Pengaruh Kepemimpinan Partisipatif Terhadap Kinerja Melalui Pemberdayaan Psikologis dan Trust-in-Supervisors

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh silabus.web.id

Dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional, perusahaan pengembang industri pupuk terus didorong untuk mengembangkan industri pupuk dalam negeri. Pupuk merupakan salah satu produk penting dari sektor pertanian yang dapat memberikan kontribusi sebesar 20% bagi keberhasilan peningkatan produksi pertanian dan memberikan kontribusi 15-30% terhadap struktur biaya usahatani padi. Menteri Perindustrian Airlangga Hartato menegaskan, untuk mengembangkan industri pupuk nasional telah dirumuskan sebagai kebijakan pendukung. Salah satu kebijakan yang diusulkan adalah revitalisasi industri pupuk. Airlangga Hartato mengatakan, mengingat persaingan di bisnis pupuk internasional (khususnya produk urea), revitalisasi sangat mendesak untuk dilakukan. Selama ini kapasitas produksi urea nasional mencapai 8 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan eksisting lebih tinggi, yakni 9 juta ton per tahun.

Persaingan yang ketat di industri pupuk menyebabkan perusahaan induk milik negara PT. Pupuk Indonesia (Persero) telah merumuskan banyak strategi. Hal ini bisa disebabkan banyaknya pabrik baru yang bermunculan di luar negeri dan diuntungkan dengan harga gas yang murah sehingga harga pabrik di luar negeri lebih kompetitif. Direktur Utama PT. Pupuk Indonesia (Persero) Aas Sadikin juga mengatakan, harga gas sebagai bahan baku pupuk saat ini berkisar US $ 6-7 per juta metrik British thermal unit (MMBTU). Sedangkan harga gas pesaing berada di bawah harga tersebut. Dengan begitu kelancaran distribusi pupuk harus tetap dijaga oleh industri pupuk karena kestabilan harga bahan baku gas juga berpengaruh pada stabilitas lainnya. Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2010 tentang Revitalisasi Industri Pupuk, PT. Pupuk Indonesia (Persero) melakukan revitalisasi dalam dua tahap untuk lima pabrik pupuk di Indonesia dan salah satunya PT. Petrokimia Gresik. PT. Petrokimia Gresik tidak hanya bertugas menyediakan dan mendistribusikan pupuk bersubsidi, tetapi juga berperan sebagai akselerator kemajuan bidang pangan di Indonesia. Tantangan bisnis yang semakin beragam menjadi pendorong bagi PT. Petrokimia Gresik bertransformasi untuk mempertahankan eksistensinya dan terus meningkatkan daya saingnya. Untuk memenangkan persaingan bisnis, PT. Petrokimia Gresik perlu mengantisipasi hal-hal terkait produk non subsidi melalui upaya-upaya seperti promosi yang lebih agresif, mendekatkan produk ke konsumen, serta meningkatkan kualitas produk dan efektifitas biaya.

Persaingan ketat di industri pupuk telah terjadi di induk perusahaan BUMN PT. Pupuk Indonesia (Persero) telah merumuskan banyak strategi. Hal ini bisa disebabkan banyaknya pabrik baru yang bermunculan di luar negeri dan diuntungkan dengan harga gas yang murah sehingga harga pabrik di luar negeri lebih kompetitif. Direktur Utama PT. Pupuk Indonesia (Persero) Aas Sadikin juga mengatakan, harga gas sebagai bahan baku pupuk saat ini berkisar US $ 6-7 per juta metrik British thermal unit (MMBTU). Sedangkan harga gas pesaing berada di bawah harga tersebut. Dengan begitu kelancaran distribusi pupuk harus tetap dijaga oleh industri pupuk karena kestabilan harga bahan baku gas juga berpengaruh pada stabilitas lainnya. Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2010 tentang Revitalisasi Industri Pupuk, PT. Pupuk Indonesia (Persero) melakukan revitalisasi dalam dua tahap untuk lima pabrik pupuk di Indonesia dan salah satunya PT. Petrokimia Gresik. PT. Petrokimia Gresik tidak hanya bertugas menyediakan dan mendistribusikan pupuk bersubsidi, tetapi juga berperan sebagai akselerator kemajuan bidang pangan di Indonesia. Tantangan bisnis yang semakin beragam menjadi pendorong bagi PT. Petrokimia Gresik bertransformasi untuk mempertahankan eksistensinya dan terus meningkatkan daya saingnya. Untuk memenangkan persaingan bisnis, PT. Petrokimia Gresik perlu mengantisipasi hal-hal terkait produk non subsidi melalui upaya-upaya seperti promosi yang lebih agresif, mendekatkan produk ke konsumen, serta meningkatkan kualitas produk dan efektifitas biaya.

Kepemimpinan partisipatif diartikan sebagai perilaku yang mengacu pada gaya kepemimpinan dimana atasan mendorong bawahannya untuk mengambil tanggung jawab tertentu di tempat kerja (Newman et al., 2016). Melalui pemberian dukungan, dorongan, dan pengaruh dari pimpinan partisipatif, akan memudahkan keterlibatan bawahan dalam proses pengambilan keputusan. Kepemimpinan partisipatif dikenal partisipatif ketika berkonsultasi dengan bawahan, ketika mendapatkan ide dan pendapat dan ketika mengintegrasikan saran mereka ke dalam keputusan tentang bagaimana organisasi akan bekerja (Rana et al., 2019).

Penerapan kepemimpinan partisipatif akan melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan dengan menimbulkan perasaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki peran dalam organisasi. Pemberdayaan psikologis dikonseptualisasikan sebagai bentuk motivasi intrinsik untuk melakukan pekerjaan tersebut. Pemberdayaan psikologis merupakan proses yang memicu rasa self-efficacy di antara karyawan di mana praktik organisasi formal dan teknik informal dalam memberikan informasi yang efektif menghilangkan semua faktor yang memperkuat ketidakberdayaan (Iqbal et al., 2020). Pemberdayaan psikologis akan terkait dengan sikap karyawan yang relatif didasarkan pada kebutuhan karyawan yang semakin berdaya. Hal ini cenderung mendorong pemberdayaan psikologis dalam arti kesetaraan, keadilan, dan akuntabilitas. Dengan kata lain, karyawan yang merasa diberdayakan di tempat kerja akan mengembangkan orientasi aktif daripada pasif terhadap peran pekerjaan mereka (Guerrero et al., 2018).

Mengacu pada model exchange-based yang dikemukakan oleh Huang et al., (2010), terlihat jelas bahwa kepemimpinan partisipatif berdampak positif terhadap kinerja yang difokuskan pada hubungan timbal balik antara pemimpin dan karyawan. Model berbasis pertukaran menekankan bahwa perilaku kepemimpinan partisipatif memberikan pesan bahwa supervisor memiliki kepercayaan diri dan rasa hormat kepada karyawannya. Melalui supervisor diharapkan karyawan dapat menumbuhkan kepercayaan sehingga karyawan dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik. Kepercayaan penting untuk hubungan sosial yang stabil dan kepercayaan pada supervisor bagi karyawan akan secara langsung mempengaruhi kualitas layanan (Birkenmeier & Sanséau, 2016). Selain itu, menurut Silla et al., (2020) kepercayaan juga dapat membuat karyawan merasa bebas untuk berbicara jujur ​​karena kepercayaan melibatkan risiko bahwa pihak lain mungkin tidak dapat memenuhi harapan tersebut. Penelitian ini berfokus pada kepercayaan pada supervisor, termasuk pimpinan langsung dan manajemen eksekutif. sebagai target kepercayaan. Ini juga akan mengacu pada karyawan yang dapat menciptakan pekerjaan berkualitas baik dan mendukung perusahaan yang tumbuh secara berkelanjutan. Karena keberlanjutan sangat penting bagi organisasi yang terkait dengan kinerja ekologi, sosial, dan ekonomi (Pislaru et al., 2019).

Untuk mempercepat pertumbuhan yang berkelanjutan dan memenangkan persaingan di pasar bebas, khususnya di industri pupuk, PT. Petrokimia Gresik berkomitmen untuk membangun keunggulan kompetitif yang tinggi. Oleh karena itu PT. Petrokimia Gresik berkomitmen untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk membentuk tenaga kerja yang produktif dan profesional yang mampu menciptakan nilai tambah dan melewati tantangan yang akan terjadi. Melalui pengaruh kepemimpinan partisipatif, pemberdayaan psikologis, trust-in-supervisor diharapkan mampu menciptakan kinerja yang tinggi yang merupakan aspek penting bagi perusahaan. Adanya penelitian ini membutuhkan peran persuasif dari pimpinan untuk memotivasi karyawan dan menyampaikan bahwa sekecil apapun kontribusi karyawan tersebut pada akhirnya akan tetap berpengaruh terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan sehingga karyawan akan merasa dihargai dan dihargai. pekerjaan mereka menjadi bermakna.

Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dan dianalisis, diperoleh kesimpulan bahwa kepemimpinan partisipatif berpengaruh signifikan terhadap kinerja pada PT. Petrokimia Gresik, Kepemimpinan partisipatif berpengaruh signifikan terhadap pemberdayaan psikologis pada PT. Petrokimia Gresik, Pemberdayaan psikologis berpengaruh signifikan terhadap kinerja pada PT. Petrokimia Gresik, Kepemimpinan partisipatif berpengaruh signifikan terhadap kinerja melalui pemberdayaan psikologis pada PT. Petrokimia Gresik, Kepemimpinan partisipatif berpengaruh signifikan terhadap trust-in-supervisor di PT. Petrokimia Gresik, Trust-in-supervisor berpengaruh signifikan terhadap kinerja pada PT. Petrokimia Gresik, kepemimpinan partisipatif berpengaruh signifikan terhadap kinerja melalui trust-in-supervisor di PT. Petrokimia Gresik. Menurut Qing et al., (2019) kinerja dapat memastikan terwujudnya tujuan bisnis dan operasional perusahaan melalui sumber daya manusia yang tepat, yang merupakan salah satu keunggulan kompetitif yang tersedia untuk meningkatkan kinerja yang dapat mempengaruhi hasil organisasi. Dalam penelitian ini perusahaan menggunakan pengaruh variabel kepemimpinan partisipatif, pemberdayaan psikologis, dan trust-in-supervisors dalam mempengaruhi peningkatan kinerja sumber daya manusia di perusahaan. Dengan begitu, PT. Petrokimia Gresik dapat menjadi acuan karyawannya dalam menciptakan kualitas kerja yang baik dan mendukung perusahaan yang tumbuh secara berkelanjutan.

Berdasarkan hasil penelitian melalui pembahasan dan kesimpulan dari penelitian ini, penelitian ini dapat dijadikan sebagai rekomendasi oleh manajemen perusahaan dalam mengukur pengaruh kepemimpinan partisipatif terhadap kinerja melalui pemberdayaan psikologis dan trust-in-supervisors. Diketahui bahwa hal itu juga dapat mempengaruhi dalam memfasilitasi keterlibatan bawahan dalam proses pengambilan keputusan, memberikan informasi yang secara efektif menghilangkan semua faktor yang memperkuat ketidakberdayaan, memberi karyawan kesediaan untuk mengandalkan janji, tindakan, perkataan, atau niat terhadap langsung mereka. atasan, dan dapat menciptakan produktivitas yang tinggi.

Selain itu diketahui bahwa hasil rata-rata variabel kinerja terkecil adalah 3,97 tentang pendapat karyawan dalam memberikan ide untuk menyelesaikan masalah yang muncul. Meski masih dalam kategori baik, namun hasil tersebut menunjukkan rata-rata terkecil. Oleh karena itu, disarankan agar karyawan lebih aktif dalam memberikan ide, terutama dalam menyelesaikan suatu masalah yang mungkin terjadi saat melakukan pekerjaan. Karena dengan begitu karyawan akan merasakan perilakunya di tempat kerja semakin baik dan dapat memaksimalkan perilaku dan sumber daya kerjanya.

Penulis : Prof. Dr. Anis Eliyana, S.E., M.Si

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

http://www.sysrevpharm.org/fulltext/196-1607718433.pdf?1610659641

(The Effect of Participatory Leadership on Performance through Psychological Empowerment and Trust-in-Supervisors)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu