Perilaku Knowledge Sharing di Antara Self-Leaddership dan Perilaku Inovatif

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi leadership. (Sumber: Training Industry)

Salah satu produk yang ternyata produk ramah lingkungan yang terbuat dari bahan alami yang berasal dari alam, salah satunya jam tangan. Produk ini bisa dikatakan sebagai eco watch yang inovatif. Istilah eco watch sendiri merupakan produk yang ramah lingkungan, hal ini dikarenakan Matoa dalam memproduksi produk dengan menggunakan bahan skrap industri kayu pilihan (wood industry waste). Pasalnya, limbah kayu ebony tidak mudah rusak terutama tidak mudah bolong atau tropos. Selain itu spesies ini termasuk kayu berwarna hitam, kuat dan nampak memiliki daya tarik tersendiri sehingga lebih berkesan premium nan eksotis dan elegan jika dilihat. Alasan lain dibuat dari limbah kayu.

Proses untuk mendapatkan sesuatu yang unik dan memiliki daya tarik tersendiri membutuhkan perilaku yang inovatif. Perilaku inovatif adalah kemampuan individu dalam menyelesaikan tugas dan tugas menggunakan cara kerja yang menggabungkan prosedur, praktik, dan teknik. Perilaku inovatif dari perilaku individu yang difokuskan setiap orang pada keadaan, penyampaian, dan penerapan hal-hal baru yang akan membawa manfaat dalam organisasi. Dapat menyampaikan sesuatu yang baru berupa ide atau teknologi kreatif dalam pengembangan produk baru dan pengembangan administrasi dengan tujuan utama meningkatkan hubungan kerja (Haseeb et al., 2020).

Ada dua (2) faktor yang membentuk perilaku stimulus inovatif yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dapat dilihat dari tipe kepribadian dan gaya individu dalam menyelesaikan masalah. Faktor eksternal dalam hal ini kepemimpinan, dukungan ber inovasi, dan tuntutan psikologis pekerjaan. Dalam penelitian ini yang lebih difokuskan pada faktor internal yaitu knowledge sharing self-efficacy (Hsiao, Brouns, Bruggen, & Sloep 2012), self-leadership (Asfar B, Mamoon M 2017); Carmeli 2006), dan perilaku berbagi pengetahuan (Tseng, & Kuo, 2014; Ofori, Osei, Mensah, Affum, 2015).

Perilaku berbagi pengetahuan atau knowledge sharing behavior adalah aktivitas atau proses di mana pengetahuan tacit dan eksplisit disampaikan atau untuk semua individu lainnya (Becerra et al 2016). Menurut (Madanchian, M et al 2015) knowledge sharing sangat penting karena dapat menjadi daya saing bagi perusahaan, dalam hal ini inovasi diperoleh dari sharing knowledge dari satu orang ke orang lain dalam suatu organisasi. Dengan sharing knowledge tersebut maka dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kompetensi individu dalam organisasi.

Di sisi lain, selain sebagai stimulus perilaku inovasi ternyata knowledge sharing self-efficacy dan self leadership sebagai antecendents dari knowledge sharing behavior. Perilaku berbagi pengetahuan dapat digambarkan sebagai bagian dari rumusan strategi yang dirumuskan untuk mengurangi atau menghindari hambatan yang akan terjadi baik di dalam organisasi maupun di luar organisasi, baik oleh organisasi maupun karyawan itu sendiri. Pengolahan pengetahuan dapat dilakukan melalui perilaku berbagi pengetahuan yang merupakan persyaratan wajib yang dimiliki oleh suatu organisasi, karena organisasi yang memiliki kepercayaan pada kemampuan menyerap pengetahuan dapat mengelolanya dan memanfaatkan pengetahuan pada sumber daya yang akan menghasilkan keunggulan kompetitif yang akan memiliki berdampak pada keberadaan organisasi yang bekerja di tengah persaingan dan perubahan yang tidak dapat diprediksi.

Faktor internal lainnya, yaitu knowledge sharing self-efficacy menurut (Kurbago 2010) “keyakinan efikasi memainkan peran sentral dalam regulasi kognitif motivasi”. Dalam hal ini khasiat mempunyai peranan penting dalam mengatur motivasi seseorang. (Kurbago, S 2010) “Perceived self-efficacy memberikan kontribusi terhadap motivasi ”, yang artinya efikasi seseorang mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku individu, salah satunya adalah motivasi. Self-efficacy dalam penelitian ini dijelaskan ke tiga (3) Dimensi self-efficacy magnitude, generality and strength.  Magnitude itu sendiri adalah suatu tingkatan atau tingkatan dimana seseorang percaya bahwa usaha atau perilaku dapat dilakukan.

Strength adalah suatu kepercayaan diri yang ada dalam diri individu yang dapat mewujudkan untuk mendapatkan kinerja individu Generality adalah kebebasan dari bentuk efikasi diri yang ada pada diri individu untuk digunakan dalam situasi lain yang berbeda-beda. Jadi dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat efikasi diri individu maka semakin tinggi pula tingkat penyesuaian diri individu terhadap situasi tersebut. Berbagi pengetahuan merupakan persepsi individu tentang efikasi diri yang akan mampu menunjukkan keyakinannya bahwa berbagi perilaku atau tindakan. Berbagi pengetahuan efikasi diri dapat mempengaruhi tindakan yang akan dilakukan, jumlah usaha dan ketahanan ketika menghadapi rintangan atau kesulitan. Jadi bisa dikatakan orang dengan self-efficacy tinggi memilih berbisnis lebih besar dan pantang menyerah. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat self-efficacy individu maka semakin tinggi pula tingkat penyesuaian individu terhadap situasi yang dihadapi.

Knowledge sharing merupakan persepsi individu tentang self-efficacy akan mampu melaksanakan keyakinannya yaitu berbagi perilaku atau tindakan. Self-efficacy berbagi pengetahuan dapat mempengaruhi tindakan yang akan dilakukan, jumlah usaha dan ketahanan ketika menghadapi hambatan atau kesulitan. Jadi bisa dikatakan orang dengan self-efficacy tinggi memilih berbisnis lebih besar dan pantang menyerah. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat self-efficacy individu maka semakin tinggi pula tingkat penyesuaian individu terhadap situasi yang dihadapi.

Self Leadership adalah suatu proses yang mempengaruhi diri (mempengaruhi diri) melalui suatu perilaku atau tindakan yang mungkin atau dapat dilakukan oleh individu atau seseorang untuk mencapai suatu tujuan (pengarahan diri sendiri) dan motivasi (motivasi diri) diperlukan untuk menyelesaikannya. pekerjaan (Manz, 1986, Manz dan Neck, 2004). Self Leadership terdiri dari strategi perilaku dan kognitif khusus yang dirancang untuk mempengaruhi kepribadian secara efektif. Secara umum dalam strategi ini dikelompokkan menjadi tiga kategori utama, yaitu strategi yang berpusat pada perilaku (behaviour focus strategy), strategi reward natural, dan pola berpikir strategis konstruktiff (strategi pola pikir konstruktif) (Manz dan Neck, 2004).

Von Glinow di sisi lain, menyebutkan bahwa self leadership meliputi latihan mental (latihan mental), mendesain reward natural, memantau diri sendiri (self monitoring), self-reinforcement dan self-cueing. Bagian pertama dalam Self Leadership adalah mengembangkan ekspektasi untuk pekerjaan seseorang (penetapan tujuan pribadi). Bagian ini mengidentifikasi harapan partikuler yang ingin dicapai, harapan yang relevan dan menantang. Yang membedakan kasus ini adalah ekspektasi itu sendiri yang disusun, jadi bukan hasil diskusi bersama dengan atasan atau rekan kerja. (Mc Shane & Von Glinow, 2003), langkah selanjutnya adalah pola pikir konstruktif (Constructive Think Pattern). Jadi sebelum memulai suatu kegiatan dan kapan orang akan melaksanakannya, karyawan hendaknya memiliki pemikiran positif tentang pekerjaan dan juga penyelesaian pekerjaan. Sehingga karyawan akan lebih termotivasi dan siap menyelesaikan pekerjaan setelah melakukan ‘self-talk positif’ dan ‘mental imagery’ (Mc Shane & Von Glinow, 2003).

Self-efficacy berbagi pengetahuan dan kepemimpinan diri merupakan anteseden dari perilaku berbagi pengetahuan, karena kedua variabel ini memiliki pengaruh. Knowledge sharing self efficacy dan self leadership memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku inovatif, artinya karyawan pada produk klasik ini menerapkan budaya berbagi baik informasi maupun dalam aktivitas positif, serta self leadership seseorang yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan, sehingga dengan saling berbagi pengetahuan dan self leadership yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan akan secara langsung meningkatkan perilaku inovatif. Lain halnya dengan self-efficacy of knowledge sharing yang tidak dapat secara langsung mempengaruhi perilaku inovatif, dapat dikatakan bahwa karyawan pada produk klasik ini kurang percaya diri dengan kemampuannya.

Penulis : Anis Eliyana

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://jssidoi.org/jssi/papers/papers/download/504

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu