjukan berbagai variasi perubahan pada individu seiring pertambahan usia karena pengaruh lingkungan, sebaliknya bagian epigenetic clock hanya berhungan sangat erat dengan pertambahan usia, sehingga dapat digunakan untuk memprediksi usia kronologis individu (Jung SE et al, 2017 : Saputri RI, 2020). Seiring kemajuan teknologi, lebih banyak studi yang menunjukan bermacammacam biomarker metilasi DNA dan model prediksi usia dari berbagai jaringan seperti darah, saliva, semen, buccal swabs dan gigi ( Jung SE et al, 2017).

Proses metilasi DNA dapat menjadi proses yang dinamis, adanya keadaan hormon individu sangat mempengaruhi peran hidroksimetilasi sitosin. Penggunaan obat-obatan tertentu yang bersifat oksidatif dan antioksidan juga akan berpengaruh pada laju modifikasi histone. Ini dapat terjadi, misalnya, melalui mutasi sitosin dalam kasus mereka dimetilasi dalam sel normal. Tidak adanya sitosin termetilasi dapat menyebabkan modifikasi histone permisif dan memungkinkan gen untuk diekspresikan. Jenis mekanisme ini dapat mengubah fenotip dan perilaku sel. Penyakit neoplastik, degeneratif, metabolik, dan bahkan inflamasi akan menyebabkan stres oksidatif yang akan mempengaruhi aktivasi dan inaktivasi gen tertentu, serta ketidakstabilan genom, yang terjadi dengan mekanisme epigenetik juga. Tidak seperti mutasi genetik, epimutasi tidak mengubah urutan dasar DNA dan berpotensi reversibel (Niedhart M, 2017).

Penyakit-penyakit tertentu seperti neoplastik, degeneratif, metabolik, inflamasi dapat menimbulkan stress oksidatif yang mempengaruhi aktivasi gen, seperti halnya epigenetik-metilasi DNA (Saputri RI, 2020).

Penulis : Ahmad Yudianto

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://www.scimagojr.com/journalsearch.php?q=19700174971&tip=sid&clean=0

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu