Manajemen Intervensi Nyeri menggunakan Ultrasonografi pada Nyeri Kronik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Alodokter

Nyeri merupakan alasan yang paling sering digunakan dalam mendatangi fasilitas kesehatan untuk mencari pertolongan medis. Nyeri kronik didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai nyeri yang terus-menerus selama 3-6 bulan. Nyeri ini menjadi masalah besar dalam beban kesehatan, sosial, dan keuangan yang signifikan pada tatanan masyarakat. Nyeri ini secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup. Nyeri kronik dapat menjadi penyebab utama hilangnya produktivitas, penurunan kinerja, dan ketidakhadiran dari pekerjaan. Laporan terbaru menyimpulkan bahwa nyeri kronik mempengaruhi sekitar 20% dari populasi dunia. Ultrasonografi (USG) dalam beberapa waktu terakhir mendapat banyak perhatian karena banyak digunakan dalam manajemen intervensi nyeri atau Interventional Pain Management (IPM), khususnya nyeri kronik. USG memiliki banyak keunggulan dibandingkan pencitraan radiografi bila digunakan untuk IPM. 

Ultrasonografi (USG) digunakan untuk aplikasi klinis sistem muskuloskeletal, baik untuk tujuan diagnosis maupun terapi. USG dapat diterapkan di beberapa area sistem muskuloskeletal dari mulai kepala sampai kaki dan berbagai sendi. USG memiliki banyak manfaat dalam IPM. Penggunaan tekhnik pencitraan USG memungkinkan manajemen intervensi nyeri dilakukan di samping tempat tidur, di bangsal atau bahkan di unit perawatan intensif, dan memungkinkan untuk mendapatkan visualisasi yang baik dari otot, pembuluh darah, saraf dan jaringan ikat. 

USG memungkinkan untuk mendapatkan visualisasi target dalam IPM yakni untuk membantu melihat pergerakan jarum, dan melihat penyebaran larutan yang diinjeksikan secara langsung dan real time. Teknik ini telah diklaim dapat mengurangi dosis terapi yang akan digunakan, melakukan blok selektif dengan akurasi yang lebih tinggi karena visibilitasnya terhadap target intervensi dan visibilitas larutan yang diinjeksikan. Injeksi yang dipandu oleh USG lebih efektif dibandingkan dengan injeksi yang menggunakan panduan Landmark.USG aman bagi operator dan subjek karena tidak ada paparan radiasi, yang merupakan potensi bahaya utama yakni penggunaan fluoroskop atau CT scan pada IPM, tidak ada persyaratan area terpisah untuk melakukan blok saat menggunakan USG, dan ini merupakan satu-satunya peralatan panduan pencitraan yang sesuai untuk digunakan selama kehamilan.

USG sangat populer dalam manajemen nyeri kronik. Hal ini menjelaskan bahwa USG merupakan alat yang sangat berguna dengan teknik pencitraan yang menjanjikan dalam manajemen nyeri kronik, membantu untuk memandu jarum dalam mencapai target suntikan dan memastikan penyebaran larutan injeksi di sekitar target suntikan. USG bermanfaat dalam manajemen intervensi nyeri, tetapi juga memiliki beberapa keterbatasan. Diperlukan uji klinis lebih lanjut untuk menyelidiki lebih lanjut kemanjuran dan keamanan prosedur nyeri yang dipandu oleh USG.

Penulis : Hanik Badriyah Hidayati

Detail tulisan lengkap dapat dilihat di : Hanik Badriyah Hidayati. 2020. Ultrasound and management strategies in chronic pain. Journal of Anaesthesia, Pain and Intensive Care. Vol 24 Issue 6. Link artikel lengkap : https://www.apicareonline.com/index.php/APIC/article/view/1393

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu