Posisi Strategis Sekolah Melakukan Pemantauan Status Kesehatan Siswa Sekolah Dasar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Dinkes Bantul

Sekolah merupakan tempat yang memberikan pendidikan bagi siswa/peserta didik. Akan tetapi sebenarnya sekolah tidak hanya memberikan pendidikan sesuai kurikulum nasional yang ditetapkan. Sekolah juga bisa memberikan pelayanan kesehatan dan pemantauan status kesehatan siswa. Sebagai institusi yang sangat strategis mulai dari tingkat SD (Sekolah Dasar) sampai dengan  SMA dengan menerapkan kegiatan UKS (Upaya Kesehatan Sekolah), sekolah mempunyai peran yang sangat penting dalam melakukan pemantau status kesehatan siswa. Kesehatan siswa haruslah selalu dipantau selain untuk memaksimalkan proses pendidikan sehingga siswa bisa mendapatkan pelajaran di sekolah juga memaksimalkan proses pembelajaran di sekolah. Anak yang sehat tentunya lebih mudah menerima pelajaran di sekolah dibandingkan dengan anak yang kurang gizi atau tidak sehat. 

Potret kesehatan anak usia SD masih belum menunjukkan kondisi yang sehat, baik dari asupan makanannya ataupun status gizinya. Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa anak usia 10-14 tahun atau anak usia SD pada laki-laki dan perempuan menunjukkan kurang makan sayur dan buah serta mengonsumsi makanan yang tidak sehat seperti makanan yang berpenyedap dan serba instan. Kurangnya asupan makanan bergizi akan mempengaruhi tingkat status gizi dan kesehatan anak. Prevalensi pendek (TB/U) pada anak usia 5-12 tahun mencapai 30,7% dan prevalensi kurus (IMT/U) anak usia 5-12 tahun sebesar 11,2%. Kondisi anak dengan gizi kurang dapat mengakibatkan anak mudah lelah, daya fikir menurun  dan daya tahan tubuh menurun yang bisa mengakibatkan anak sakit dan tidak masuk sekolah. Secara nasional masalah kegemukan pada anak umur 5-12 tahun masih tinggi di Indonesia yaitu 18,8%, terdiri dari gemuk 10,8% dan sangat gemuk (obesitas) 8,8%. Obesitas merupakan masalah yang sedang banyak terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Peningkatan prevalensi obesitas pada anak usia sekolah akan memiliki dampak kesehatan negatif di masa kecil, serta dalam jangka panjang bisa berisiko lebih tinggi menjadi obesitas di masa dewasa serta terjadi Non Communicable Disease (NCD) di kemudian hari.

Pemantauan status kesehatan di Sekolah Dasar (SD) merupakan salah satu upaya dalam penerapan continuum of care dimana pemantauan kesehatan ini merupakan proses yang berkelanjutan sejak pra konsepsi sampai lansia. Upaya pemantauan ini memerlukan adanya pencatatan status kesehatan yang rutin dan terus menerus sehingga bisa memberikan gambaran status kesehatan seseorang secara utuh mulai dari bayi sampai dengan lansia. Pencatatan kondisi kesehatan sangat diperlukan dalam pelaksanaan konsep continuum of care. Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2015 telah menetapkan untuk melakukan pemantauan kesehatan siswa dengan menggunakan rapor kesehatan siswa dimana salah satunya dilakukan di tingkat SD. Kegiatan pemantauan kesehatan siswa ini merupakan salah satu kegiatan dari kegiatan UKS yang dilakukan bersama Puskesmas. Sekolah merupakan tempat yang strategis dalam melakukan upaya ini. Hanya saja pada faktanya kondisi tiap sekolah tidak sama dalam pelaksanaannya baik di SD negeri ataupun swasta. Pelaksanaan di sekolah sangat dipengaruhi dengan kesiapan sekolah untuk menerapkan sistem pencatatan status kesehatan siswa apalagi disertai dengan pemeriksaan fisik dan beberapa status kesehatan siswa. Kendala yang ditemui disekolah salah satunya adalah ketersediaan guru dan sarana pendukung yang bertanggungjawab untuk pelaksaan kegiatan.    Mayoritas sekolah memberikan tanggung jawab kepada guru pembina UKS dimana guru ini tidak hanya khusus bertugas menangani UKS tapi juga mempunyai tugas lain di sekolah seperti sebagai guru olahraga ataupun guru mata pelajaran sehingga hal ini juga mempengaruhi beban/tugas guru tersebut. 

Status kesehatan siswa meliputi riwayat kesehatan sejak lahir, perilaku jajan, berat badan, tinggi badan, kesehatan gigi, kesehatan mata, imunisasi, kesehatan reproduksi, kesegaran jasmani, dan status gizi. Selain itu berkaitan dengan kemampuan belajar dan kesehatan emosional juga dideteksi melalui pemeriksaan dan pencatatan buku rapor kesehatan.  Pemeriksaan ini bekerjasama dengan Puskesmas yang merupakan salah satu kegiatan rutin di sekolah.  Praktek pencatatan kesehatan siswa di sekolah dasar saat ini memang belum intensif menjangkau seluruh siswa di sekolah. Pelaksanaannya belum serentak di semua sekolah, tergantung kesiapan tiap sekolah. Sekolah perlu menyiapkan sumber daya dan sarana prasarana dalam melakukan pemantauan kesehatan siswa supaya bisa mengidentifikasi kondisi kesehatan siswa dengan baik. Selain itu sekolah bisa secara terus menerus melakukan dan sebagai upaya monitoring status kesehatan bahkan diharapkan bisa mencegah masalah kesehatan yang lebih berat. Apabila ditemukan kondisi yang tidak normal/sakit maka bisa segera dirujuk ke pelayanan kesehatan. Perlu juga disiapkan sistem pencatatan yang mudah dilakukan, cepat dan efektif sehingga tidak menambah beban guru, dan tenaga kesehatan. Memang dalam pelaksanaannya kegiatan UKS ini  dibantu oleh dokter kecil atau kader lingkungan yang ada di sekolah karena pemeriksaan yang dilakukan cukup banyak pada tiap siswa.

Pelaksanaan trias UKS yang meliputi pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat perlu diintensifkan. Kegiatan UKS tersebut tidak dilakukan secara terpisah tetapi bisa terintegrasi dengan kurikulum di sekolah. Tidak hanya melakukan pemeriksaan kesehatan tetap juga pendidikan kesehatan dan mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat. Peran penting dan strategis sekolah ini akan sangat membantu dalam mewujudkan kesehatan siswa yang merupakan aset penerus bangsa. Pengoptimalan dan penyiapan sekolah menjadi faktor yang sangat penting untuk mewujudkannya.

Penulis : Yuly Sulistyorini

Detail tulisan ini dapat diakses di: http://produccioncientificaluz.org/index.php/opcion/article/view/30838

The Importance of Student Health Record Books In School To Realize Children’s Health. Soenarnatalina Melaniani,Yuly Sulistyorini, Mahmudah, Diah Indriani. Opcion, Año 35, Nº Especial 22 (2019): 2899-2921

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu